Rabu, 16 Juli 2014

IsLAM dihujat (KITAB SUCI)

KITAB SUCI
Kenapa kalian mengingkari
ayat-ayat Allah...?

 

KEBIASAAN MERUBAH
 
Dalam pembahasan agama-agama samawi maka keberadaan wahyu adalah mutlak. Nabi Musa yang ajarannya kemudian menjadi agama Yahudi juga mendapatkan wahyu dari Allah. Hanya saja umat Yahudi lebih mengunggulkan komentar atas wahyu-wahyu tersebut ketimbang wahyu itu sendiri. Maka tidak heran jika umat Yahudi sekarang lebih menyukai Talmud dengan meninggalkan Taurat. Sedangkan Talmud tersusun berdasarkan dua komentar atas Taurat yang terkenal yaitu Mishnah dan Gemara.1 Taurat sendiri yang kini dipegang umat Kristen banyak berisikan hal-hal yang sangat mustahil jika dikatakan sebagai ayat-ayat Allah. Sebagai contoh dalam Yehezkie123 :1-21, berisi ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan di dalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak-anak di bawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut (maaf) buah dada, buah zakar, menjamah-jamah, birahi, dan lain-lain, contohnya :
 
(ayat.3) "Mereka bersundal pada masa mudanya; di sana susunya dijamah jamah dan dada keperawanannya dipegang -pegang".
 
Ayat yang selanjutnya 5, 8, 11, 18, 20, 21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang tidak sepantasnya ditulis bahkan di dalam buku ini. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan adanya perubahan atas ayat-ayat yang diturunkan pertama kali. Kembali pada Taurat, setelah kepunahannya, kitab ini pertama kali ditulis antara tahun 536-456 SM. oleh pendeta Ezra yang masuk dalam Perjanjian Lama sebagai "The book of Ezra".2 Kitab Perjanjian Lama tertulis dalam bahasa Ibrani, walaupun ada beberapa yang tertulis dalam bahasa Aramaik seperti pada Jeremiah 10:2, Daniel 2:4-7:28, Ezra 4:8-6:16 dan 7:12-26. Penyalinan ke dalam bahasa Yunani (Aleksandria) dilakukan sejak abad III SM. namun pengerjaannya secara lengkap baru selesai sekitar abad I M. inilah yang dikenal sebagai "Septuagint" yaitu kitab Perjanjian Lama tertua dan paling umum. Selain ini ada penyalinan lain seperti versi Siriak yang dikerjakan dari abad II SM hingga abad II M. juga versi Coptik dan Ghotik yang bersumber dari Septuagint. Baru pada tahun 382-405 M, St. Jerome menyalin ke dalam bahasa Latin yang bersumber dari versi Ibrani dan Yunani yang kemudian dikenal sebagai "Vulgate”.3  Kini naskah tertua kitab Taurat (Perjanjian lama) yang dimiliki oleh Gereja adalah yang tertulis sekitar tahun 1005. maka Kitab Perjanjian Lama yang paling modern berdasarkan salinan yang dikeijakan oleh para Masoret (yaitu kelompok penulis kitab suci Yahudi) ini.4 Penyalinan dari satu bahasa Re bahasa lain tidak menutup kemungkinan adanya perubahan. Hal ini semakin jelas dengan ditemukannya gulungan naskah kitab suci di Gua Qumran del:at.laut mati (The Dead Sea Scrolls). Jeffery L. Sheller & Joannie M. Schorf dalam komentarnya tentang The Dead Sea Scrolls menyatakan:

"Satu gulungan secara dramatis menunjukkan minimal satu kitab Perjanjian Lama telah berrrbah melalui abad-abad penyalinan Naskah gulungan kitab Yesaya pasal 66 - diantaranya tersimpan lerrgkap di perpustakaart Qumran-ditemukan 13 perbedaan minor dari teks modern". 5

Injil yang masuk dalam kitab Perjanjian Baru, tidaklah mengalami nasib yang lebih baik. Akibat pemaksaan doktrin trinitas pemakaian kosa kata dalam injil berubah, berikut ayat-ayat sisipan yang dapat merancukan paham monoteisme sebagai ajaran asli Yesus. Menurut Theodore Zahn, sebagaimana dikutip oleh E.J. Goodspeed di dalam The Apostolic Fathers, menjelaskan bahwa sampai sekitar tahun 250 M Kalimat keimanan itu masih berbunyi: “Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa”. Antara tahun tahun 180 M sampai dengan tahun 210 M ada yang menambah kata "Bapa" di depan kata "Yang Maha Kuasa": Tindakan ini dikecam keras oleh beberapa tokoh-tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan yang mencemari kemurnian kitab suci dan menentang pendapat yang mengatakan bahwa Yesus itu adalah oknum Tuhan.6 Penambahan tersebut adalah konsekwensi dari penerapan pendapat bahwa Yesus adalah ‘anak tuhan'.
Seperti pendahulunya, kitab Perjanjian Lama yang diguncang badai penemuan arkeologi berupa gulungan kitab ­kitab suci di Gua Qumran (1947), akhir-akhir ini kitab Perjanjian Baru juga mengalami nasib yang sama, para sarjana Bibel yang terdidik di universitas terbaik di Amerika dan Eropa berkumpul bersama dalam sebuah kajian panjang selama 6 tahun untuk menjawab pertanyaan bersama ‘Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Yesus?".7 Pertanyaan ini akhirnya terjawab dengan suatu hasil penelitian yang menggemparkan dunia Kristen bahwa perkataan yang diperkirakan asli dari Yesus hanya 18 %, dan sisanya?.8 Suatu hasil kajian panjang dari para sarjana Bible terkemuka yang tidak bisa begitu saja terabaikan. Namun demikian apa tanggapan mereka-mereka yang sudah mengeras hatinya? Beberapa tokoh Kristen Indonesia menyatakan bahwa kajian tersebut tidak valid karena menggunakan metodologi skeptisme?.

Pada awal buku ini kami pernah menyinggung tentang janji Allah dalam al-Qur'an:

"...Perhatikan bagaimana Kami Menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu) (Al-Maidah 75).

Tanda-tanda kebesaran Allah telah dipertontonkan dengan penemuan arkeologi di Qumran dan seminar 6 tahun para pakar Alkitab. Satu bukti yang tidak bisa begitu saja dianggap remeh. Dan seperti yang diperingatkan Allah kita dapat menyaksikan bagaiamana mereka berpaling. Maha benar Allah dengan segala firmannya.
 
Kebiasaan yang mendarah daging

Penetapan pendapat bahwa seorang manusia menjadi ‘anak tuhan'  yang kemudian mewujudkan doktrin Trinitas mengharuskan adanya sekian banyak kebohongan yang terus­menerus berjalan berabad-abad. Hal ini telah menjadikan hat para pelakunya semakin mengeras. Peringatan Allah melalui para Nazaren (bahasa al-Qur'an Nashoro) mereka tanggapi dengan amat kejam, banyak dari mereka yang terbunuh.
Kekerasan hati itu menyebabkan mereka berbuat apa saja termasuk mengganti ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi Musa As. kemudian nabi Isa As. Tidak puas dengan merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada kedua nabi tersebut mereka berusaha merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada nabi terakhir Muhammad Saw. Upaya pengaburan Al-Qur'an mereka lakukan sejak dulu dengan mengeluarkan hadits-hadits Israiliyat, juga upaya merubah ayat-ayat Al-Qur'an. Di Indonesia sendiri umat Kristen baru-baru ini dengan sangat berani memunculkan sebuah buku dengan judul "Al-Haqiqah al-Makhfiah daakhil al-Quran al-Karim" yang mereka samarkan sebagai hasil terbitan pemerintah Saudi Arabia dan diterjemahkan menjadi "Kebenaran tersembunyi dalam al-Qur'an". Di dalamnya termuat ayat-ayat yang dipotong-potong serta penerjemahan yang dimanipulasl dengan mencatut nama para penerjemah yang dikenal di Barat yaitu Yusuf Ali dan Pickthal untuk tujuan tertentu. Sebagai contoh, mereka memotong-motong satu ayat dalam surat Yunus: 94, sebagai berikut :

Diartikan :
 
Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang mernbaca kitab sebelum kamu, Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadarrtu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

Padahal ayat yang sebenarnya adalah :

Maka jika kamu (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelum karnu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS.Yunus: 94).
 
Ayat di atas dipakai alasan Dr. Robert Morey untuk menyatakan bahwa ajaran al-Qur'an berasal dari injil apokrit (terlarang/bid'ah). Menurut Ibnu Katsir ayat tersebut adalah merupakan sugesti bagi umat, bahwa sifat nabi mereka tercantum dalam kitab-kitab terdahulu. Seperti yang diriwayatkan oleh Qotadah, Ibnu 'Abbas, Sa'id bin Jubair, serta Hasan al-Bashri bahwa Rasulullah mengomentari perihal ayat tersebut dengan mengatakan: "Aku tidak ragu dan tidak bertanya".9
Upaya-upaya lain amatlah banyak termasuk apa yang ditulis oleh Dr. Robert Morey yang sedang kita bahas dalam buku ini.

Poin hujatan atas Al-Qur'an

Poin-poin hujatan Dr. Robert Morey terhadap al-Qur'an meliputi masalah:
  1. Masalah proses pewahyuan dan mujizat
  2. Sejarah penulisan al-Qur'an
  3. Redaksi dan bahasa al-Qur'an
  4. Beberapa kandungan al-Qur'an.
Hanya saja cara menghujatnya sangat tidak menunjukkan citra seorang akademis. Secara umum cara yang dilakukan sangat memalukan diantaranya:
  1. Memanipulasi riwayat hadits tentang sejarah penulisan al-Qur'an.
  2. Memanipulasi penerjemahan ayat-ayat Qur'an.
  3. Menggunakan logika "Yang lama mencocokkan yang baru" sebagai dasar untuk menilai keabsahan kandungan al-Qur'an (sudah kita bahas pada awal buku ini).
  4. Serta ungkapan-ungkapan kebencian yang tidak berdasar sama sekali.
Oleh sebab itu dalam menjawabnya kami tidak mengikuti alur penulisan Dr. Robert Morey yang acak-acakan. Kaml membuat alur penulisan sendiri sedang pokok-pokok hujatan kami masukkan dalam alur bahasan yang sesuai.

WAHYU DAN MUKJIZAT


Wahyu dan pewahyuan
 
Pada awal pembahasan buku ini kita pernah membahas adanya kesinambungan wahyu sejak Nabi-nabi terdahulu hingga yang terakhir. Pesan-pesan Tauhid dan dua prinsip kehidupan sesama manusia, yang tergambar dalam prinsip kasih sayang dan prinsip keadilan, terlestarikan pada masing-masing kitab.
Untuk menyajikan kajian tentang wahyu ini, kami akan menggunakan berita-berita nubuat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Injil). Kalau kami membahasnya dari kacamata Bibel bukan berarti mempercayai seluruh isi Bibel, ayat-ayat Bibel yang menyalahi konsep tauhid dan dua konsep kemanusiaan akan kami kesampingkan apalagi ayat-ayat yang porno dan tidak masuk akal. Hal ini berdasarkan prinsip yang dipakai Dr. Robert Morey dalam banyak hujatannya terhadap al-Qur'an, yaitu "Yang lama mencocokkan yang baru". Dan sudah kita bahas pada awal buku ini. Pendapat kami tersebut tidak bisa disebut inkonsisten, di mana menyatakan ada penyelewengan dalam Bibel di satu pihak sementara beberapa dalil memakai Bibel. Inkonsistensi bisa dikatakan jika tidak ada aturan yang jelas, sementara bahasan kami ini berdasarkan aturan yang ditetapkan sendiri oleh Dr. Robert Morey seperti prinsip tersebut di atas. Dengan prinsip ini sebenarnya secara logika kami boleh menggunakan ayat-ayat al-Qur'an untuk menunjang semua bahasan sehingga kita akan mendapatkan pengertian yang benar dari permasalahan yang dilontarkan.
Banyak sekali ayat-ayat Bibel yang menubuatkan akan adanya seorang Nabi baru yang datang setelah Nabi Isa As, (Yesus). Dan perlu kami tegaskan bahwa tidak ada nabi lain setelah masa Yesus, sebab Yohanes Pembabtis (Nabi Yahya) adalah hidup sezaman dengan Yesus. Namun kami hanya memfokuskan pada nubuat Musa yang tercantum pada Kitab Ulangan 18:18. (kitab ulangan masuk dalam perjanjian lama/ Taurat). Ayat tersebut berbunyi :

"Bahwa aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau (Musa), dan Aku akan mernberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang Kusuruh akan dia" (Kitab: Ulangan 18:18).

Dalam mencermati ayat di atas Ahmed Deedat membuktikan dengan sangat baik bahwa yang dimaksud dalam kitab ulangan tersebut adalah Nabi Muhammad Saw walaupun kebanyakan sarjana Kristen menyatakan tidak mengakui hal itu10. Alasan yang dikemukakan Ahmed Deedat secara ringkas sebagai berikut :

  • .......antara segala saudaranya : Isyarat untuk keturunan IsmaEL saudara IsraEL keturunan Ibrahim dari Ishaq. Bibel juga mengakui bahwa Ibrahim berputra Ismael dan Ishaq.
    ......yang seperti engkau (Musa) : Isyarat untuk nabi yang perihalnya seperti Musa yaitu Muhammad dengan alasan sebagai berikut :
  • Musa dan Muhammad dilahirkan melalui ibu dan bapak. Yesus tidak.
  • Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak. Yesus tidak.
  • Musa dan Muhammad diterima kaumnya -bani Israel­Yesus tidak.
  • Musa dan Muhammad membawa hukum agama baru. Yesus hanya meneruskan. 11 (Sampai hari ini pun Taurat dan Injil dalam satu paket yang disebut Alkitab/Bibel, atau perjanjian lama dan perjanjian baru12).
Dalam menjelaskan ayat di atas -... dan aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya- Ahmed Dedat mencontohkan dalam perdebatannya dengan pendeta Dominee sebagai berikut :
Apakah artinya jika dikatakan, "Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?' Perhatikan, ketika mula-mula saya meminta Anda (Dominee) untuk membuka Ulangan 18: 18 dan jika saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda telah membacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda?"
Dominee menjawab, "Tidak"
 
Tetapi, saya melanjutkan, "Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta Anda untuk rnembaca atau mengulangi sesudah saya", apa yang saya ucapkan yaitu:

"Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas : 1-4).

Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?" Dominee tentu saja setuju.
Dengan cara yang sama, saya berkata, "Kata-kata kitab suci Al-Qur'an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad diungkapkan."
Ilustrasi Ahmed Deedat dalam menjelaskan kalimat di atas menjadikan gambaran tentang proses pewahyuan semakin dapat dinalar. Al-Qur'an sendiri memberikan gambaran yang sama sebagai berikut :

"Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat". (QS. Al-Muzammil : 5).

"Kami akan membacakan (al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa ". (QS. Al-A'laa: 6).

Dan seperti yang kita lihat bahwa ayat dalam kitab Ulangan 18:18 di atas adalah wahyu yang diberikan kepada Nabi Musa, -yang tentunya dengan bahasa Ibrani.13
Proses penurunan wahyu dengan cara ‘dibacakan' - menurut Qur'an- atau ‘memberi segala firmanku kedalam mulutnya' menurut gaya bahasa Taurat, secara tegas menunjukkan bahwa wahyu tersebut atau al-Qur'an bukan dari Nabi Muhammad Saw atau Nabi Musa, baik materi maupun bahasa. Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Rasulullah pernah tergesa-gesa menggerakkan bibirnya untuk menirukan wahyu yang dibacakan.
Bibel yang diyakini kebenarannya oleh Dr. Robert Morey telah menyatakan kebenaran Nabi Muhammad Saw. dan al­Qur'an, bahkan dengan penjelasan tentang proses pewahyuannya. Satu proses pewahyuan al-Qur'an kepada Muhammad yang dijelaskan secara lebih gamblang dan bisa dinalar. Maka ketika disebut dalam hadits-hadits nabi tentang proses pewahyuan yang melalui Malaikat Jibril hal itu bukanlah hal yang mengada-ada. Para sahabat pun menurut riwayat hadits ada menyaksikan kedatangan Jibril. Namun demikian proses pewahyuan melalui pembacaan oleh Jibril lebih masuk akal ketimbang penjelasan Injil tentang pewahyuan Yesus :

"Maka Yahyapun menyaksikan serta herkata : 'Aku sudah nampak Roh Allah turun dari langit, seperti seekor burung merpati, lalu hinggap di atasNya". (Yahya 1: 32).

Jika dibaca melalui kaca mata Muslim, maka ..... di atasnya", dengan memakai ‘n' dengan huruf kecil. Itu berarti Allah mengutus Jibril datang kepada Yesus sehingga "seekor burung" sebagai suatu kiasan. Mungkin bahasa manusia abad I masehi memakai cara tersebut. Ayat ini secara tidak langsung menyatakan bahwa Roh (Qudus) adalah utusan, dan Yesus adalah nabi, di sini istilah wahyu baru ada.
Tapi kalau dibaca menurut kaca mata Kristen Trinitas, maka ayat tersebut sekedar bacaan tanpa makna. Cerita tiga tuhan sedang bersilaturrahmi. Bagaimana mungkin tuhan mewahyukan firman kepada tuhan. Yah begitulah Ajaran Nabi Isa telah dibajak oleh Paulus.
Proses pewahyuan al-Qur'an seperti di atas adalah salah satu tingkatan pewahyuan. Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, bukan diturunkan satu kitab secara langsung. Prosesnya pun berbeda-beda dari tingkat yang terendah hingga yang tertinggi yaitu pertemuan dengan Pencipta, seperti yang dialami Nabi Muhammad ketika Isra' mi'raj dan mendapat perintah shalat, juga Nabi Musa yang disebut al-Qur'an sebagai Nabi yang kepadanya Allah berbicara.
Proses pewahyuan yang secara bertahap inilah yang dipahami salah oleh Dr. Robert Morey dan dijadikan alasan bahwa ada kontradiksi dalam masalah pewahyuan.14 Sebab umat Kristen secara umum tidak memiliki pandangan yang tepat masalah pewahyuan. Seperti pewahyuan Nabi Musa misalnya Selalu digambarkan satu buku turun dari langit, apalagi pewahyuan Nabi Isa As. jelas sulit mereka jelaskan karena Nabi Isa sendiri mereka lantik menjadi 'tuhan', karena itu mereka Sering menggunakan bahasa kiasan burung merpati yang mungkin sering kita lihat di gambar-gambar Yesus. Kalangan Kristen yang mengerti tentu saja enggan menjelaskan burung merpati tersebut, tapi yang tidak tahu ditelan mentah-mentah karena disajikan dengan gambar yang indah.

Mukjizat

Kita mengetahui dari al-Qur'an bagaimana para nabi terdahulu dalam penyebaran dakwahnya dibekali oleh hal-hal yang supranatural. Seperti perahu Nuh, Tongkat Nabi Musa, Menghidupkan orang mati dll. Tidak disangkal bahwa hal-hal seperti itu adalah adikudrati, sebagaimana diutarakan oleh Dr. Robert Morey dalam membanggakan nabi Isa.15 Umat muslim juga berpendapat sama bahwa itu adikudrati yang diberikan oleh Allah. Umat muslim juga ikut bangga bahkan cerita itu seringkali disampaikan pada anak-anak sejak masih kecil. Namun kemudian jika hal itu ditujukan untuk menyatakan bahwa ajaran Islam tidak valid karena mukjizat umat muslim yang berupa al-Qur'an kalah dibanding mukjizat nabi-nabi sebelumnya tentu saja tidak benar. Pernyataan Dr. Robert Morey ini mirip dengan cerita anak kecil yang mengunggulkan siapa dan apa saja yang disukai.
Secara jujur, mukjizat Yesus, hanya terjadi pada masa kenabiannya. Dan hal itu tidak bisa difungsikan pada masa sekarang. Namun al-Qur'an yang diturunkan 14 abad lalu masih ada dan masih menjalankan fungsinya. Anda bisa melihat bagaimana Islam masuk Eropa dan Amerika, apakah dengan menghidupkan orang mati? atau membelah laut dengan tongkat Musa? tentu saja tidak. Islam masuk Amerika dan Eropa karena ajaran al-Qur'an yang bersifat logis, setiap penyajiannya disertai dengan dalil-dalil, bahkan berisi isyarat Ilmu pengetahuan yang sedang menjadi symbol masa sekarang. Dan karena kebesaran al-Qur'an itulah buku Islamic Invasion ditulis, coba perhatikan judulnya : THE ISLAMIC INVASION Confronting the World's Fastest Growing Religion. Tidakkah judul itu ditulis untuk membuktikan kehebatan al-Qur'an yang mampu menembus jantung Eropa dan Amerika hingga menjadikan agama Islam menjadi agama yang paling cepat perkembangannya?.
Justru seiring perkembangan pemikiran manusia, di mana manusia modern menginginkan sesuatu yang logis, maka hal-hal yang bersifat adikudrati dianggap hanya sebatas legenda yang diceritakan kepada anak-anak kecil ketika hendak tidur. ya..itulah manusia, selalu punya alasan untuk menolak. Masyarakat modern menghendaki bukti empiris yang logis, bukan hal yang tidak bisa dicerna akal. Otoritas gereja sekarang tidak akan bisa memaksa seorang ilmuan untuk mengimani TRINITAS dengan menceritakan mukjizat para nabi terdahulu. Begitu juga ciri penyampain logis dalam al-Qur'an, mungkin tidak akan efektif pada masa Musa dan Isa. Sebab pemikiran manusia pada 4000 tahun yang lalu jelas berbeda dengan sekarang. Berikut ini pengakuan dari Nazmi Luke seorang pendeta Mesir yang dinukil oleh Dr. Quraish Shihab dalam Mu'jizat al-Qur'an sebagai berikut :

"Tidak dapat disangka! bahwa menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orany buta, dan lain-lain merupakan hal-hal yang bernilai agung. Akan tetapi, itu sernua tidak akan berarti sarna sekali apabila ia dimaksudkan untuk membuktikan bahwa 2+2 = 9. Karena itu adalah wajar jika dipaparkan kepada rnanusia yang telah mencapai kedewasaannya bukti-bukti rasional dan logis".16

Berikut ini akan kami ketengahkan bagaimana satu ayat al-Qur'an disertai satu hadits Nabi dapat merubah pandangan seorang Prof. Dr. Joe Leigh Simpson tentang agama. Dia adalah ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi serta Pakar molecular dan Genetika Manusia, Baylot College Medicine, Houston Amerika.
Itu terjadi pada pertemuan dan dialog yang diadakan dengan ilmuwan terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menguji fakta ilmiah yang disebutkan di beberapa ayat al-Qur'an. Selain untuk menyorot fakta bahwa Agama Islam mendorong kemajuan Ilmu pengetahuan. Dialog tersebut diceritakan oleh Abdullah M. Rehaili sebagai berikut :

Ketika kami pertama kali bertemu dengannya, Prof. Simpson menuntut pembuktian al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, kami sanggup menghilangkan kecurigaannya. Kami menunjukkan kepadanya sebualt naskah garis besar perkembangan embrio. Kam; membuktikan kepadanya bahwa al-Quran menjelaskan kepada kita bahwa turunan atau hereditas dan sifat atau kromosom yang tersusun hanya bisa terjadi setelah perpaduan yang berhasil antara sperma dan ovum. Sebagaimana yang kita ketahui, kromosom-kromosom ini berisi semua sifat-sifat baru manusia yang akan menjadi mata, kulit, rambut dan lain-lain.

Oleh karena itu, beberapa sifat manusia yang tersusun itu ditemukan oleh kromosomnya. Kromosom­kromosom ini mulai terbentuk sebagai permulaan pada tingkatan nutfah dari perkembangan embrio. Dengan kata lain, ciri khas manusia baru terbentuk sejal: tingkatan nutfah yang paling awal. Allah Yang Maha agung dan Yang Maha Mulia berfiman di dalam Al­-Quran :

"Celakalah kiranya manusia itu ! Alarngkah ingkarnya (Kepada Tuhan). Dari apakah dia diciptakan ? Dari setetes air mani. (Tuhan) menciptakannya dan menentukan ukuran yang sepadan dengannya. " (QS Abassa: 17-19)

Selama empat puluh hari pertama kehamilan, semua bagian dan organ tubuh telah sempurna atau lengkap, terbentuk secara berurutan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada kita di dalam hadistnya : "Setiap dari kamu, semua komponen penciptamu terkumpul dalam rahim ibumu selam empat puluh hari."

Di dalam hadist lain, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Ketika setetes nutfah telah melewati 42 malam, Allah menyuruh seorang malaikat ke rahim perempuan, yang berkata : 'Ya Tuhan! Ini laki-laki atau perempuan? Dan Tuhanrmu memutuskan apa yang Dia kehendaki. "

Profesor Simpson mempelajari dua hadist ini intensif, yang mencatat bahwa empat puluh hari pertama itu terdapat tingkatan yang dapat dibedakan secara jelas atau embriogenesis. Secara khusus, Dia dibuat kagum dengan penelitian yang mutlak dan keakuratan kedua hadist tersebut. Kemudian dalam salah satu konferensi yang dihadirinya, dia memberikan pendapat sebagai berikut :

"Dari kedua hadist yang telah tercatat dapat membuktikan kepada kita gambaran waktu secara spesifik perkembangan embrio sebelum 40 hari. Terlebih lagi, pendapat yang telah berulang-ulang dikemukakan pembicara yang lain pagi ini bahwa kedua hadist ini telah menghasilkan dasar pengetahuan ilmiah yang mana rekaman mereka sekarang ini didapatkan".

Profesor Simpson mengatakan bahwa agama dapat menjadi petunjuk yang baik untuk pencarian ilmu pengetahuan. Ilmuwan Barat telah menolak hal ini. Seorang ilmuwan Amerika mengatakan bahwa agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Dengan analogi jika Anda pergi ke suatu pabrik dan Anda berpedoman pada mengoperasilcan pabrik itu, kemudian Anda akan paham dengan mudah bermacam­macam pengoperasian yang berlangsung di pabrik itu. Jika Anda tidak memiliki pedoman ini, pasti tidak memiliki kesempatan untuk memahami secara baik versi proses tersebut.

Profesor Simpson berkata: "Saya pikir tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama, tetapi pada kenyataannya agama dapat menjadi petunjuk ilmu pengetahuan dengan tambahan wahyu ke beberapa pendekatan ilmiah yang tradisional. Ada kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid, yang mana al-Quran mendukung ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah."

Inilah kebenaran. Orang-orang Islam tentunya dapat memimpin dalam cara pencarian ilmu pengetahuan dan mereka dapat menyampaikan pengetahuan itu dalam status yang sesuai. Terlebih lagi orang Islam mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan itu sebagai bukti keberadaan Allah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia untuk menegaskan kerasulan Nabi Muhammad SAW.17
 
Ayat Al-Qur'an dan hadits tersebut disampaikan 14 abad yang lalu dimana bangsa Arab saat itu tidak memiliki ilmu pengetahuan modern. Mungkinkan seorang Muhammad yang disebut ummy (buta huruf) memiliki pengetahuan itu dari dirinya sendiri?. Tidakkah ini bukti kebenaran al-Qur'an? Ini hanya salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah yang bakal dipertontonkan dihadapan manusia, agar kembali kepada tauhid seperti yang dijanjikan oleh Allah Swt. dalam al-Qur'an sebagai berikut:

'Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Qur'an ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu." (QS. Fushshilat: 53).

Tentang mukjizat Rasulullah yang lain akan kami bahas dalam bab Hadits.


SEJARAH DAN KEASLIAN AL-QUR'AN

Perbandingan

Jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang terdahulu - Taurat, Zabur, Injil- maka Al-Qur'anlah yang paling bisa dikatakan lebih otentik karena beberapa hal :
  • Ditulis saat Rasulullah masih hidup, dengan larangan penulisan masalah lainnya yaitu hadits, sehingga kemungkinan adanya pencampuran adalah kecil. Sementara yang lain seperti Perjanjian Lama yang merupakan himpunan kitab/fasal, ditulis selama lebih dari dua abad setelah musnahnya teks asli pada zm. Nebukadnezar, yang ditulis kembali berdasarkan ingatan semata oleh seorang pendeta Yahudi yang bernama Ezra dan dilanjutkan oleh pendeta - pendeta Yahudi atas perintah raja Persia , Cyrus pada tahun 538 sebelum Masehi.18
  • Al-Qur'an masih memakai bahasa asli sejak wahyu diturunkan yaitu Arab, bukan terjemahan. Bagaimanapun terjemah telah mengurangi keotentikan suatu teks.
    Bibel sampai ketangan umatnya dengan Bahasa Latin Romawi. Bahasa Ash Taurat adalah Ibrani, sedang bahasa Ash Injil adalah Aramaik. Keduanya disajikan bersama dalam paket Bibel berbahasa Latin yang disimpan dan disajikan untuk masing-masing negara melalui bahasanya sendiri-sendiri, dengan wewenang penuh untuk mengubah dan mengganti sesuai keinginan
  • Al-Qur'an banyak dihafal oleh umat Islam dari zaman Rasulullah sampai saat ini. Sedangkan Bibel, boleh dibilang tidak ada. Jangankan dihapal, di Indonesia sendiri Bibel umat Katolik baru boleh dibaca oleh umatnya pada tahun 1980
  • Materi Al-Qur'an tidak bertentangan dengan akal, dan relevan sepanjang masa. Sementara Bibel mengandung banyak hal-hal yang tidak masuk akal dan mengandung pornografi. Seperti berikut ini :
Ayat porno 
Yehezkiel 23 :1-21, berisi ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan didalamnya penyimpangan seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anak­anak dibawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut (maaf) buah dada, buah zakar, menjamah­jamah, birahi, dan lain-lain, contohnya :
 
(ayat.3) "Mereka bersundal pada masa mudanya; di sann susunya dijamah jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang".
 
Ayat yang selanjutnya: 5, 8, 11, 18, 20, 21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang tidak sepantasnya ditulis bahkan di dalam buku ini.

Pelecehan Bibel terhadap Tuhan
Tuhan jorok, menyuruh makan tahi? (Yehezkiel4: 13).
Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32:28).
Pelecehan Bibel kepada para Nabi Allah Swt.
Nabi Nuh mabuk-mabuk sampai teler dan telanjang bugil (kejadian 9:18-27).

Ayat-ayat yang mustahil dipraktekkan

Hukum Sabat
Hari Sabat (sabtu) adalah hari Tuhan yang harus dikuduskan. Pada hari itu setiap orang dilarang bekerja, dilarang memasang api di rumah (lampu, kompor, dll) karena Sabat adalah hari perhentian penuh. Orang yang bekerja pada hari Sabtu harus dihukum mati (keluaran 20 :8-11, 31 :15, 35 : 2-3).

Ayat-ayat diskriminatif

Perbuatan riba (rente) dilarang dilakukan kepada Israel, tapi boleh dilakukan kepada non Israel (Ulangan 23 : 19-20). Ayat-ayat yang seperti di atas adalah bukti kebenaran dari apa yang diberitahukan oleh Allah bahwa para ahli kitab telah merubah isi kitab mereka. Apa mungkin Tuhan berfirman seperti di atas?. Maha suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan. Sebelum menyudutkan sisi sejarah penulisan wahyu, Dr. Robert Morey mestinya berkaca lebih lama di depan kitab sucinya untuk kemudian menentukan langkahnya. Langkah menyudutkan al-Qur'an sangat tidak membantu umat Kristen memahami kitab sucinya. Kalau ingin jujur sebenarnya ajaran asli -tauhid- mereka disampaikan ulang oleh Allah melalui al-­Qur'an. Beberapa kiasan dalam bibel akan dapat mudah dipahami ketika membaca al-Qur'an. Maka benar jika al-Qur'an menyatakan bahwa di dalam al-Qur'an memuat kabar dan ajaran tentang mereka. Pengakuan saudara seagama Dr. Robert Morey , lebih menunjukkan suatu kedewasaan berpikir dan jujur. Mungkin termasuk mereka yang disebut al-Qur'an sebagai Qissisin wa ruhban, yaitu :

Dr. G.C. Van Niftrik dan Dr. B.J. Bolland :

"Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Bibel; kehilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Bibel telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: "Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Bibel juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia".19

Dr. R. Soedarmo :
 
"Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki".20

Sejarah Penulisan AI-Qur'an

Keaslian al-Qur'an di kalangan Muslim adalah suatu kepastian, susunan dan materinya. Selain karena penjagaan Allah, hal ini tidak lepas dari usaha Rasulullah dan para penerusnya hingga saat ini dalam menjaga keaslian al-Qur'an; huruf perhuruf, ayat perayat, hingga surat dan susunannya. Dengan begitu umat Muslim terhindar dari peringatan Allah swt. untuk tidak merubah al-Qur'an sebagaimana yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya
 
(Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?] (QS. al-Baqarah: 75).

Allah Swt. telah menjanjikan suatu penjagaan bagi kitab terakhir yang pernah diturunkan kepada umat manusia ini

[Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.] (QS. Al-Hijr : 9).

Dan sekaligus menjadi bukti bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman, sebab ajarannya tetap terpelihara dan tak satupun umatnya berani merubah walaupun satu huruf. Janji Allah tersebut setidaknya terbukti dengan upaya-upaya penjagaan oleh kaum Muslim yang telah berlangsung selama lebih dari 14 Abad. Upaya tersebut dapat disimpulkan dalam dua cara : Penulisan Mushhaf seperti yang sampai kepada kita, dan upaya penghafalan oleh para Qurra' (pengkaji al-Qur'an) yang tersebar dipenjuru dunia Islam. Dua macam upaya ini sudah berjalan sejak zaman Rasulullah saat wahyu diturunkan.
Sejarah penulisan dan penjagaan wahyu ini akan kami sajikan secara ringkas berdasarkan hadits dan riwayat sahabat. Riwayat merupakan sumber dalam penulisan sejarah -khususnya tentang masalah ini- yang tidak bisa begitu saja diabaikan, apalagi materi riwayat tersebut tidaklah bertentangan dengan akal sehat, dan diriwayatkan dengan seleksi penerimaan yang sangat ketat. Seleksi yang selain berdasarkan materi juga kejujuran periwayat yang mungkin jarang -nyaris mustahil- kita dapatkan pada masa sekarang. Kita bisa bayangkan ketika perowi yang ditemukan ingin menangkap ayam dengan menggunakan biji sebagai umpan, riwayatnya tidak bisa diterima karena dianggap tidak jujur kepada hewan, apalagi kepada manusia. Suatu seleksi yang sangat ketat hingga hasilnya sangat layak untuk kita jadikan sandaran hukum dan penulisan suatu sejarah seperti bahasan kita kali ini.
Kalau toh ada yang mengatakan riwayat-riwayat di bawah ini adalah fiksi, kita bisa menilai mana yang lebih akurat apakah perowi yang telah menulis riwayat tersebut beberapa abad yang lalu (dimana lebih dekat dengan kejadian, dan tradisi lesan masih sangat kuat serta seleksi yang sangat ketat) ataukah mereka yang datang setelah beberapa abad kemudian dengan alasan "Ilmiah" tiba-tiba mengatakan riwayat tersebut "fiksi". Selama materi riwayatnya tidak menyiratkan hal yang di buat-buat kenapa harus ditolak, kecuali jika bertentangan dengan bukti lain yang lebih akurat.

Penulisan dan Pengajaran AL-Qur'an Pada Masa Rasulullah

Rasulullah sangat berdisiplin dan hati-hati dalam mengajarkan al-Qur'an kepada para sahabatnya, dimana ayat- ayat yang baru turun harus dihapal oleh para sahabat saat itu juga, mereka tidak diizinkan pergi sebelum hafal seluruhnya, setelah itu mereka sampaikan kepada mereka yang tidak hadir, Ayat yang sudah mereka hafal tersebut kemudian mereka lakukan tadarusan (membaca dan mengkajinya) bersama disalah satu rumah di pojok kota Makkah, demi menghindari ancaman orang-orang Quraisy.
Pada saat Rasulullah berada di Madinah, 2/3 al-Qur'an sudah diturunkan.21Hal ini membuat Rasulullah harus bekerja keras mengajarkan al-Qur'an kepada kaum Anshor yang baru masuk Islam. Begitu besarnya tuntutan tersebut hingga Rasulullah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengajarkan al-Qur'an kepada para sahabat. Maka tidak heran jika ada satu kelompok yang kita kenal sebagai ahlu as-suffah yaitu para sahabat yang menetap/tinggal di masjid untuk belajar al-Qur'an, dan dari antara merekalah muncul nama-nama seperti Ibnu Abbas (Muhajirin), Ubay bin Ka'b (Anshor)...... kelak merekalah yang paling berperan dalam melakukan kodifikasi wahyu. Lain dari pada itu cara pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah sangatlah berdisiplin dimana al-Qur'an diajarkan persepuluh ayat sampai para sahabat hafal dan paham maknanya bahkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian baru pindah pada sepuluh ayat berikutnya.
Pada zaman Nabi upaya penulisan sudah mulai dilakukan walaupun dengan media yang sangat sederhana di antaranya batu tulis, tulang-tulang, pelepah pohon. Riwayat dari Imam Al-Bukhori menerangkan sebagaimana berikut:

Ubaidullah mengatakan kepada kami dari Musa dari Israil dari Abi Ishaq dari al-Barraa', rnengatakan: Ketika turun (ayat yang artinya:) {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para mu'min dengan mereka yang berjihad di jalan Allah } Nabi Saw. berkata : panggilkan untukku Zaid dengan membawa batu tulis dan tinta serta tulang, atau tulang dan tinta, kemudian berkata: tulislah {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri}.....22

Riwayat lain menyebutkan media lain berupa pelepah pohon.23 Dengan media seperti di atas maka logis sekali jika diriwayatkan bahwa lembaran-lembaran al-Qur'an tersebut memenuhi satu ruang (gudang) ditempat Hafsah, istri Nabi Muhammad Saw.
Upaya penulisan yang mereka lakukan bahkan terbilang ketat, sebab penulisan selain wahyu oleh para sahabat tidak diperbolehkan oleh Rasulullah Saw. dengan begitu wahyu Allah tidak tercampur oleh perkataan dan perilaku Nabi yang kemudian disebut Hadits. Berikut ini riwayat dari Imam Muslim berkenaan dengan masalah ini:

Berkata kepada kami Haddaab bin khaalid al-Azdy, berkata kepapa kami Hammaam dari Zaid bin Aslam dari A'athaa' bin Yasar dari Abi Sa 'iid al-Khudry, bahwa Rasulullah Saw. bersabda : "Janganlah kalian menulis apa-apa dariku, barang siapa menulis dariku selain al-Qur'an maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan itu diperbolehkan, dan barang siapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka bersiap-siaplah untuk tinggal di Neraka  (HR. Muslim)

Penulis wahyu yang ditunjuk oleh Rasulullah pada masa itu ada empat orang dari kaum Anshor yaitu : Mu'aadz bin Jabal, Ubay bin Ka'b, Zaid bin Tsaabit dan Abu Zaid,25 dalam riwayat lain menyebutkan : Abu ad-Darda', Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Selain mereka juga ada beberapa sahabat Yang menulis untuk diri mereka sendiri.26 Penulisan yang dilakukan oleh Aisyah bahkan sudah berbentuk mushhaf (berbentuk seperti buku) sebagaimana tersebut dalam riwayat berikut ini :

Dan berkata kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamiimy ia mengatakan saya belajar dari Malik dari Zaid bin Aslam dari al-Qa 'qaa' bin Hakim dari Abi Yunus pembantu 'Aisyah bahwa ia mengatakarn : Aisyah menyuruhku menulis untuknya mushhaf dan ia mengatakan jika sudah sampai pada ayat ini maka panggil saya [Jagalah oleh kalian sholat­ sholat (kalian) dan sholat pertengahan] maka ketika sudah sampai pada ayat ini aku memanggilnya dan ia (Aisyah) lantas mengimlakkan kepadaku [Jagalah oleh kalian sholat­sholat (kalian) dan sholat pertengahan] serta sholat ashar (dan berdirilah di hadapan Allah dengan khusyu'] Aisyah mengatakan saya mendengarnya dari Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.27

Sangat tidak masuk akal jika Dr. Robert Morey menyatakan bahwa tulisan al-Qur'an telah hilang karena yang tertulis di atas tulang telah pudar dan yang ditulis di atas daun telah dimakan oleh binatang, alasan yang kekanak-kanakan.28
Selain adanya upaya penulisan, maka upaya penjagaan melalui hafalan adalah kegiatan yang umum dilakukan oleh para sahabat, di mana para sahabat saat itu akan merasa malu jika tidak hafal al-Qur'an. Sebegitu merebaknya tradisi hafalan tersebut hingga ada riwayat yang mengatakan bahwa dari sekian jumlah penduduk muslim Madinah saat itu hanya 4-6 orang saja yang tidak hafal.
Tradisi periwayatan lisan (hafalan) dalam budaya Arab sangatlah kental, apalagi pada masa Rasulullah Saw. di mana budaya baca tulis belum meluas -budaya tulis menulis setelah 1,5 abad kemudian-. Begitu kentalnya hingga mereka menemukan metode periwayatan yang ekstra hati-hati. Dalam metode yang mereka pakai dikenal adanya istilah Jarh wa at­ta ‘diil (kritik dan seleksi atas kredibelitas perowi), sehingga suatu riwayat yang datang dari seorang yang tidak dipercaya tidak akan digunakan. Masing-masing riwayat yang diakui juga memiliki kriteria sendiri berdasarkan keutuhan matan (materi riwayat), sanad (silsilah riwayat sampai ke sumbernya), serta periwayat, baik jumlah maupun kredibelitasnya.29
Dengan tradisi periwayatan dan hafalan seperti diatas, tentu saja al-Qur'an mendapatkan perlakuan yang paling Istimewa. Apalagi metode pengajaran al-Qur'an yang diterapkan pada masa itu salah satunya adalah metode at-Talaqqy wal `ardl (tatap rnuka langsung antara guru dan murid dengan komunikasi dua arah, dengan system learning and presentation) yang akhirnya menjadi dasar-dasar dalam kodifikasi al-Qur'an, yaitu: "Mengambil materi riwayat yang paling akurat serta cara periwayatan yang paling benar, bukan sekedar yang umum clan sesuai dengan standar bahasa Arab “.30

Riwayat-riwayat berikut ini mungkin akan memperjelas tentang masalah ini :

Dari 'Fathimah ra, "Nabi Saw membisikkan kepadaku: 'Jibril telah mengajariku al-Qur'an setiap tahunnya, dan dia mengajariku tahun ini dua kali, dan aku tidak melihat itu kecuali ajalku telah dekat"  (HR. Bukhari) .31

Riwayat di atas menerangkan bahwa al-Qur'an selalu diajarkan oleh Jibril kepada Nabi, sebagai pembawa wahyu, yaitu pada bulan Ramadlan pada setiap tahunnya hingga masa berakhirnya penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Pada tahun yang terakhir, menjelang wafatnya, Jibril datang dua kali untuk mengajariNya al-Qur'an.
(Riwayat ini sekaligus menepis anggapan Dr. Robert Morey yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak mengetahui kapan beliau akan wafat.)
Pandangan pewahyuan melalui Jibril utusan Allah untuk disampaikan kepada Rasulullah -salah satu caranya dengan dibacakan- secara gradual selama 23 tahun lebih dapat diterima akal ketimbang penggambaran satu buku diturunkan dari langit. Pengajaran dengan system at-talaqqy wal `ardli  yang dilakukan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw tersebut diteruskan kepada para sahabat seperti yang dituturkan oleh riwayat berikut ini :

Dan berkata kepada kami Amru an-Naqid, berkata kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad, berkata kepada kami Ayahku dari Muhammad bin Ishaq ia mengatakan, berkata kepadaku Abdullah bin Abi Bakar bin Muharnmad bin Amru bin Hazm al-anshaary dari Yahya bin 'Abdullah bin Abdirrahman bin Sa'ad bin Zurarah dari Ummi Hisyam binti Haritsah bin an-Nu'man mengatakan: Tungku api kami dan tungku api Rasulullah adalah satu selama satu atau dua tahun atau lebih, dan saya tidak pernah mengambil (menghafalkan) (surat) Qaaf dari al-Qur'an yang mulia kecuali dari lisan Rasulullah Saw. yang selalu beliau baca pada hari jum'at di atas mimbar ketika berkhutbah dihadapan jama'ah. (HR. Muslim) .32

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah seringl:ali meminta sahabatnya untuk membacakan al-Qur'an dihadapannya 33. Diantara para sahabat yang ditunjuk oleh Rasulullah untuk mengajarkan al-Qur'an adalah Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz, serta Ubay bin Ka `b .34
Memang agak naif jika seseorang mempersoalkan masalah hafalan yang seakan-akan hanya dilakukan oleh satu orang saja, seperti pernyataan Dr. Robert Morey berikut :

Pengumpulan bahan-bahan al-Qur'an berlangsung beberapa tahun. Banyak masalah muncul karena daya ingat dan hafalan-hafalan seseorang fidak persis sama dengan orang lain. Hal ini merupakan salah safu kelemahan manusia yang tidak dapaf diabaikan. 35

Dr. Robert Morey sangat meremehkan kalangannya senditi dengan menganggap mereka tidak bisa membedakan antara manusia sebagai individu clan manusia sebagai umat. Sebagai individu mungkin saja manusia berkurang daya ingatnya, tapi sebagai ummat hafalan bahkan semakin kuat seiring usaha yang mereka lakukan dari generasi ke generasi. Umat adalah komunitas dan bukan satu orang. Usia umat tidak seperti usia satu orang, usia ummat bisa berabad bahkan beribu tahun hingga kemusnahannya. Usia umat Islam sendiri sudah mencapai ±14 abad.

SEJARAH DAN KEASLIAN AL-QUR'AN

Kodifikasi AI-Qur'an I

Setelah Rasulullah wafat tampillah Abu Bakar sebagai khalifah (pengganti) untuk memimpin umat. Pelayanan umat Muslim terhadap al-Qur'an pada masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar mengalami suatu kemajuan yang sangat signifikan. Hal ini tidak lepas dari kondisi umat pada masa itu. Riwayat dari Imam Bukhari menerangkan seperti berikut ini :

Berkata kepada kami Musa  bin Isma'il dari Ibrahirn bin Sa 'ad, berkata kepada karni Ibnu Syihab dari 'Ubaid bin as-Sibaq bahwa Zaid bin Tsabit Ra rnengatakan : Telah datang kepadaku Abu Bakar as-Siddiq setelah peperangan di Yamamah, kebetulan umar bin Khattab bersamanya, Abu Bakar mengatakan : Sungguh Umar telah datang kepadaku dan berkata: "Peperangan telah menyebabkan kematian beberapa pembaca al-Qur'an, dan saya sungguh khawatir jika kematian meluas kebeberapa Qurra' di daerah-daerah hingga menyebabkan hilangnya kebanyakan al-Qur'an, dan saya berpendapat agar engkau seyera memererintahkan kodifikasi atas al-Qur'an". Saya mengatakan kepada Umar : "Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. ?, Urnar berkata : "Demi Allah hal ini adalah sangat baik", maka Urnar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku atas hal itu dan aku melihat masalah itu sehagai mana penglihatan Urnar". Zaid berkata: bahwa Abu Bakar rnengatakan : "Sesungguhnya engkau seorang yang masih muda lagi cerdas, bukannya kami menuduhmu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Saw. maka cermatilah al-Qur'an dan lakukan kodifikasi". Maka demi Allah seandainya saja mereka memerintahkanku memindahkan salah satu gunung dari beberapa gunung tidaklah lebih berat dari perintah kondifikasi atas Qur'an. Saya berkata: "Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. ?. Berkata Abu Bakar : "Demi Allah inilah yang terbaik". Abu Bakar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku untuk dapat memahami pendapat Abu Bakar dan Umar, maka segera saya lakukan penelusuran dan pengurnpulan al-Qur'an dari rumput dan pelepah pohon serta

hafalan para Qurra', sampai saya temukan akhirdari Surat at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari yang tidak terdapat pada yang lainnya {Telah datang kepadamu.. .. } hingga akhir surat al-Baro'ah (at-Taubah), lembaran­lembaran tersebut berada ditangan Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian Umar dan kemudian di tangan Hafshah binti Umar bin Khattab. 36

Upaya penyalinan oleh para penulis wahyu dengan dibantu para Qurra'(penghafal Qur'an) telah menghasilkan tulisan al­-Qur'an dalam bentuk lembaran-lembaran yang dapat meminimalisir perbedaan pendapat dalam hal tulisan dan bacaan al-Qur'an bagi umat Muslim.
Dengan adanya upaya kodifikasi tersebut di atas tugas para penghafal al-Qur'an bukannya selesai, sebab tugas tersebut tidak semata-mata untuk penjagaan al-Qur'an saja namun lebih dari itu merupakan suatu ibadah yang membuat para pelakunya memiliki keutamaan dimata Allah.

Kodifikasi II (Upaya pewujudan mushaf Induk)

Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab masalah perbedaan dalam membaca Al-Qur'an belum merupakan hal yang mengkhawatirkan, walaupun begitu mereka telah mengantisipasinya dengan melakukan kodifikasi atas al­-Qur'an sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Namun setelah dua masa kepemimpinan, masalah tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran sehingga para sahabat segera mengambil tindakan seperti yang disebutkan pada riwayat berikut ini :

Berkata kepada kami Musa, berkata kepada kami Ibrahim, berkata kepada kami Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik mengatakan kepadanya: "Khudzaifah bin al-Yaman datang kepada Utsman, dan sebelumnya ia memerangi warga Syam dalam penaklukan Armenia dan Azarbaijan bersama warga Irak, maka terkejutlah Khudzaifah akan adanya perbedaan mereka dalam hal bacaan al-Qur'an, maka berkatalah Khudzaifah kepada Utsman: "Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani", Utsman lantas berkirim surat kepada Hafshah : "Kirimkan kepada kami lembaran-lembaran untuk kami tulis dalarn mashahif (bentuk plural dari mushhaf -kumpulan lembaran dengan diapit dua kulit seperti buku-) kemudian kami kembalikan kepadamu", Hafshah segera mengirimkannya kepada Utsman, maka Utsman segera memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin Ash, serta Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam mushhaf mushhaf, dan dia (Utsman) mengatakan kepada ketiga otoritas Quraisy tersebut di atas: Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah Qur'an, maka tulislah dengan lesan Quraisy sebab al-Qur'an diturunkan dengan dialek mereka (Suku Quraisy), dan mereka melakukan hal itu, maka ketika mereka selesai menyalin lembaran-lembaran tersebut kedalam beberapa mushaf, Utsman segera mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepada Hafshah, (Utsman) kemudian mengirim ke tiap tempat satu mushaf yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar selain mushaf tersebut entah berupa lembaran (sahifah) atau sudah berupa mushaf untuk dibakar.37

Pada masa itu tulisan Arab (kaligrafi Arab) masih belum berharakat dan bertitik seperti yang kita jumpai saat ini, perbedaan harakat dan panjang pendek bacaan akan menunjukkan makna yang berbeda, hal ini tidak mustahil menimbulkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat Muslim non­ Arab. Cara baca dan pemaknaan yang salah sangat mungkin dilakukan oleh mereka.
Berdasarkan laporan dari Khudzaifah bin al Yaman yang baru datang dari Armenia dan Adzarbaijan (kedua wilayah tersebut bukan wilayah yang berbahasa Arab) Utsman sebagai khalifah dengan dibantu para sahabat segera mengambil tindakan. Demi mengatasi hal itu maka al-Qur'an yang pernah ditulis pada masa Abu Bakar (masih dalam bentuk lembaran) di salin lagi dalam bentuk mushaf (diapit dua kulit-spt buku) untuk dibagikan ke daerah-daerah sebagai al-Qur'an standar, sedang yang selainnya harus dimusnahkan.
Keputusan yang diambil oleh para sahabat khususnya Utsman sebagai pemimpin umat pada waktu itu sangatlah tepat, sebab tugas seorang khalifah tidak hanya masalah ekonomi, politik dan sosial, tapi juga menyangkut masalah keagamaan, seperti penjagaan keaslian al-Qur'an baik bacaan maupun tulisan. Jika merebak suatu bacaan yang salah dan beraneka ragam, maka tugas pemimpin umat lah untuk membetulkan sehingga umat ini selamat dari apa yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Tapi yang perlu diingat bahwa standarisasi tersebut tidak menafikan adanya tujuh macam bacaan yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Dengan adanya Mushaflmam (Induk) kemudian kita kenal dengan mushaf Utsmany ini secara tidak langsung Khalifah Utsman telah meletakkan dasar-dasar untuk tumbuh kembangnya ilmu Ulum al-Qur'an yang diawali dengan pembahasan masalah rasm (bentuk tulisan) Utsmany atau Ilmu Rasm al-Qur'an.
Jika diruntut dari awal: Wahyu ditulis oleh tim yang ditunjuk oleh Rasulullah pada saat bersamaan dihafalkan oleh para Qurra; kemudian pada masa khalifah Abu Bakar apa yang ditulis oleh tim tersebut disalin kedalam (shahifah) lembaran­lembaran dengan dibantu hafalan para Qurra; dan pada masa khalifah Utsman lembaran-lembaran tersebut disalin dalam bentuk mushhaf (berbentuk seperti buku) dan menjadi standar satu-satunya. Dan mushafsetandar inilah yang sampai kepada kita hari ini. Menurut Ibnu Mandzur (630-711 H) dalam kamusnya yang terkenal Lisan al-Arab, kata shahifah artinya "lembaran yang ada tulisan di atasnya", sedangkan mushhaf atau mishhaf bermakna "himpunan dari lembaran yang ada tulisannya dengan dibatasi dua kulit".38 Makna yang sama disampaikan oleh penulis kamus lain -yang lebih dahulu- yaitu Al-Azhari, 39 juga Al-Jauhari (393 H) dalam Ash-Shihah-nya.40

Standarisasi penulisan dan bacaan al-Qur'an pada masa Utsman dijadikan bahan hujatan oleh Dr.Robert Morey terhadap keaslian Qur'an. Dasar riwayat yang dipakai adalah sama dengan yang tertulis di atas, namun dengan plintlran yang sangat kentara, satu hal yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang yang dikatakan internationally recognized scholar. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat bagaimana Dr. Robert Morey memanipulasi riwayat dari Imam al-Bukhari seperti berikut ini :

[Dalam usahanya untuk 'menyatukan' isi dan bentuk Qur'an menjadi Mushaf Uthman yang standard, patut disesalkan tindakan khalif Ufhman yang mendekritkan pemusnahan semua himpunan (atau bahkan bagian) dari naskah-naskah lain yang telah ada sebelumnya yang merupakan naskah-naskah Qur'an yang paling primer: "Uthman mengirim kepada setiap propinsi satu kitab yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar semua naskah-naskah al-Qur'an yang lain, apakah dalam bentuk yang terbagi-bagi atau yang lengkap, harus dibakar". (Hadits Shahih Bukhari, VI/ 479)]. 41

Kata-kata [dalam..... paling primer] bukan termasuk riwayat melainkan kata-kata Dr. Robert Morey sendiri, disajikan seakan menjadi satu kesatuan riwayat agar dapat memanipulasi pembacanya. Kutipan riwayat oleh Dr. Robert Morey ini silahkan dirujuk pada riwayat Hudzaifah selengkapnya di atas. Tentang tuduhan bahwa upaya pembakuan al-Qur'an standar dengan ancaman hukuman mati oleh Uthman, Dr. Robert Morey tidak mencantumkan dasar pernyataannya, karena memang tidak ada. Adapun tentang kematian sahabat Uthman, adalah disebabkan fitnah masalah kekuasaan. Dan kejadian tersebut telah diberitakan oleh Rasulullah sebelumnya. 42 Maka adalah satu hal Yang mengada-ada jika kematian Uthman dikaitkan dengan keberhasilannya dalam melayani al-Qur'an.
Setelah meninggalnya Khalifah Utsman, sahabat Ali bin Abi Thalib yang memegang tampuk pimpinan, -dan seperti Pendahulunya- pelayanan terhadap al-Qur'an tidak pernah absen. Dengan berkembangnya daerah kekuasaan umat Islam, mereka yang tidak menguasai bahasa Arab seringkali melakulcan kesalahan dalam membaca Al-Qur'an. Melihat yang sedemikian itu Khalifah Ali memerintahkan Abu al-Aswad ad-Dualy untuk menulis beberapa kaidah bahasa Arab agar masyarakat bisa membaca al-Qur'an dengan benar. Upaya tersebut menjadi dasar peletakan ilmu Nahwu (gramatika Arab) dan ilmu I'rab al- Qur'an. 43

AI-Qur'an Pasca Khulafa' Rasyidin

Setelah berakhir masa kepemimpinan khulafa' ar-rasyidun, menyusul kemudian pemerintahan Bani Umayyah dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan sebagai pemimpin pertama dari dinasti ini. Dan seperti pendahulunya Mu'awiyah telah memberikan sentuhan yang sangat berarti dengan menggalakkan pemberian tanda baca pada mushaf. Ini dilakukan ketika salah satu Gubernurnya di Basrah yaitu Ziyad bin Samiyah menyaksikan kekeliruan sebagian orang dalam membaca surat at-Taubah ayat 3, yang dapat melahirkan makna yang salah.
Pada masa ini mainstream pengajaran al-Qur'an oleh para sahabat dan tabiin masih menggunakan motode at-talaqqy wal 'ardli yang mengacu kepada periwayatan dan talqin (pengajaran dengan cara instruksi dan dikte) karena tradisi tulisan belum membudaya. Selain empat khalifah sahabat-sahabat lain yang mempelopori pengajaran Qur'an dengan metode di atas adalah : Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy' ari serta Abdullah bin Zubair. Sedangkan yang dari tabiin mereka adalah : Mujahid, Atho', `Ikrimah, Qotadah, Hasan al-Bashri, Sa'id bin Jubair, clan Zaid bin Aslam. Merekalah yang -dianggap- telah meletakkan dasar-dasar dari ilmu-ilmu al-Qur'an seperti : Ilmu Tafsir, ilmu Asbab an-Nuzul, ilmu Nasikh mansukh, Ilmu Ghanb al-Qur'an dan lain sebagainya. 44
Pada masa-masa selanjutnya ketika perkembangan keilmuan dalam peradaban Islam mulai berkembang, pelayanan dan interaksi dengan Qur'an oleh para sarjana Muslim telah menghasilkan berbagai ilmu, baik yang ditujukan untuk penjagaan Qur'an seperti: Ilmu Tajwid (untuk menjaga kesalahan dalam membaca), Ilmu Qiroat (membahas variasi bacaan seperti yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw.), Ilmu Rasm (membahas tata cara penulisan huruf), Ilmu Dlobth (membahas tata cara pemberian tanda baca), Ulum al-Qur'an (yang mencakup seluruh kajian tentang al-Qur'an seperti sebab-sebab turunnya wahyu dll.); ataupun yang merupakan hasil dari interaksi mereka dengan al-Qur'an seperti Ilmu Tafsir, ilmu Balaghah (retorika), Fan al-Qoshos al-Qur'aniyah (seni pengkisahan dalam Qur'an); termasuk juga Nahwu (gramatika Arab -yang merujuk kepada al-Qur'an-), atau yang bersifat seni seperti seni baca al-Qur'an dengan dilantunkan juga Kaligrafi.
Walaupun begitu kegiatan penghafalan al-Qur'an tetap berjalan sebagaimana mestinya, bahkan menjadi pelajaran dasar wajib bagi para pelajar khususnya pada abad-abad pertengahan. Tidaklah keterlaluan jika Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

"Umat kita tidaklah sama dengan ahli kitab, yang tidak menghafalkan kitab suci mereka. Bahkan jlkalau seluruh mushhaf ditiadakan maka al-Qur'an tetap tersimpan di dalam hatl umat Muslim " 45

Pada masa sekarang, pengawasan ada di bawah lajnah pentashih Qur'an di bawah Departemen Agama RI. Di negara­negara Islam pun terdapat badan yang serupa. Berkat kemajuan tehnologi umat Muslim telah diuntungkan -khususnya dalam masalah Qur'an-. Kini umat Muslim bisa mendengarkan alunan ayat-ayat al-Qur'an dari manapun di penjuru dunia tanpa merasa asing akan bacaan mereka, dengan media bermacam-macam. Dalam upaya mempelajari ayat-ayat al-Qur'an pun sudah banyak kernudahan yang mereka dapatkan baik berupa tafsir maupun terjemahan serta ilmu-ilmu pendukung lainnya.
Namun demikian tradisi penghafalan Qur'an tetap berlanjut hingga hari ini, madrasah (sekolah) dan pesantren al­-Qur'an tersebar di mana-mana di dunia Islam. Di Indonesia kita hdak sulit untuk mencari pesantren untuk Tahfidz al-Qur'an baik untuk tingkat anak-anak maupun dewasa. Beberapa diantaranya -untuk sekedar menyebut contoh- PP Yambu'ul Qur'an- Kudus Pesantren Krapyak Jogja, PP Nurul Huda-Malang, Pp 4 Munawwariyyah-Malang, Pondok Darul Huffadz-Sulawesi Selatan, dan banyak lagi selainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini semuanya. Beberapa perguruan tinggi di Timur-tengah bahkan masih mensyaratkan hafalan beberapa juz tiap tahun ajaran bagi mahasiswanya. Sedang di Indonesia beberapa pesantren -non-tahfidz- mencantumkan hafalan Qur'an dalam kurikulum yang mereka pakai.
Patut diingat, bahwa dalam pengajaran al-Qur'an (Tahfidz al-Qur'an) yang menggunakan metode at-talaqqy wal `ardl juga disertai dengan sanad yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah, sanad tersebut hanya diberikan kepada murid yang benar-benar menguasai hafalannya. Berdasarkan sanad yang ada di Indonesia rata-rata para Qurra'tersebut merupakan generasi ke 28 ke atas.
Kita masih beruntung bahwa saat ini masih dapat menyaksikan kebenaran Janji Allah Saw. dalam menjaga kitab yang diturunkan melalui Rasulullah Saw.
[Dan telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk dipelajari maka adakah orang yang mempelajari] (al-qamar: 17), kemudahan para penghafal Qur'an dalam menjalankan aktifitas hafalannya tidak lepas dari janji Allah ini, dan janji tersebut telah terbukti diantaranya dengan semangat umat Muslim dalam menghafal Qur'an yang tidak kurang peminatnya hingga saat ini. Janji Allah yang kedua adalah :
[Sungguh kamilah yang telah menarunkan al-Qur'an dan kamilah yang akan menjaganya] (al-Hijr: 9).
Dengan melihat realitas upaya penjagaan al-Qur'an dari masa diturunkan hingga saat ini janji tersebut telah terbukti kebenarannya. Dan tentunya merupakan bukti akan kemukjizatan al-Qur'an yang Pada gilirannya menunjukkan kerasulan Nabi Muhammad Saw. Sejarah dan realitas membuktikan hal itu dan pantas saja kalau al-Qur'an menantang manusia-manusia congkak untuk membuat surat semisalnya. Adakah ayat-ayat palsu yang katanya nongkrong di Situs Internet itu dihafal dan dipelajari serta dijaga oleh umatnya?

Tradisi yang Unik.

Tradisi hafalan al-Qur'an dikalangan umat Muslim memang unik dan merupakan keistimewaan bagi umat ini. Kalaulah umat lain iri hati melihat fakta ini kita harus memakluminya. Dr. Robert Morey yang mungkin iri hati melihat penyikapan umat Muslim terhadap kitab sucinya, mengatakan :

Masalah lain yang berkenaan dengan AI-Qur'an yaifu bahwa al-Qur'an ditujukan unfuk dihafalkan oleh orang-orang yang bufa huruf dan fidak berpendidikan, sehingga AI-Qur'an menekankan pada pengulangan-pengulangan yang sama secara terus menerus.46

Selain mengatakan seperti kutipan di atas, penulis The Islamic lnvaslon ini juga mengutip pendapat ‘kawan-kawannya' yang menyatakan bahwa struktur bahasa al-Qur'an campur aduk, menjemukan, melelahkan; dan segala macam hujatan yang dapat mereka temukan.47
Susunan al-Qur'an yang dikatakan oleh mereka yang mengaku ilmuan sebagai susunan yang campur aduk, ternyata dapat dihafal oleh ribuan umat Muslim tanpa ada keluhan dari mereka. Padahal menurut logika, materi hafalan yang tersusun rapi akan lebih mudah dihafal dari pada materi yang acak­acakan. Dilihat dari sisi kegiatan hafal menghafal -apapun materinya- pernyataan Dr. Robert Morey dan konco-konconya di atas sangat tidak masuk akal.
  • Coba anda bayangkan mana yang lebih mudah, menghafalkan sesuatu yang urut atau yang acak. Jika anda membeli kartu perdana untuk HP anda -misalnya-, dan dua nomer yang ditawarkan kepada anda; satu nomer biasa (misal, 081 36475146) dan satu lagi nomer cantik misalnya : 081 22334455, mana yang lebih cepat anda hafal yang acak-acakan atau yang teratur seperti dinomer cantik, tentu yang kedua yang akan anda pilih. Tapi jika ada pilihan yang ketiga misalnya nomer 081 17081945, yang sekilas terkesan tidak teratur tapi menurut hernat kami nomer tersebut akan sangat mudah dihafal oleh orang Indonesia bahkan untuk anak seusia SD, yang belum tentu mudah bagi warga negara lain, sebab nomer tersebut adalah tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia.
  • Pengulangan yang ada dalam al-Qur'an bukanlah pengulangan dengan pemakaian kata dan struktur kalimat yang sama. Kesamaan yang ada seringkali disajikan dengan gaya bahasa yang berbeda. Berdasarkan pengalaman penulis -salah satu dari kami- yang sempat menghafal al-Qur'an; menghafalkan ayat yang mirip adalah lebih sulit. Ketika menggabungkan ayat-ayat dalam satu surat hal itu relatif lebih mudah, kesulitan itu baru muncul ketika menggabungkan surat-surat dalam satu Juz, dan seluruh Juz dalam satu al-Qur'an.
  • Rata-rata ulama yang telah mewariskan karya-karya besar di dunia Islam yang bahkan mempengaruhi peradaban barat, seperti : Ibnu Sina, Ibnu Rush, Ibnu Khaldun dll, adalah orang-orang yang telah berbekal hafalan al-Qur'an pada masa kecilnya. Dan justru al-Qur'an itulah yang telah memberi inspirasi kepada mereka dalam karya-karnyanya. Lihat saja Ibnu Khaldun dari ayat (yang artinya) : [Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim] (QS. Ali Imran :140), beliau dapat melahirkan karya spektakuler dalam studi peradaban dengan sebuah teori The Culture Cycle Theory of History yang diakui bahkan menjadi acuan dalam kajian filsafat sejarah.
Bahkan pada zaman modern ini kita tidak heran jika ado seorang perwira tinggi militer di Mesir yang mengikuti lomba menghafal al-Qur'an tingkat nasional.

Sanad Qiraat al-Qur'an

Untuk melengkapi pembahasan tentang otentisitas al­Qur'an ini, maka kami sertakan salah satu sanad yang ada di Indonesia. Yaitu milik pengasuh PP Al-Munawwariyyah Sudimoro-Bululawang-Malang.

Riwayat Hafsh dari 'Ashim.
  1. H. Muhammad Maftuh Sa'id Malang.
  2. Dari Ayahnya H. Muhammad Sa'id Mu'in Gresik.
  3. Dari Gurunya Kyai Munawwar Sedayu Gresik.
  4. Dari Syekh Abdul Karim bin Umar al-Bari al-Dimyathy.
  5. Dari Syekh Ismail.
  6. Dari Syekh Ahmad Rasyidi.
  7. Dari Syekh Mushthafa al-Azmiry.
  8. Dari Syekh Hijazy.
  9. Dari Syekh Ali bin Sulaiman al-Manshury.
  10. Dari Syekh Shulthon al-Mazhy.
  11. Dari Syekh Saifuddin bin Atho'illah al-Fudloily.
  12. Dari Syekh Syahadzah al Yamany.
  13. Dari Syekh Nashiruddin al-Thoblawy.
  14. Dari Syekh Zakaria al-Anshory.
  15. Dari Syekh Ahmad as-Shuyuthy.
  16. Dari Syekh Muhammad al-Jazry.
  17. Dari Syekh al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Khaliq al-Mashri as-Syafi'I
  18. Dari Syekh al-Imam Abi al-Hasan bin Syuja' bin Salim bin Ali bin Musa al-Abbas al-Mashry.
  19. Dari Syekh al-Imam Abi al-Qashim as-Syathiby.
  20. Dari Syekh al-Imam Abi al-Hasan bin Hudzail.
  21. Dari Syekh al-Imam bin Daud bin Sulaiman bin Naijah.
  22. Dari Syekh al-Imam al-Hafidz Abi Umar al-Dany.
  23. Dari Syekh al-Imam Abi al-Hasan al-Ashnany.
  24. Dari Syekh al-Imam Ubaidillah as-Sibagh.
  25. Dari Syekh al-Imam Hafsh.
  26. Dari Syekh al-Imam Ashim.
  27. Dari Syekh al-Imam Abdurrahman as-Sullamy.
  28. Dari Shahabat Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit Utsman bin Affan, Ubay bin Ka'b.
  29. Dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.
Sanad di atas dari KH. Muhammad Maftuh Sa'id. Dibandingkan dengan sanad lain yang kami kumpulkan sanad ini yang paling ringkas jalurnya, di mana nama-nama Qurra' yang asal Indonesia hanya tiga di depan. Tradisi penyampaian qiraat masih mengikuti pendahulunya, di mana ayat-perayat dibacakan berikut waqaf (tempat berhenti membaca) harus dihafal para santri yang menghafalkan al-Qur'an. Apalagi harakat dan huruf.

SEJARAH DAN KEASLIAN AL-QUR'AN

Mushaf ‘Utsmany.
Pelayanan para sahabat terhadap al-Qur'an pada masa Utsman adalah upaya yang jenius dan kita harus bersyukur karenanya. Sejak itu pintu bagi upaya perubahan atas wahyu lebih tertutup rapat, jutaan Muslim di segenap penjuru dunia kini dapat dengan tenang mengaji dan mempelajari al-Qur'an dengan bahasa yang sama (bahasa Arab); tulisan yang sama, huruf perhuruf, ayat perayat, surat persurat; maka ketika seorang Muslim Indonesia mengutip satu ayat, Muslim lain di penjuru dunia tidak akan mempertanyakan kutipan ayat tersebut, sebab mereka juga membaca ayat yang sama persis. Kutipan ayat sejak masa awal diturunkan hingga hari ini juga tidak akan didebat oleh siapapun karena tetap sama, tidak ada perubahan atau pun perbaikan. Kebersamaan itu terwujud menembus ruang dan waktu, bukankah itu suatu keistimewaan tersendiri bagi umat Islam.
Al-Qur'an yang dipakai oleh Muslim Syi'ah pun menggunakan Rasm Uthmani seperti yang dituturkan Nurcholish Madjid ketika mengutip penjelasan yang dimuat di dalam beberapa mushaf terbitan Iran, kutipan tersebut seperti berikut :

(Ini adalah al-Qur'an) dengan penulisan yang sangat bagus dan jelas, yang diambil berasal dari cara penulisan (rasm al-khathth) al-Qur'an yang asli dan tua yang dikenal dengan sebutan rasm al-mushhaf atau rasm 'Utsmani. Dan cara baca (qiraat)-nya berasal dari yang paling mu'tabar (absah), dari riwayat Hafsh dan Ashim, yan,g dari jurusan lain juga berasal dari Amir al-Mu'minin Ali (as.) dan dari jalan ini berasal dari pribadi Nabi yang mulia (s.a.w). Dalam memberi nomor ayat diambil berasal dari riwayat Abd Allah ibn Habib al­Sullami, dari Imam Ali ibn Abi Thalib (as), sehingga jumlah ayat itu ialah 6236 ayat. 48

Mushaf Imam Ali yang masih ada di Iran, disikapi dengan sangat bijak oleh Muslim Syiah dengan tetap menggunakan rasm Uthmani. Sehingga kreatifitas Ali bisa menjadi rujukan turunnya
surat secara kronologis, yang tentunya sangat berguna dalam arkeologi pemikiran keagamaan, tanpa mengubah susunan yang ada. Susunan yang sudah dihafal sejak masa awal ini menggambarkan cara penyajian sebuah teks yang agung.

Mushaf Uthmani yang dikirim ke beberapa wilayah Islam pada masa khalifah Utsman salah satunya kini masih ada di Tashkent Uzbekistan, seperti yang tampak pada foto di atas. Mushhaf tersebut disimpan oleh "The Muslim Board of Uzbekistan'; sebuah lembaga Islam Uzbekistan yang berdomisili di 103, Zarkaynar street, 700002, Tashkent, Uzbekistan, Telpon: (7+3712) 40.08.41/40.39.33. Mushaf ini menjadi milik dan kebanggaan Uzbekistan, dan perawatannya selain oleh lembaga di atas juga oleh Komite Keagamaan pemerintah Uzbekistan.
Mushaf Utsman ini ditulis di atas kulit, dengan ukuran 53 x 62 cm, setebal ± 250 halaman, dan ditulis dengan khat Kufi. 50 halaman dari manuskrip ini ditemukan berada di tangan colektor di London 2 abad yang lalu. Sedang manuskrip Mushaf Utsman yang lain berada di Sana'a dan di Kairo.
Tentang Mushaf Utsman yang berada di Tashkent menurut riwayat yang berkembang di daerah tersebut, terdapat dua versi tentang masuknya Mushaf tersebut dari tempat penulisannya di Madinah.

Versi I: Kerabat dari Khalifah Utsman membawa al­-Qur'an tersebut ke Maverannahr (Maa waraa'a an-nahr) saat terjadi fitnah dalam pemerintahannya di Madinah.

Versi II: Ali bin Abi Thalib membawa Mushaf tersebut ke Kufa, dari sana Amir Taimur membawanya ke Samarkand saat kembali dari penyerangan ke Irak.

Pada tahun 1868 Mushaf Utsman ini dikirim ke Imperium Rusia oleh Jendral Von Kaufman dan disimpan di Perpustakaan Umum di St. Petersburg. Setelah revolusi Oktober 1917 kaum Muslim Kazan membawa kembali Mushaf tersebut ke daerah mereka. Perselisihan seringkali terjadi antara Muslim Kazan dan Muslim Uzbekistan. Akibatnya, manuskrip tersebut dikembalikan ke Tashkent 1924. Disimpan di musium sejarah hingga tahun 1989, hingga akhirnya diberikan kepada Majlis Muslim Uzbekistan.49

Catatan

Ibarat sebuah kue, al-Qur'an telah dinikmati oleh umat Muslim sejak diturunkan hingga hari ini, sementara umat lain sibuk memperkarakan dari mana asalnya. Al-Qur'an tak henti­ hentinya dikaji oleh umatnya (kini bahkan orientalis semakin banyak yang mengkaji al-Qur'an), dan para penentangnya juga tidak pernah berhenti menghujat. Kini, tinggal bagaimana sikap kita sebagai umat yang di amanati al-Qur'an. Amat disayangkan jika umat Muslim ikut sibuk memperkarakan resep dan pembuamya, padahal kue di atas perjamuan tersebut belum juga habis dan tidak akan habis, apalagi kadaluarsa. Isyarat-isyarat di dalamnya selalu aktual, isyarat yang 14 abad lalu belum dipahami oleh umat Muslim kini berkat kemajuan teknologi dapat mereka saksikan maknanya, tidak hanya memahaminya.
Berkat usaha para sahabat Rasulullah yang melakukan standarisasi al-Qur'an umat Muslim lebih menekankan pada penggalian kandungan al-Qur'an ketimbang memperdebatkan Sejarah penulisannya. Perbedaan pendapat dikalangan umat Muslim dalam kajian ulum al-Qur'an lebih baik kita pahami sebagai kekayaan khazanah intelektual. Coba bayangkan kalau banyak versi al-Qur'an, masing-masing saling mengunggulkan kebenarannya sendiri sementara yang diperdebatkan belum habis dikaji. Standarisasi yang dilakukan oleh Uthman di setujui oleh para sahabat. Imam Ali yang juga menulis mushaf (pribadi) memuji tindakan yang diambil oleh sahabat Uthman. Apakah mungkin para sahabat yang sangat jujur, kritis, pemalu (seperti Uthman) melakukan kebohongan publik ? Khalifah Uthman sendiri yang oleh Dr. Robert Morey disudutkan bahkan pada masalah pribadi beliau adalah salah satu sahabat yang oleh Rasulullah disebut sebagai salah satu penghuni surga -selain sembilan lainnya-.
Ide penulisan ulang al-Qur'an sesuai kehendak masyarakat modern, yang justru keluar dari kalangan Muslim, adalah upaya membangun hotel ditengah danau. Kenapa tidak membangun hotel disamping danau, sehingga banyak orang yang menikmati dan mungkin mengikuti. Ulama' terdahulu sudah mencontohkan pembangunan hotel berbentuk tafsir, asbab an-Nuzul, i'rab al­Qur'an dan lain-lainnya yang terhitung. Hotel-hotel itu tidak pernah kosong, hingga saat ini masih banyak yang datang mengkajinya, bahkan direnovasi dengan bermacam-macam bahasa. Suatu saat nanti kita hanya ditanya seberapa banyak yang sudah kita amalkan dari ajaran itu.
Penyudutan orientalis sefiacam Dr. Robert Morey terhadap al-Qur'an tidak lepas dari tradisi Kristen dalam memandang Bibel yang hanya disebut sebagai "karangan", kita bisa melihat langsung di Bibel bagaimana masing-masing Injil diberi judul "Karangan". Hal itu sangat dimaklumi karena Bibel (Taurat dan Injil) sampai ketangan mereka setelah banyak peralihan bahasa dan yang terakhir adalah berbahasa Latin Romawi. Dari sisi materipun banyak ajaran yang tidak mungkin dipakai. Bagaimana mungkin sebuah kitab suci melecehkan 'tuhan' dan nabinya sendiri, belum lagi ayat-ayat porno. Itulah sebabnya tidak heran jika banyak dari mereka yang jujur, menyatakan bahwa ajaran yang sebenarnya dari Nabi Isa As. telah diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad Saw.


BAHASA AL -QUR'AN

Allah Swt. telah menyatakan dalam al-Qur'an bahwa bahasa yang dipergunakan dalam pewahyuan adalah bahasa Arab (bilisanin 'arabiyyin mubiin) dengan bahasa Arab yang jelas. Lebih spesifik lagi riwayat Imam Bukhari tentang kodifikasi wahyu masa Utsman menyebutkan bahwa al-Qur'an ditulis dengan bahasa Arab Quraisy yang merupakan bahasa utama dikalangan suku-suku di Jazirah Arab. Tampilnya bahasa Quraisy, sebagai bahasa utama tidak terlepas dari keberadaan suku tersebut yang lebih dominan dalam kancah perdagangan dan posisi strategisnya yang ditempati Ka'bah, dimana ka'bah menjadi pusat kegiatan ritual kepercayaan mereka menjelang datangnya Islam.
Rasulullah dilahirkan di kalangan Suku Quraisybahkan dari klan terpandang yaitu Bani Hasyim dan tentunya bahasa keseharian beliau adalah bahasa Arab Quraisy. Walaupun pada dasarnya beliau mengusai dialek-dialek lain karena dibesarkan di Bani Saad yang oleh masyarakat Arab dikenal sebagai suku Paling fasih dalam berbahasa. Jika kemudian ketika beliau mendapatkan wahyu dari Allah Swt. dalam bahasa Arab, adalah suatu hal yang sangat wajar melihat latar belakang bahasa beliau. Justru tidak logis kalau al-Qur'an menggunakan bahasa lain yang tidak dipahami masyarakat Arab.
Kenyataan bahwa al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab hendaknya dijadikan acuan para pengkaji Al-Qur'an sehingga kesalah pahaman dapat sedikit mungkin dihindari. Mengindahkan kenyataan di atas sama saja dengan mengesampingkan dan menutup-nutupi fakta.
Penelitian yang dilakukan oleh orientalis Jerman dengan nama samaran Christhop Luxemberg agaknya mengesampingkan kenyataan bahwa al-Qur'an disampaikan dengan bahasa Arab.50 Dan sudah maklum bahwa masyarakat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw. pada awal masa dakwahnya adalah masyarakatnya sendiri yaitu masyarakat Arab dan yang paling dekat Quraisy. Oleh sebab itu untuk mendapatkan makna yang tepat dari al-Qur'an seorang pengkaji mestinya merujuk kepada bahasa Arab yang berlaku saat itu, atau minimal yang mendekati masa itu. Itulah sebabnya para ulama seringkali merujuk kepada syair-syair jahili karena lebih dapat menjelaskan pemakaian kata pada masa itu.
Kesamaan kata dalam bahasa serumpun bukan menjadi alasan untuk membacanya dengan bahasa tersebut karena memiliki makna yang berbeda. Sebagai contoh misalkan dalam buku yang ada ditangan anda kali ini, katakan kami menulis kata "Dewan Perwakilan Rakyat" untuk menyebut sebuah lembaga tinggi negara kita. Kata itu kemudian diperinci dan diruntut ke bahasa aslinya yang tentunya dari bahasa Arab. Kata pertama ketika dirujuk ke bahasa aslinya memiliki makna : daftar, tempat penulis, dan kumpulan syair. Setelah melihat makna yang diingini kemudian kata "Dewan Perwakilan Rakyat" diartikan sebagai `daftar perwakilan rakyat'.
Antara dialek satu dengan lain dalam satu bahasa saja kadang memiliki makna yang berbeda apalagi bahasa serumpun. Kata "kereta" misalnya di Jawa dipahami sebagai kendaraan yang ditarik oleh kuda, tapi di Medan dipahami sebagai sepeda motor, kata yang sama dengan dua makna di dua tempat yang berbeda. Tapi jika tulisan yang memakai kata "kereta" tersebut ditulis oleh orang Jawa maka tidak mungkin di pahami sebagai sepeda motor, kecuali penulisnya mengisyaratkan demikian.

Kenapa Bahasa Quraisy

Penggunaan bahasa Arab dengan dialek Quraisy dijadikan alasan oleh Dr. Robert morey untuk mengatakan bahwa al-Qur'an adalah karangan Nabi Muhammad Saw seperti berikut ini :

Umat Muslim menyatakan ba hwa AI-Qur'an "difurunkan" dari surga dan bahwa Muhammad fidak dapat dipandang sebagai penyusunnya. Tetapi menuruf Concise Encyclopedia of Islam, bahasa Arab yang dipakai dalam AI-Qur'an itu merupakan suatu dialek kosakafa dari salah seorang anggota suku Quraisy yang finggal di kota Makkah. Jadi sidik jari Muhammad fercecer di seluruh AI-Qur'an.51

Pernyataan seperti di atas hanya pantas diucapkan oleh seorang yang tidak memiliki nabi. Bukankah nabi dari pembuat pernyataan tersebut menerima wahyu dalam bahasanya sendiri? Ungkapan balik semacam ini tidak berguna sebab yang mempertanyakan memang tidak punya nabi/rasul sebab sudah dilantik Paulus menjadi tuhan.
Umat Kristen yang mengakui Injil tentu mengakui Taurat, yang tentunya mengakui adanya wahyu yang berbahasa Ibrani tersebut. Kenapa harus berbahasa Ibrani? Pertanyaan yang sama : "Kenapa harus berbahasa Quraisy ?". Semua wahyu yang berasal dari Allah tentu saja boleh dikatakan Surgawi - untuk menyatakan wahyu itu berasal dari yang Kuasa-, wahyu tersebut disampaikan kepada masing-masing rasul dengan bahasa umat mereka. Kalau umat Muslim diberi wahyu berbahasa Ibrani tentu saja tidak akan paham, kalau tidak dipahami apa fungsinya wahyu ?. Taurat sendiri dalam kitab Ulangan :18 :18 menubuatkan kemunculan Muhammad, yang bahkan menerangkan bagaimana proses pewahyuan itu dilakukan. Lihat bab. Wahyu dan pewahyuan.

Majaz (Metafora)

Interpretasi terhadap sebuah teks dalam bahasa apapun dibutuhkan kemampuan bahasa yang baik, agar sebisa mungkin terhindar dari misinterpretasi, apalagi terhadap teks semacam Qur'an yang menjadi sumber utama ajaran Islam. Dalam tradisi keilmuan Islam untuk menjadi seorang mufassir (interpretator) syarat kemampuan yang harus dimiliki amat ketat. Selain kemampuan bahasa dengan segala cabang keilmuannya seperti gramatika, retorika; juga diperlukan ilmu-ilmu pendukung lain seperti Hadits dan Mushthalah al-Hadits, Fiqh dan Maqasid as. Syar' dan yang tidak kalah penting adalah Ulum al-Qur'an, Tajwid, Qiroat, juga ilmu-ilmu pendukung lain.
Majaz yang merupakan salah satu bahasan dalam retorika bahasa Arab, tentu tidak bisa diabaikan dalam memahami makna teks al-Qur'an. Apalagi bahwa majaz adalah gejala bahasa yang
lazim dikenal oleh pengguna bahasa manapun. Dua kata metaforis dalam Qur'an -telah dipahami salah oleh Dr.Robert Morey. la sendiri mengakui telah menerjemahkan secara literal. Berikut ini kutipan dari pernyataannya tentang rasisme :

Menuruf terjemahan bahasa Arab secara literal dari Surat 3:106-107, pada Hari Penghakiman, hanya orang-orang dengan wajah pufih yang diselamatkan. Orang-orang dengan wajah hitam akan dihukum. Ini merupakan rasisme dalam bentuknya yang paling jelek. 52

Kata hitam dan putih dengan makna metaforisnya "susah" dan "senang" hingga saat ini masih dipakai dalam bahasa keseharian masyarakat Arab. Mereka sering menggunakan kata khabar aswad (literalnya- kabar hitam) untuk menyatakan berita/keadaan yang tidak menyenangkan, dan khabar abyadl (literalnya-kabar putih) untuk mengungkapkan makna berita/keadaan gembira. Memaknai dua kata dalam ayat yang dimaksud Robert Morey, akan terdengar lucu jika dimaknai secara literal, sehingga terkesan adanya unsur kesengajaan, demi menuduh adanya rasisme dalam Islam.
Dengan memperhatikan kebiasaan masyarakat Arab dalam mengungkapkan makna senang dan sedih seperti contoh di atas, pembaca akan segera tahu apa yang dimaksud oleh Qur'an dengan wajah putih dan hitam. Makna wajah putih dalam ayat tersebut adalah wajah yang gembira karena selamat dalam penghakiman (hisab) sedang yang kedua adalah wajah yang sedih karena tidak selamat dan akan dihukum. Dan itu bisa terjadi atas siapa saja, termasuk mereka yang terlalu bangga dengan ras kulit putihnya. Jika hanya hitam dan putih saja yang masuk penghakiman, maka berbahagialah orang Indonesia yang berkulit coklat sawo matang.

Kata Asing Dalam Qur'an

Masyarakat Arab yang mendapat kehormatan karena bahasanya menjadi bahasa perantara wahyu melalui Nabi Muhammad, adalah masyarakat pedagang. Tanah yang gersang dan tandus -khususnya di Makkah- menjauhkan mereka dari kehidupan agraris. Sebagai pedagang berkeliling mencari clan menawarkan barang dagangan adalah keharusan. Melalui kegiatan ini interaksi dengan bangsa lain dilakukan, dan lewat jalan ini pula kegiatan dakwah Islam sering mereka lakukan.
Interaksi masyarakat Arab dengan bangsa lain jelas akan mempengaruhi bahasa mereka. Pada masa Rasulullah -saat wahyu diturunkan- beberapa kata asing sudah masuk ke dalam bahasa Arab. Kata yang masuk ke dalam bahasa komunikasi mereka kadang dipakai apa adanya kadang mereka carikan padan katanya, ini lah yang mereka sebut at- Ta'rib yaitu upaya mewujudkan kata dalam bahasa Arab untuk istilah clan ungkapan dari kata asing yang mereka adobsi. Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, dan merupakan gejala yang sangat wajar dalam dinamika suatu bahasa.
Dalam kajian ulumul Qur'an banyak ulama yang membahas masalah ini diantaranya adalah Imam Suyuthi dalam bukunya al-Itqan Fi Ulum al-Qur'an. Namun demikian sangatlah salah jika Robert Morey menyatakan bahwa masuknya bahasa asing dalam al-Qur'an dikatakan "kecolongan”53 apalagi jika alasan tersebut dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa ajaran al-Qur'an dari bangsa asing. Bahasa asing yang masuk dalam bahasa al-Qur'an adalah bahasa asing yang sudah diadopsi bahasa Arab. Karena al-Qur'an diturunkan dengan memakai bahasa Arab, maka sudah pasti al-Qur'an menggunakan kata clan istilah yang dipakai oleh masyarakat saat itu. Justru kalau al-Qur'an memakai bahasa yang tidak dipahami oleh bangsa Arab maka proses dakwah akan terganjal, karena bahasa perantaranya tidak dipahami, yang pada gilirannya wahyu tidak berfungsi Ambil contoh misalnya dalam pengajaran komputer. Karena banyak istilah komputer sudah diadopsi oleh bahasa Indonesia, maka akan mudah jika mengajarkannya dengan memakai istilah­istilah asing tersebut dari pada memberikan padan katanya dalam bahasa Indonesia. Tapi tidak ada yang mengatakan bahwa anda mengajar komputer dengan bahasa Inggris. Sama seperti buku yang ada di tangan pembaca, walaupun bahasa Indonesia mengadopsi banyak bahasa asing tapi tidak ada yang mengatakan bahwa buku ini ditulis dengan bahasa asing.

Variasi Bacaan al-Qur'an.

Sejak masa diturunkan al-Qur'an variasi bacaan sudah ada bahkan Rasulullah sendiri menyatakan hal itu. Namun demikian bukan berarti umat Muslim boleh membaca seenaknya sesuai dialek dan kemauan mereka. Variasi bacaan tersebut telah ditetapkan sejak masa Rasulullah sehingga umat Muslim mendapatkan keleluasaan dalam memahami teks al-Qur'an dengan tetap memperhatikan bacaan yang sudah di akui kebenarannya oleh Rasulullah sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam riwayat berikut ini :

Pertama :
...dari Ubay bin Ka'b mengatakan : Rasulullah bertemu dengan Jibril, maka beliau berkata : "Wahai Jibril seszrngguhnya saya diutus kepada umat yang buta huruf, diantara mereka ada orang-orang tua dan sudah udzur, anak­anak, wanita hamba sahaya, serta orang-orang yang tidak pernah membaca buku sama sekali", Jibril berkata: "Wahai Muhammad sesungguhnya al-Qur'an itu diturunkan atas tujuh macam huruf. 54

Kedua :
Berkata kepada kami Abdullah bin Yusuf, Malik mengabarkan kepada kami dari ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Abdin al-qory, bahwa ia berkata : Saya mendengar Umar bin Khattab mengatakan : Saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat al-Furqon dengan (bacaan) selain yang kubaca sedang Rasulullah Saw. telah membacakan (mengajarkan surat itu) kepada saya, saya hampir keburu (menegaskan masalah ini) kepadanya kemudian saya tunda sebentarsampai ia pulang, kemudian aku memanggilnya dan membawanya kehadapan Rasulullah Saw, maka saya mengatakan : Saya mendengar (hisyam) ini membaca dengan selain bacaan yang engkau ajarkan kepadaku, maka beliau mengatakan kepadaku : "Bawa ia (kepadaku) "kemudian berkata kepadanya : "Bacalah"maka ia segera membaca (dan Rasulullah) mengatakan : "Seperti inilah diturunkan", kemudian beliau berkata kepadaku : "Bacalah" maka saya membaca (dan Rasulullah) mengatakan: "Seperti inilah diturunkan, sesungguhnya al­Qur'an itu diturunkan dengan tujuh macam huruf, maka bacalah al-Qur'an dengan (bacaan) yang mudah (bagimu). 55

Dari kedua riwayat hadits di atas kita mengetahui bahwa variasi bacaan diterima Rasulullah lewat Jibril. Tujuh macam bacaan itu kemudian diajarkan kepada para sahabat, yang sekarang kita kenal sebagai "Qiraat Sab'ah" (tujuh macam bacaan). Tujuh macam cara baca itupun telah turun temurun dibacakan hingga sampai kepada kita sekarang ini. Sanad yang diterima oleh para penghafal Qur'an juga merujuk kepada salah satu dari ketujuh macam bacaan tersebut melalui sahabat yang langsung mendapatkan bacaan itu dari Rasulullah.
Dalam mengkaji masalah ini Robert morey masih menggunakan kacamata tradisi Kristen,56 sehingga adanya varian dalam Qur'an disamakan dengan varian dalam Injil. Padahal kenyataannya sangat berbeda, seperti berikut ini :
  • Varian dalam al-Qur'an yang kita kenal dengan tujuh macam cara baca, telah diperbolehkan oleh Rasulullah, dan hanya terbatas sesuai yang telah diajarkannya. Selanjutnya umat Islam tidak ada yang berani membaca dengan selain yang diajarkan olehnya. Perbedaan cara baca itu pun tidak melahirkan suatu pertentangan makna sehingga merubah subtansi ajaran yang pokok yaitu Tauhid. Justru perbedaan bacaan itu memberikan keleluasaan makna yang pada gilirannya memberikan keleluasaan pada umat Muslim dalam menjalankan ibadah clan mengatur kehidupannya. Tapi tidak menyangkut masalah pokok seperti Tauhid.
  • Tidak demikian dengan pemahaman yang ada dalam tradisi kristen. Varian yang ada dalam bibel adalah perbedaan isi yang terjadi karena pengubahan pada setiap edisi pencetakan. Contoh di bawah ini mungkin akan memperjelas pandangan kita:
- Dalam Bibel yang diterbitkan oleh The Gedeons, tahun 1976, dalam Imamat pasal 11 ayat 7 :

..., dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya berbelah dua, ia itu bersiratan kukun'ya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu.

Dalam Bibel yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta tahun 1999, dalam imamat pasal 11 ayat 7 :

..., dan lagi babi hutan, karena sungguhpun kukunya berbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu.

Tradisi kristen tidak mengenal istilah "Terjemah" yang ada adalah Injil bahasa Indonesia, Injil bahasa Inggris, dan lain-lain. Maka pengaruh Injil tahun 1976, akan berbeda dengan pengaruh Injil tahun 1999 -itupun jika berpengaruh-. Umat kristen - anggota jemaat- tidak bisa langsung merujuk kepada teks tertuanya seperti yang dilakukan oleh umat Islam. Sebagai gambaran, umat Katolik di Indonesia baru diperbolehkan membuka Injil pada tahun 1980, itupun setelah beberapa isi yang tidak bisa dinalar telah dihapuskan. Sebelum itu mereka hanya mendapatkan buku semacam buku ajar yang berupa tanya jawab masalah agama. Kini terbitan taliun 1999 itu dipakai baik oleh Protestan maupun Katolik.
Satu hal yang perlu dipertegas bahwa masalah Qira'ah sab'ah bukanlah hal yang ditutupi dalam khazanah keilmuan Islam, apalagi Rasulullah telah menetapkan adanya ketujuh macam bacaan itu. Untuk mendapatkan al-Qur'an dengan ketujuh macam bacaan tersebut anda tidak perlu susah-susah mencari teks-teks kuno di perpustakaan seperti orang yang mencari teks-teks yang seakan-akan disembunyikan-, anda cukup pergi ke toko buku, karena sudah terjual bebas. Kami pernah dapatkan di salah satu toko buku di Makkah-Arab Saudi.

Nasakh Dalam al-Qur'an

Kata nasakh memiliki makna : penghapusan, penggantian, pengalihan, atau penyalinan. dalam pengertian agama: “penghapusan hukum syar'i dengan dalil-dalil syar'i", (syar'i yang dimaksud adalah yang bersumber dari Qur'an dan hadits sebagian membolehkan dari Qiyas dan Ijma'), devinisi yang banyak dipakai oleh ulama. 57
Nasakh dalam al-Qur'an berarti : Penghapusan ayat baik tulisan maupun hukumnya, atau hukumnya saja; karena datangnya ayat yang kemudian. Kenyataan ini ditegaskan oleh al-Qur'an sendiri juga hadits Rasulullah.

Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat lain sebagai penggantinya, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mengada-ada saja". Bahkan, kebanyakan mereka itu tidak mengetahui  (QS. An-Nahl 101).

..berkata Abu al-'ala' bin asy-Syikhkhir: "Hadits Rasuslullah me-nasakh sebagian atas sebagian yang lain, sebagaimana ayat Qur'an yang me-nasakh sebagian atas sebagian lainnya " (HR. Muslim).

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa al-Qur'an diturunkan ayat per-ayat, surat per-surat hingga akhir masa kenabian. Ini berarti masing-masing ayat atau surat yang diturunkan memiliki perannya sendiri dalam perjalanan dakwah Rasulullah, baik dalam dakwah utamanya mengajak kepada Tauhid maupun dalam usaha pembenahan kehidupan sosial masyarakatnya. Mengubah suatu tatanan masyarakat tentulah tidak mudah. Itulah sebabnya maka adanya nasakh memberi hikmah yang sangat sesuai dengan metode pentahapan yang dilakukanan oleh Rasulullah dalam dakwahnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Qur'an -yang artinya-:

Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 106).

Ketika suatu tahapan sudah terlampaui maka diturunkan ayat lain untuk masuk dalam tahapan berikutnya. Dan terbukti Rasulullah Saw telah berhasil melakukan suatu perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan umatnya, dalam waktu 23 tahun. Sebagai contoh -dalam penanganan penyakit sosial berupa perzinaan- dalam surat an-Nisa' ayat 15 yang menjelaskan tentang hukuman kurungan kepada istri-istri yang selingkuh. Ketetapan ini kemudian dinasakh dengan ketentuan hukuman yang lebih berat, yakni hukuman cambuk 100 kali (QS. Al-Nur:2). Setidaknya ini adalah salah satu hikmah dari adanya nasakh. Dengan tetap ditulisnya kedua ayat -dalam contoh di atas- di dalam Qur'an setidaknya membuktikan kejujuran Rasulullah clan para sahabatnya untuk tetap menyajikan apa adanya dari semua wahyu yang diturunkan. Jika benar tuduhan Robert Morey bahwa sahabat Utsman menghilangkan 127 ayat demi alasan politik48, mengapa tidak dihilangkan salah satu dari kedua ayat di atas, dengan mengambil ketetapan hukuman yang ringan atau yang berat sesuai kondisi sosial politik masa itu. Toh ternyata hal itu tidak dilakukan oleh mereka.
Nasakh yang ada dalam tradisi Islam khususnya dalam penyikapan terhadap al-Qur'an sangat berbeda dengan tradisi Kristen dalam menyikapi Injil. Nasakh yang ada dalam al-Qur'an tidak sampai ditambahi atau dikurangi oleh para pengikutnya seperti yang dilakukan oleh umat kristen. Lihat contoh dalam bahasan masalah variasi bacaan di atas, pihak Gereja terpaksa menambah kata dalam suatu ayat demi memaksakan suatu doktrin yang tidak masuk akal, atau untuk menghalalkan sesuatu yang disukai oleh umatnya untuk mempertahankan jumlah jema'at.

Terjemah al-Qur'an.

Menerjemahkan al-Qur'an atau teks apapun kedalam bahasa lain tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya adalah mustahil, belum lagi masalah estetikanya. Karena setiap bahasa memiliki ciri khas pengungkapan tersendiri. Sebagai contoh masyarakat Arab memiliki sekian banyak perbendaharaan kata dalam masalah unta karena memang tempatnya. Bahasa Indonesia kaya dengan kosa kata untuk menunjukkan makna padi karena memang berbudaya agraris. Bahasa Arab tidak memiliki satu persatu padan kata untuk kata : gabah, padi, beras, nasi; yang ada hanya ar-ruzuntuk keempat kata dalam bahasa Indonesia di atas. Begitu juga sebaliknya.
Sebagian ulama menempatkan terjemah al-Qur'an sebagai tafsir (interpretasi). Tapi mayoritas sepakat bahwa otoritas tetap Pada teks dengan bahasa aslinya. Sebab ketika seorang penerjemah mengartikan suatu kalimat, secara tidak langsung dia telah menetapkan bahwa itu adalah makna dari kalimat dalam teks aslinya. Sedang penerjemah lain bisa saja menulis makna lain sesuai pemahamannya. Oleh sebab itu al-Qur'an terjemah tidak seotoritatif al-Qur'an dengan bahasa aslinya. Maka dalam setiap terjemah al-Qur'an selalu disertakan teks aslinya sehingga pembacanya bisa langsung merujuk kepada teks asli tersebut. Upaya tersebut bukanlah pengekangan atau klaim bahwa al-Qur'an tidak dapat diterjemahkan, namun lebih merupakan kebijakan yang jenius dan sesuai dengan semangat penjagaan al-Qur'an yang telah dilakukan selama empat belas abad. Lain dari pada itu ritual ibadah dalam Islam juga menggunakan al-Qur'an dan bahasa Arab.
Buku Islamic Invasion seringkali menampilkan terjemahan dari ayat-ayat al-Qur'an yang kemudian dengan membandingkan hasil penerjemahan tersebut ia mengambil kesimpulan adanya pertentangan internal dalam al-Qur'an.58 Pandangan semacam ini tentu saja tidak lepas dari tradisi dikalangan Kristen yang tidak memandang adanya perbedaan antara teks asli dan terjemahan sebab mereka tidak memiliki teks yang asli ditulis pada masa kenabian. Umat Kristiani mengambil sepenuhnya dari Injil dalam bahasa apapun tanpa langsung merujuk kepada teks yang tertua. Teks tertua Bibel tidak pernah dimuat bersamaan dengan terjemahnya, seperti yang dilakukan umat Muslim ketika menerjemahkan al-Qur'an. Oleh sebab itu ketika terjadi perbedaan makna terjemahan umat Muslim dapat langsung merujuk kepada teks aslinya. Dengan demikian otoritas utama tetap pada teks aslinya, dan terjemah hanya berperan menjelaskan tanpa mempunyai otoritas seperti aslinya.
Sebagai perbandingan agaknya kita perlu menyimak pernyataan J.J.G. Jansen, dalam disertasi doktornya di Rijk suniversitiet Leiden tahun 1972, seorang yang memiliki otoritas dalam bidang al-Qur'an dikalangan Orientais, ia mengatakan :

Dibandingkan dengan kalangan Kristen, khotbah­khotbah -yang kadang-kadang mendatangkan perbaikan luar biasa-, yang didasarkan pada pengembangan yang cerdas dan kebetulan terhadap penyusunan terjemahan Injil, kadang sangat berlawanan dengan makna teks aslinya. Seseorang tidak bisa tidak kecuali memuji sikap Muslim terhadap masalah ini.59

Berdasar pernyataan di atas tradisi penyikapan wahyu dikalangan Muslim sangat berbeda dengan penyikapan umat Kristen. Pengembangan yang tentunya memuat perubahan yang bahkan sampai berlawanan dengan makna teks aslinya, dianggap sebagai kreatifitas yang cerdas. Sementara tradisi Islam sejak masa Rasulullah hingga saat ini melarang perubahan dalam bentuk apapun terhadap teks al-Qur'an. Sebab umat Muslim tidak perlu menyesuaikan teks al-Qur'an dengan perkembangan zaman karena memang tidak bertentangan.
Itulah sebabnya sangat sulit diterima jika ada ungkapan bernada mempertanyakan keaslian teks al-Qur'an sementara pernyataan itu keluar dari mereka yang dengan bangga telah merubah kitabnya sendiri. Pihak Gereja -yang berwenang atas terjemah Injil- boleh saja berkilah bahwa itu tidak merubah, tapi menerjemahkan. Tapi siapapun maklum bahwa ketika teks terjemah tidak disertai teks aslinya, maka umat yang memakainya tentu menjadikan terjemah tersebut sebagai satu­satunya sumber. Ketika otoritas terjemah dianggap sama dengan aslinya, maka perubahan terjemah akan merubah hukum ajaran yang dianut. Jika pada tahun 1976 umat kristen, dilarang makan babi. Maka setelah tahun 1999 mereka boleh memakannya, karena yang dilarang adalah babi hutan. Bagaimana jika pada tahun mendatang kecendrungan masyarakat akan konsumsi makanan berubah lagi. Semacam inilah yang termasuk dalam peringatan al-Qur'an, agar manusia tidak merubah ayat-ayat yang diturunkan kepada mereka.

Keindahan Bahasa AI-Qur'an

Masyarakat Arab pada masa turunnya wahyu adalah Inasyarakat yang sangat mengagungkan bahasa. Syair-syair yang muncul dikalangan mereka selalu membawa pengaruh sosial dan politik pada masa itu. Kemunculan Rasulullah Saw dengan ajaran yang baru dan sangat bertentangan dengan paham yang ada tentulah mengundang penentangan yang hebat, bahkan mengancam nyawa beliau. Sebagaimana Nabi-nabi lain yang telah terdahulu, setiap nabi dibekali dengan mukjizat yang dapat menaklukkan penentangan kaumnya sehingga mereka mempercayai risalah yang dibawanya. Jika Nabi Musa yang berhadapan dengan Fir'aun dan bala tentaranya - yang terkenal dengan kehebatan magic - dibekali dengan mukjizat yang dapat menandingi sihir, maka Rasulullah Muhammad Saw. yang berhadapan dengan masyarakat yang sangat mengagumi keindahan bahasa dibekali oleh dengan Mukjizat al-Qur'an yang disampaikan dengan keindahan bahasa yang dapat menandingi kemampuan masyarakat Arab saat itu.
Keindahan gaya bahasa al-Qur'an terbukti telah menunjukkan keampuhan perannya sebagai mukjizat bagi keberhasilan dakwah Rasulullah Saw. Banyak sekali riwayat yang menyatakan bagaimana sebagian masyarakat Arab pada awal dakwah Islam dengan serta merta mengakui kenabian Muhammad Saw hanya setelah mendengar ayat-ayat Qur'an. Berikut ini kami kemukakan riwayat Umar bin Khattab yang masuk Islam setelah mendengar ayat yang dibaca oleh Rasulullah Saw.

...berkata Umar bin Khattab : "Saya keluar untuk menemui Rasulullah Saw. (saat itu) saya belum masuk Islam. Saya mendapatkannya telah mendahului masuk masjid maka saya berdiri dibelakangnya, kemudian (Rasulullah) memembaca surat al-haqah maka saya terkagum-kagum dengan susunan (gaya bahasa) al-Qur'an ". (Umar) berkata : Maka saya mengatakan : "Ini adalah penyair seperti yang dikatakan oleh (kaum) Qurays". (kemudian Umar) mengatakan : "Maka (Rasulullah Saw.) membaca (ayat yang artinya) (Sesungguhnya al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. dan al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.]. Umar berkata: "Saya mengatakan (ini perkataan) peramal. Rasulullah mengatakan (menyebut ayat yang artinya) [Dan hukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. la adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. ] hingga akhir surat. Umar berkata : "maka menetaplah Islam dalam hatiku sedalarn-dalamnya. (HR. Imam Ahmad).

Sahabat Umar bukanlah seorang yang bodoh. Beliau adalah seorang yang sangat berani dan kritis dengan kemampuan berbahasa yang tinggi.  Masih banyak lagi riwayat keislaman masyarakat Arab karena kekaguman mereka terhadap gaya bahasa al-Qur'an.
Keindahan bahasa al-Qur'an baik dalam pemakaian kata maupun penyusunannya, diakui oleh masyarakat Arab sendiri sejak awal mula diturunkan hingga saat ini. Gaya bahasa yang sangat indah dari AI-Qur'an sekaligus menafikan adanya campur tangan manusia di dalamnya termasuk Rasulullah Saw. Pernyataan Robert Morey seperti berikut ini :

Ceceran sidik-jari tangan Muhammad dapat dilihat pada setiap halaman al-Qur'an sebagai saksi bahwa asal al-Qur'an tidak murni dari Allah. 60

Adalah pernyataan tanpa dasar. Setidaknya ada dua hal Yang perlu kita perhatikan dalam masalah ini yaitu :
Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang turun secara spontan. Dan tidak dapat disangkal bahwa redaksi yang disusun seseorang secara spontan, pasti mutunya lebih rendah dari yang disusun dengan berpikir lebih dahulu. Tetapi para kritikus bahasa - setelah membandingkan ucapan Nabi Muhammad Saw dengan ayat-ayat Qur'an - mengakui bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an lauh melebihi keindahan bahasa Nabi Muhammad Saw. Kalau bukan dari Allah mana mungkin yang spontan lebih baik dari yang dipikir lebih dahulu (lihat riwayat di atas).61
Pakar-pakar bahasa mengakui bahwa setiap orang mempunyai gaya bahasa tersendiri yang merupakan ciri khas masing-masing. Amat sulit bagi seseorang -kalau enggan berkata mustahil- untuk memiliki dua gaya bahasa yang berbeda. Jika anda membandingkan gaya bahasa al-Qur'an dengan gaya bahasa hadits maka anda akan menemukan suatu perbedaan yang menonjol.62

Gramatika Arab.

Adalah suatu keganjilan jika 14 abad setelah masa pewahyuan - ketika kefasihan berbahasa Arab oleh pemakainya sendiri tidak seindah dulu-, tiba-tiba ada seorang Amerika (Dr. Robert Morey) -yang tidak menguasai bahasa Arab- mengatakan:

Pertama-tama, AI-Qur'an bukanlah bahasa Arab yang sempurna. AI-Qur'an mengandung banyak sekali kesalahan gramatika seperti dalam surat 2:177 ........ 63

Gramatika Arab pertama kali ditulis secara serius oleh Sibawaih yang asli Persia pada abad ke II H. -1,5 abad setelah al-Qur'an diturttnkan-, setelah sebelumnya pada abad I H. dasar­dasarnya telah diletakkan oleh Abul Aswad ad-Duali. Bagaimana mungkin gramatika Arab menghukumi al-Qur'an sementara penulisan gramatika itu sendiri merujuk kepada bahasa al-Qur'an -selain syair-syair Arab-. Ini kan sama saja dengan mengatakan "berdasarkan air garam yang saya minum, maka air laut man itu kurang asin".
Seperti kata Robert Morey : "Yang lama mencocokkan yang baru".64 Karena nahwu yang datang sesudah al-Qur'an telah mengambil kaidah-kaidah pemakaian bahasa dari Qur'an, maka al-Qur'an lah yang menghukumi nahwu bukan sebaliknya. Ini baru prinsip yang masuk akal. Sedang untuk masalah ajaran agama yang tentunya memuat hukum untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Maka prinsip yang dipakai adalah prinsip hukum yaitu "Yang baru menghapus yang lama".

Satu hal yang perlu kita sadari bahwa gramatika ditulis berdasarkan generalisasi dari seluruh kata yang secara alami telah dipakai oleh suatu komunitas. Dan setiap generalisasi pasti menyisakan `kecuali'. Dalam bahasa Indonesia kalau saya katakan 'mensucikan' tidak akan salah menurut "Kaidah Bahasa Indonesia", karena ada dua kata yang jika terapkan dengan kaidah yang sama maka salah satu maknanya hilang, yaitu: cuci dan suci. Padahal seharusnya huruf pertamanya diganti "ny". Begitu juga bahasa Arab. Bahasa keseharian yang terekam dalam al-Qur'an sudah berlaku sebelum gramatika ditulis. Maka generalisasi dalam pengambilan kaidah bahasa yang datang kemudian akan menyisakan "pengecualian" yang kemudian dikatakan oleh Dr.Robert Morey melanggar tata bahasa.

Kisah-kisah dalam AI-Qur'an

Dr. Robert Morey ingin membabat habis semua kisah dalam al-Qur'an dengan tolak ukur kebenaran Bibel. Sementara otoritas Injil sendiri menyatakan seperti berikut ini:

Dr. Welter Lempp : 
"Susunan semesta alam yang diuralkan dalam Kitab Kejadian I tidak dapat dibenarkan lap oleh ilmu pengetahuan modern" (Tafslran Kejadian, hal. 58). "Pandangan kejadian I dan seluruh Injil tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan jaman ". 65

“Jadi benarlah Daud itu pengarang Mazmur yang 73 jumlahnya? Hal itu belum tentu. Sudah beberapa kali kita menjumpai gejala bahasa orang Israel suka menggolongkan karangan-karangan di bawah nama orang yang termasyhur... Oleh karena Itu tentu tldak mustahil pengumpulan-pengumpulan mazmur-mazmur itu (atau orang-orang yang hidup lebih kemudian) memakal nama Daud, karena raja itu Termasyhur sebagai pengarang mazmur-mazmur. Dengan lain perkataan, pemakaian nama Daud, Musa, Salomo itu merupakan tradisi kuno, yang patut diperhatikan, tetapi tradisi itu tidak menglkat" 66

Karena otoritas Injil sendiri yang mengatakan seperti di atas maka tentang kisah-kisah dalam al-Qur'an tidak perlu dibandingkan dengan Bibel. Namun ada baiknya kita membahas sedikit tentang kisah-kisah dalam al-Qur'an.
Penyikapan umat Muslim terhadap kisah-kisah dalam al­-Qur'an sangat berbeda dengan tradisi Kristen yang lebih memandang kisah Bibel sebagai kitab Sejarah. Umat muslim lebih memandang kisah tersebut sebagai Ibrah dan cermin untuk kehidupan mereka. Al-Qur'an sendiri selalu menyajikan kisah­kisah dengan cara terpisah. Kisah yang sama kadang diceritakan ulang dengan gaya bahasa dan penekanan yang berbeda. Ketika menceritakan dakwah nabi terdahulu misalnya, disajikan cerita beberapa nabi secara bersamaa, dengan penekanan terhadap peran nabi tersebut. Tentang penolakan kaumnya juga dikisahkan secara bersamaan tapi dengan penekanan pada masalah kaum tersebut. Satu gaya penyampaian yang sangat berbeda dengan kitab lainnya tapi dipahami oleh Dr. Robert Morey sebagai penyajian yang linier.
Dalam penyajian kisah seseorang al-Qur'an tidak menyebut nama secara pasti tapi hanya sebutan, seperti Imratul aziz (istri seorang terhormat-pejabat) untuk menyebut Zulaikha yang adalah istri dari seorang terpandang (pejabat Mesir). Kata "aziz" di atas bukanlah nama asli tapi sebutan seperti kita menyebut kata "terhormat" atau "tuan". Begitu juga Dzul Qornain (yang mempunyai dua tanduk) adapun siapa sebenarnya al-Qur'an tidak menyebutkan. Nama-nama tokoh sering disamarkan apalagi nama tokoh baik yang pernah melakukan kekhilafan seperti Zulaikha yang pernah menggoda Nabi Yusuf. Tapi unmk tokoh penting yang menjadi simbol dari kejahatan dan kebaikan, maka nama itu disebut dengan tegas, seperti Fir'aun, Haman, dan Karun. Nama Fir'aun memang tidak menunjuk satu personal karena Fir'aun adalah sebutan raja-raja Mesir, tapi karena kebanyakan raja-raja mesir kuno menuhankan dirinya maka sebutan umum itu disebutkan dengan tegas. Begitu juga nama­nama nabi dan rasul yang menjadi simbol kebaikan.
Disini kita memahami bahwa bukan nama dan tempat serta waktu dan tanggal juga tahun, tapi ibrah apa yang bisa diambil dari kisah mereka, itulah yang lebih penting. Sebab kisah dan sejarah tidak disajikan hanya sebagai bahan cerita. Penulisan kisah semacam inilah yang mestinya dilakukan penulis sejarah ketika mencatat peristiwa-peristiwa sejarah. Penulisan sejarah yang hanya ditujukan menyalahkan seseorang atau suatu rezim akan menyulut kejadian yang sama. Maka sejarah kelam sering terulang karena sejarah ditulis untuk balas dendam.

Susunan al-Qur'an

Hadits Nabi yang menyatakan "Al-Qur'an hanya bisa dipahami secara mendalam setelah memandang berbagai seginya" (al-Hadits). Seperti yang dikutip oleh Muhammad Arkoun dalam kajian ulum Qur'an-nya.
Jika ada yang mengeluh kesusahan memilah ayat untuk mencari membahas satu tema, saat ini sudah banyak sarana mencarinya. Tapi melihat al-Qur'an dengan cara memilah-milah saja akan menghilangkan banyak makna. Coba anda bayangkan jika seseorang hanya mengambil ayat jihad saja. Atau sebaliknya ayat-ayat kasih sayang saja. Jika kita kembali pada konsep tauhid dan konsep kemasyarakatan yang tertulis dalam ketiga kitab, seperti yang disampaikan al-Qur'an. Satu konsep tauhid, dan dua konsep kemasyarakatan. Dua konsep kemasyarakatan yang dijabarkan oleh masing-masing rasul, yaitu kasih sayang dan keadilan. Konsep kasih sayang digambarkan dengan mengasihi fakir miskin, yatim piatu, orang tertindas, musafir dll. Serta konsep keadilan yang digambarkan dengan ‘Qisas', nyawa dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, gigi dengan gigi, luka ringan dengan luka ringan (mohon tidak dicampur dengan pandangan praktisnya); bukankah konsep kedua ini menggambarkan rasa keadilan yang paling mendasar, Kesalahan berat diganjar berat, ringan diganjar ringan. Bukan berat diganjar ringan karena seorang tokoh, dan ringan diganjar berat karena rakyat jelata.
Satu konsep tauhid dan dua konsep kemasyarakatan untuk dua makhluq dari dua dimensi berbeda -materi dan non-materi­yaitu manusia dan jin. Semua itu disajikan oleh al-Qur'an dalam satu kesatuan, dan bukan dipisah. Sebab jika dipahami terpisah pasti akan ada yang ditinggalkan. Jika dipisah maka keseimbangan akan goyah. Kita tidak bisa menyalahkan rakyat palestina karena memang mereka sedang ditekan, secara mental dan fisik-telpon saja tidak bisa keluar dari wilayahnya-. Justru salah kalau mereka hanya menerapkan prinsip kasih sayang saja, sementara prinsip keadilan tidak ditegakkan. Born bunuh diri yang mereka lakukan lebih merefleksikan kondisi ketertindasan mereka dari pada sekedar ajaran-seperti yang sering dituduhkan selama ini-. Dunia barat sudah kehilangan keseimbangan akal dan perasaannya hingga tidak mampu melihat gajah dipelupuk matanya. Mereka menindas seenaknya kemudian menimpakan kesalahan pada orang yang ditindas ?
Kembali pada susunan al-Qur'an juga harus dilihat sama seperti melihat isinya. Ajaran yang sangat membutuhkan keseimbangan juga harus disampaikan dengan cara yang seimbang. Kita tidak bisa melihatnya dengan kaca mata kita yang suka melihat sesuatu menurut kehendak kita. Melihat susunan al-Qur'an secara parsial seakan kita memilah warna dari sekian banyak susunan bangunan yang berwarna pelangi. Kita kadang menginginkan yang merah saja, atau hijau saja tanpa memperhatikan bahwa kombinasi dari semuanya adalah keindahan. Yang jika dipisah maka hanya ada hamparan menjemukan seperti padang pasir dan lautan. Bahkan lautan pun dihiasi pelangi dan hamparan pasir dihiasi fatamorgana. Kita kadang harus memperhatikan para seniman dan sastrawan yang lebih bisa melihat keindahan hidup tanpa batasan teori yang kadang menghilangkan prinsip keseimbangan.
Novelis Inggris E.M. Foster dalam karyanya Aspects of the Novel mengejek upaya-upaya klasifikasi dalam melihat perkembangan sastra seraya menyatakan hal itu sebagai upaya pseudo-ilmiah (pseudo-scientific). Klasifikasi secara kronologis ataupun kecendrungan -tematis.67 Cara pandang Foster tersebut mungkin layak untuk kita terapkan dalam melihat susunan dan gaya bahasa al-Qur'an. Melihat susunan al-Qur'an yang dilandasi pemikiran parsial, tidak dapat menangkap sisi keindahan dari prinsip keseimbangan.
Coba kita telaah sekilas, Al-Qur'an yang dimulai dengan al-Fatihah dan di akhiri dengan an-Nas. Jika Al-fatihah disebut sebagai ummul kitab, hal itu tidak lah terlalu berlebihan, sebab disitulah inti ajaran tauhid. Setelah mengagungkan nama Allah kemudian menyatakan bahwa hanya kepada-Nya-lah menyembah dan memohon. Setelah itu memohon jalan orang­orang yang telah selamat memegang konsep dasar tauhid, jalan orang-orang yang mendapat ni'mat. Kemudian memohon agar terhindar dari kesalahan mereka yang telah menentang dan menghapuskan konsep itu.
Konsep tauhid ini kemudian mewarnai semua surat. Dalam setiap pembahasan baik ibadah dan kehidupan sosial selalu dikaitkan dengan Tauhid. Interaksi fertikal dan horizontal yang disimbolkan dengan "hamba" dan "khalifah" dalam dua dimensi kehidupan -materi dan nonmateri-, selalu ada dalam setiap surat. Bukankah itu suatu keseimbangan yang jika diubah maka keseimbangan itu akan hilang dan kehilangan ciri khasnya. Meninggalkan satu dimensi saja seseorang sudah tidak seimbang, kemudian mengatakan bahwa redaksi al-Qur'an melayang­layang. Dimensi non materi inilah yang sering dilupakan masyarakat modern, yang padahal mereka seringkali membuktikan keberadaannya, melalui kemajuan teknologi. Tidakkah kita melihat dalam dimensi non-materi seseorang bisa melakukan kontak tanpa media materi, kini hal itu dapat dinikmati orang banyak dengan adanya Handphone.
Setelah dua tujuan dalam dua dimensi itu disajikan, kemudian dalam surat-surat terakhir mu'awidzatain, konsep tauhid itu dinyatakan dengan sangat tegas lagi. Allah hanya Satu dan Allah lah tempat memohon -lihat makna ini dalam al­fatihah-. Lantas ditutup dengan permohonan agar keimanan diselamatkan dari gangguan makhluq dari dimensi non-materi, dan makhluq dari dimensi materi. Gangguan dari dimensi nonmateri mungkin tidak bisa diindera oleh manusia tapi bisa dirasakan, sedang yang dari dimensi materi/manusia kita bisa melihat dan mendengar (tayangan yang mencerminkan hedonisme -misalnya), membaca (Buku Islamic Invasion - contohnya), bahkan merasakan (gangguan fisik seperti yang dialami rakyat Palestina).
Secara Umum tidakkah itu merupakan suatu susunan yang indah dan sangat baligh-menurut istilah retorika Arab. Dimulai dari prinsip pokok yang singkat lalu dijabarkan kemudian ditutup dengan penekanan pada prinsip pokok yang disampaikan. Sehingga penekauannya lebih terlihat. Tidakkah kita melihat jika kita ingin menyampaikan sesuatu nasehat kepada anak misalnya : "Nak belajar lah", kemudian kita memberikan banyak alasan bahkan contoh dari orang-orang yang berhasil dan gagal, kemudian terakhir kita menekankan, ‘Jadi ingat ya, BELAJAR". Bukankan itu cara penyampaian yang tidak hanya bagus tapi tepat dan mendidik. Tidak otoriter, tapi dengan alasan dan ada penekanan di akhir. Itulah gaya al-Qur'an semua disertai dengan bukti, baik tertulis maupun contoh nyata kehidupan. Inilah gaya penulisan untuk mengungkap misteri kehidupan dari manusia yang suka memandang sesuatu sesuai yang diingini. Sehingga tidak bisa melihat sisi keseimbangan yang bahkan kita lihat dalam kehidupan nyata. Suatu saat mungkin orang mulai menggunakan cara-cara penulisan seperti yang dicontohkan al-Qur'an.
Coba kita renungkan berapa buku yang bisa bertahan lebih dari dua tiga kali baca secara lengkap? sebab ketika membaca yang kedua kita merasa sudah tahu isi dan maksud seperti judulnya kemudian bosan. Tapi al-Qur'an, tiap hari dibaca tanpa ada kejenuhan sedikitpun. Setiap kali dibaca kita menangkap satu pengertian yang tidak kita tangkap sebelumnya. Dalam situasi kejiwaan yang mandeg dan jumud kadang kita menangkap makna isyarat yang menjadi kata penentu dari sikap yang harus diambil. Dalam menghadapi situasi yang rumit dan seakan tak ada solusi kita menemukan kata kunci dari permasalahan yang dihadapi. Kita bahkan merasakan seakan setiap ayat berdiri sendiri jalin jalin menjalin dengan ayat lain, bahkan setiap kata kalau kita melihat rinci, masing-masing memiliki perannya. Sangat berbeda dengan tulisan manusia yang kadang menggunakan kata seenaknya, sehingga ada istilah kata sisipan yang kalau dihapus tidak berpengaruh pada yang lain.

Gothe menyatakan dalam Noten und Abhandlungen :

"Gaya bahasa al-Qur'an adalah, sesuai dengan isi dan tujuan-tujuannya, bersifat agung, mengagumkan, dan dalam beberapa tempat benar-benar sublim"..68

AI-Qur'an Sumber Petunjuk

Ketika seseorang ingin membaca al-Qur'an, setelah membaca surah al-Fatihah yang perupakan pembuka al-Qur'an, ia akan langsung mendapatkan tiga ayat pertama dari surat ke dua (Surat AI-Baqarah - Sapi betina) ketiganya berada di awal surat al-Baqarah yaitu :

Alif laatn miim, Kitab itu (al-Qur'an) tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. (al-Baqarah :1-2)

Setelah meyakinkan pembacanya bahwa al-Qur'an tidak ada keraguan di dalamnya, selanjutnya Allah menyatakan bahwa al-Qur'an sebagai Hudlan yang berarti hidayah/petunjuk bagl orang-orang yang bertaqwa. Di sini pembaca diingatkan bahwa al-Qur'an adalah petunjuk dan hidayah, oleh sebab itu yang mestinya dilakukan oleh pembaca/pengkaji al-Qur'an adalah istlhda' (minta/mencari petunjuk/hidayah). Yang namanya mencari bisa dapat bisa tidak, juga meminta bisa diberi bisa tidak. Kalau yang mencari saja belum tentu dapat dan yang meminta belum tentu diberi bagaimana dengan yang membaca dengan niat menghujat ? Wow sehebat apa manusia di hadapan penciptanya.
Setiap bacaan pasti ada cara membacanya dan cara baca yang salah akan menghasilkan kesan dan kesimpulan yang salah pula, kan tidak mungkin anda membaca buku telpon seperti membaca cerita roman?. dan al-Qur'an kurang tepat jika dibaca seperti layaknya bacaan-bacaan yang lain, apalagi jika Allah sendiri telah menyatakan bahwa al-Qur'an merupakan petunjuk dan sumber hidayah.
Sebagai petunjuk dan mukjizat, sangat kecil artinya jika al-Qur'an hanya dianggap kitab sejarah, walaupun di dalamnya memuat fakta-fakta sejarah. Akan terasa kering jika al-Qur'an hanya dianggap kitab sastra, walaupun gaya bahasanya sangat tinggi dan diakui oleh masyarakat Arab dan non-Arab. Al-Qur'an juga bukan sekedar buku iptek, walaupun memuat isyarat-isyarat ilmu pengetahuan.
Al-Qur'an adalah petunjuk Allah Swt. bagi umat manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad Saw. Wahyu/ petunjuk Allah tersebut diturunkan secara bertahap -ayat demi ayat- seiring perjalanan dakwah Rasulullah, diturunkan di Makkah selama 10 th dan di Madinah 10 th. Petunjuk Allah inilah yang membawa keberhasilan dakwah beliau sehingga mampu merubah kehidupan bangsa Arab dalam waktu ± 23 th. Fungsi tersebut tetap berlanjut pada masa sepeninggal Rasulullah hingga umat Muslim mampu menciptakan peradaban yang diakui oleh bangsa-bangsa lain. Bahkan sampai saat ini fungsi tersebut tetap berlaku, terlepas apakah manusia -umat Islam khususnya saat ini- menyadari peran dan fungsi petunjuk dari AI-Qur'an tersebut atau tidak.
Penulis buku Islamic Invasion sebenarnya memperhatikan hal ini, hanya saja logika penyampaiannya dengan sengaja dibalik, yang semula "Nabi menerima wahyu sebagai petunjuk dalam menghadapi permasalahan dakwah yang
timbul" tapi kemudian dibalik menjadi "ketika permasalahan pribadi timbul nabi menurunkan wahyu sebagai jalan keluarnya", kelihatannya segala cara dipakai Robert Morey untuk melampiaskan kebenciannya. Berikut ini kutipan salah satu dari tiga contoh yang ditulis Robert M.:

3. Ketika banyak orang mengganggu Muhammad di rumahnya, dia segera menerima wahyu yang sesupi yang menetapkan peraturan mengenai kapan mereka boleh mengunjunginya dan kapan tidak boleh mengganggunya (Surat 33:53-58; 29: 62-63; 49:1-5).69

Ketiga contoh yang dikemukakan adalah masalah-masalah pribadi Nabi. Sedang kejadian lain tentang masalah yang lebih utama yaitu masalah dakwah tidak berani dia ungkapkan, sebab akan bertolak belakang dengan logika terbaliknya. Kisah sejarah dakwah Rasulullah yang kami maksud adalah sebagai berikut :
Pada awal dakwah Rasulullah di Makkah, Nabi mendapatkan permusuhan yang sangat keras, diantara mereka yang paling memusuhi terdapat dua orang Quraisy yaitu : An­ Nadhr bin al-Harits dan Uqbah bin Abi Mu'aith, keduanya diutus oleh kaum musyrik Quraisy untuk mencari bahan guna merusak dan menghentikan dakwah Rasulullah, mereka berdua diutus ke Madinah menemui pendeta Yahudi untuk menanyakan hal Ikhwal Nabi Muhammad Saw.
Atas pertanyaan dua orang itu para pendeta Yahudi menjawab "Tanyakan kepada Muhammad tiga soal penting. Kalau ia dapat menjelaskan berarti ia benar-benar seorang Nabi. Kalau ia tidak dapat menjelaskan berarti ia hanya membuat­buat omong kosong dan kalian boleh berbuat apa saja terhadap dirinya. Tanyakan kepadanya kisah tiga orang pemuda yang Pada zaman dahulu melarikan diri dari istana kerajaan. Kisah mereka amat menakjubkan. Tanyakan kepadanya mengenai seorang lelaki yang berkelana di muka bumi dari timur hingga ke barat, bagaimana kisahnya! Tanyakan juga kepadanya soal roh, kalau ia dapat menjawabnya maka ia adalah seorang Nabi begitu sebaliknya".
Setelah melaporkan kepada kaumnya, beberapa hari kemudian bersama-sama mereka menemui Rasulullah untuk menanyakan ketiga pertanyaan seperti di atas. Rasulullah menjawab : "Semuanya itu akan kujelaskan kepada kalian besok pagi". Beliau menjanjikan jawaban itu tanpa mangucap "Insya Allah" (“Jika Allah menghendaki"). Atas kelalaiannya itu Allah Swt. tidak menurunkan wahyu-Nya selama 15 hari (riwayat lain mengatakan tiga hari). Selama itu beliau menanti-nanti turunnya wahyu dengan cemas dan gelisah karena telah menjanjikan kepada kaun musyrik Quraisy untuk memberikan jawaban "besok pagi".
Akibat kelambatan turunnya wahyu itu ejekan dan cemoohan kaum musyrikin tambah menjadi jadi. Kalau memang benar tuduhan Robert Morey, maka Rasulullah tidak perlu menunggu sampai 15 hari, malam karang cerita besok pagi beres. Tapi yang terjadi sebaliknya, wahyu yang diturunkan selain berupa jawaban juga berupa teguran dari Allah [dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan atas sesuatu sungguh aku akan melakukan itu besok pagl] (Qs. al-Kahfi: 24) itupun setelah 15 hari. Jawaban untuk pertanyaan pertama -tentang kisah 3 orang pemuda- adalah Surat Kahfi : 1- 6; jawaban pertanyaan kedua -tentang seorang lelaki pengelana- adalah surat Kahfi : 83-88; dan jawaban pertanyaan ketiga -tentang roh- adalah surat al-­Isra: 85.
Jika untuk masalah yang paling besar yang menyangkut dakwah beliau tidak berani mengada-ada -padahal resiko keterlambatan wahyu yang dialami beliau sangatlah berat- untuk apa beliau mengarang wahyu untuk hal-hal yang sifatnya pribadi dan sepele. Mengarang cerita jawaban saja tidak berani apalagi mengarang wahyu.

Berinteraksi dengan al-Qur'an (upaya mencari petunjuk)

Petunjuk sangat berhubungan dengan kesiapan penerima petunjuk, baik akal maupun mental, lebih dari itu, petunjuk tidak lepas dari kehendak si pemberi petunjuk. Seseorang yang bersikap arogan dan apriori akan sulit menerima suatu petunjuk bahkan mungkin sulit untuk mencerna isinya. Sebaliknya seorang yang berlapang dada akan lebih cermat memahami isi petunjuk dan bahkan bisa menerimanya.
Apalagi untuk memahami petunjuk dari yang mencipta kehidupan, tidak hanya kesiapan mental tapi juga kesiapan akal (daya nalar dan bekal keilmuan). Namun demikian kesiapan mental adalah yang paling mendasar, sebab -tanpa niat baik­setinggi apapun ilmu dan IQ seseorang tidak akan mampu memahami apalagi menyerap pesan al-Qur'an. Kesiapan mental inilah yang menjadi password untuk dapat mengakses al-Qur'an, tanpanya jangan harap bisa masuk sebab akan ada "dinding penghalang" seperti yang termaktub dalam surat Al-Isra' 17: 45-46 yang kami terjemahkan seperti berikut:

"Dan apabila kamu membaca AI-Qu'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut nama Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya"  (al-Isra' 17: 45-46).

Untuk dapat mengakses al-Qur'an tentu saja dengan sikap mental yang baik (niat baik) setidaknya sikap jujur dan objektif. Jika sudah masuk maka ia akan dihadapkan pada sekian banyak ajaran yang mengacu pada tema sentral yaitu Tauhid. Mereka akan lebih mudah mencerna dan menerima petunjuk tersebut. Berikut ini adalah contoh pengalaman beberapa dari mereka.
Maryam Jamilah (Amerika) yang lahir dan dibesarkan di keluarga Yahudi reformis, menceritakan pengalamannya sebagai berikut :

"Suatu kali ayah saya berkata bahwa tidak ada nilai yang bersifat tetap di dunia ini. Karena itu, kita harus mengubah diri kita sesuai dengan situasi yang terus berubah. Namun, saya tidak pernah menerima pernyataan ini. Dahaga saya terhadap Kebenaran semakin meningkat. Dengan kasih-sayang Allah saya menemukan tujuan berharga saya setelah mengkaji Al-Quran. Saya menjadi yakin bahwa apa yang dilakukan untuk mencoba mencari Karunia Allah tidak pernah sia-sia; apabila imbalannya tidak diperoleh di dunia ini, maka ganjarannya di Hari Kemudian adalah suatu keharusan ".70

Dr. Murod Hofman, duta besar Jerman di Maroko. Perkenalannya dengan Islam bermula saat berada di Al-Jazair tgl. 28 Mei 1962, saat melihat kegigihan dan semangat pejuang al-Jazair dalam melawan penjajah. la tidak dapat memahami dari mana datangnya dukungan yang tersembunyi ini, sampai ia dapatkan jawabannya dalam Al-Qur'an. 18 tahun kemudian, tepatnya tanggal 25 September 1980 beliau masuk Islam.
Kenyataan seperti ini seringkali terjadi, beberapa diantaranya terjadi atas Maurice Buchael yang dikritik oleh penulis buku "Islamic Invasion", Roger Garaudy yang mendapat tekanan dari Zionis, Muhammad Asad (Leopold Wais), dan banyak tokoh lain yang tidak mungkin kami sebut satu persatu. Bahkan penulis (Irena) sendiri sangat bersyukur, mendapatkan jawaban tentang masalah ketuhanan dari al­Qur'an, bahkan ketika masih menjadi biarawati. Petunjuk inilah yang mengantarkan penulis masuk Islam.
Al-Qur'an adalah kebenaran, sesuatu yang haq/benar tidak perlu diperdebatkan, sebab seseorang yang ingin mendebat kebenaran dapat dipastikan menghendaki kebenaran tersebut agar berkurang atau hilang; sama halnya seseorang yang ingin mendebat sesuatu yang haram, bisa dipastikan ingin agar menjadi halal, minimal setengahnya.71 Toh al-Qur'an tidak pernah memaksa seseorang, [Dan katakanlah:"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".] (QS. Al-Kahfi: 29), jika ingin mengambil petunjuk dari al-Qur'an silahkan. Jika tidak juga silahkan, tapi Segala akibat ditanggung sendiri lho.

Interaksi total

Sebagai petunjuk bagi umat manusia, maka al-Qur'an berbicara kepada manusia secara total, mencakup dimensi materi dan non-materi, berikut peran mereka sebagai hamba sekaligus kholifah. Itulah sebabnya Al-Qur'an berbicara kepada manusia melalui hati dan akalnya. Materi yang dibicarakan juga mencakup seluruh aspek kehidupan, maka dalam penyajiannya juga tidak lepas dari ciri totalitas. Dimensi mated dan non-materi tidak disampaikan secara terpisah. Posisi manusia sebagai hamba dan khalifah juga disampaikan dalam satu kesatuan. Totalitas inilah yang sering disalah-artikan orang sebagai hal yang "campur aduk".
Totalitas interaksi nalar menghendaki pemahaman al­-Qur'an secara utuh dari segala segi. Tidak bisa diambil sebagian untuk kemudian dilupakan bagian yang lainnya. Bukankah al­-Qur'an sendiri melarang tindakan separo-separo semacam itu. Pengalaman umat terdahulu adalah ibrah bagi kita, seperti ayat berikut ini -yang artinya-

[Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian dari AI-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.] (QS aI-Baqarah : 85).

Tokoh kajian Islam kontemporer Muhammad Arkoun dalam telaahnya terhadap al-Qur'an mengutip hadits Rasulullah -sebagai pijakan kajiannya- yang artinya : "Al-Qur'an hanya bisa dipahami secara mendalam setelah memandang berbagai seginya" (al-Hadits).
Totalitas interaksi kalbu, menghendaki keimanan dan kesadaran seperti yang diisyaratkan pada kelanjutan dari ayat-ayat pertama surat al-Baqarah yang telah kita bahas sebelumnya. arti ayat tersebut adalah

[(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.] (al-Baqarah : 3-S).

Tentang bagaimana tata caranya, filosof dan penyair kenamaan Muhammad Iqbal menceritakan pengalaman interaksinya dengan al-Qur'an sebagai berikut :

I used to read the holy Qur'an every morning. My father saw me reading and often heard my recitation. It gave him immense pleasure. He came to me once and said how he would like to tell me two things when the occasion arose.

I had waited long for the fulfillment of my father's promise. When one day, after I had passed my B.A., he came to me. I was then reciting the holy Qur'an as usual after my morning prayers. He reminded me of his promise, but wished to be assured that I would carry out his instructions to the best of my ability. On my promising to do so, he wanted me to try and feel while reciting the Holy Qur'an that the almighty God was talking to me, and secondly to try and carry his message to the humanity.72

Saya selalu membaca al-Qur'an setiap pagi. Ayah melihatku membaca dan seringkali mendengarkan bacaan saya. Hal itu memberikan kepuasan yang berarti baginya. Suatu saat beliau datang kepadaku seraya mengatakan bahwa ia ingin sekali memberitahuku dua hal jika saatnya tiba.
Saya lama menunggu pemenuhan janji Ayahku. Hingga suatu hari, setelah saya menyelesaikan B.A., Beliau datang kepadaku, saat itu saya sedang membaca al-Qur'an sebagaimana biasa setelah shalat shubuh. Beliau mengingatkan saya akan janjinya. Tapi beliau hendak memastikan dulu bahwa saya akan memegang nasehatnya sebaik yang saya mampu. Dengan janji saya untuk melakukannya, beliau memintaku untuk berusaha merasakan bahwa saat membaca al-Qur'an Tuhan yang Mahakuasa sedang berbicara kepada saya, dan yang kedua agar berusaha membawa pesanNya kepada umat manusia.
Penulis biografi M. Iqbal, prof. Masud-ul-Hasan, mengomentari penuturan Iqbal di atas sebagai berikut : Bahwa implikasi dari nasehat tersebut, al-Qur'an hendaknya tidak dibaca dengan cara yang biasa; ia harus dianggap seperti dialog antara Tuhan dan manusia. Kedua, pesan dari al-Qur'an tersebut harusnya tidak hanya untuk memuaskan diri sendiri; tapi harus disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang cocok.73
Muhammad Iqbal sangat bersungguh-sungguh memegang nasehat sang ayah sepanjang hidupnya. Dan nasehat inilah yang membuatnya menjadi seorang Muhammad Iqbal seperti yang kita kenal. Maka tidaklah mengherankan jika dia sampai mengatakan : "None knows the secret that momin. Though he looks to be the reader, is really the Qur'an"74.
Imam Al-Qhazali mengajarkan password untuk sebuah akses yang maksimal, namun seberapa jauh seseorang dapat melakukannya tergantung masing-masing individu. Password tersebut adalah sikap yang oleh Imam al-Ghozali dibagi dalam tiga tingkatan interaksi sebagaimana berikut :

Tingkatan terendah             :
Seorang pembaca dalam posisi seakan membaca al-Qur'an di hadapan Allah, melihat dan mendengarkan dari pada-Nya.Maka kondisinya dalam tingkatan ini seperti seorang yang sedang bertanya, meminta dan memohon.
Tingkatan menengah         :
Menyaksikan dengan hatinya seakan Allah melihat dan berbicara kepadanya dengan segala kelembutan, serta memberikan kepadanya segala kenikmatan dan kebaikan. Maka posisinya adalah: malu, mengagungkan, mendengarkan, dan memahami.
Tingkatan tertinggi              :
Kondisi dimana seseorang mampu melihat Pembicara dalam dialog tersebut, ia juga mampu melihat sifat-sifat didalam kalimatNya. Maka ia tidak melihat kepada dirinya sendiri maupun bacaannya, atau kepada segala macam keni'matan yang diberikan kepada. la menjadi tidak menginginkan apa­apa dari sang Pembicara, segenap pikirannya tertuju kepadaNya, seakan hanyut dalam menyaksikan Pembicara tanpa ada yang lainnya. Inilah derajat para muqorrobin, dan yang sebelumnya adalah derajat ashabul yamin, sedang yang diluar ini adalah orang-orang yang lalai.75

Sikap seperti inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim dalam membaca firman-firman Allah Swt. terlepas dari hujatan dan cemoohan umat lain yang memang sejak dulu sudah sering mereka lakukan. Sebab yang paling ditakutkan oleh mereka adalah jika umat Muslim benar-benar memahami dan menjalankan petunjuk Allah yang ada dalam al-Qur'an. Coba anda bayangkan kalau umat Muslim mau perpegang pada ajaran al-Qur'an tentang persaudaraan sesama mu'min, mungkin penindasan terhadap umat Muslim tidak akan terjadi, minimal bisa terkurangi.
Kekuatan ayat-ayat al-Qur'an dalam memberikan petunjuk dan bimbingan telah dibuktikan oleli Rasulullah Saw. dengan keberhasilan dakwah beliau dalam tempo 23 tahun, Hal Yang sama telah dibuktikan oleh para sahabat dan penerusnya hingga mampu menciptakan suatu peradaban yang telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia, termasuk didalamnya kemajuan Eropa. Hal ini secara ddak langsung telah membuktikan bahwa al-Qur'an adalah suatu mukjizat yang paling besar dan bisa dirasakan tidak hanya oleh Sang Nabi tapi juga oleh pengikutnya, bahkan oleh siapapun yang ingin merasakan kehebatannya. Pantas saja jika al-Qur'an menantang manusia untuk membuat satu atau sepuluh surat semisalnya, tanpa bantuan Allah.
Sejarah telah membuktikan kebenaran al-Qur'an sebagai petunjuk, lantas bagaimana dengan ayat-ayat buatan manusia yang katanya nongkrong di situs Internet menunggu Juri?, apa sumbangsih yang telah diberikan bagi umat manusia? hujatan ataukah provokasi ? yang pasti salah satu dari keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar