KITAB SUCI
Kenapa
kalian mengingkari
ayat-ayat
Allah...?
KEBIASAAN MERUBAH
Dalam
pembahasan agama-agama samawi maka keberadaan wahyu adalah mutlak. Nabi Musa
yang ajarannya kemudian menjadi agama Yahudi juga mendapatkan wahyu dari Allah.
Hanya saja umat Yahudi lebih mengunggulkan komentar atas wahyu-wahyu tersebut
ketimbang wahyu itu sendiri. Maka tidak heran jika umat Yahudi sekarang lebih
menyukai Talmud dengan meninggalkan Taurat. Sedangkan Talmud tersusun
berdasarkan dua komentar atas Taurat yang terkenal yaitu Mishnah dan
Gemara.1 Taurat sendiri yang kini
dipegang umat Kristen banyak berisikan hal-hal yang sangat mustahil jika
dikatakan sebagai ayat-ayat Allah. Sebagai contoh dalam Yehezkie123 :1-21,
berisi ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan di dalamnya penyimpangan
seksual yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh
anak-anak di bawah umur. Ada kalimat-kalimat yang sangat cabul dengan menyebut
(maaf) buah dada, buah zakar, menjamah-jamah, birahi, dan lain-lain, contohnya :
(ayat.3) "Mereka
bersundal pada masa mudanya; di sana susunya dijamah jamah dan dada
keperawanannya dipegang -pegang".
Ayat yang
selanjutnya 5, 8, 11, 18, 20, 21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang
tidak sepantasnya ditulis bahkan di dalam buku ini. Hal ini secara tidak
langsung menunjukkan adanya perubahan atas ayat-ayat yang diturunkan pertama kali. Kembali
pada Taurat, setelah kepunahannya, kitab ini pertama kali ditulis antara tahun
536-456 SM. oleh pendeta Ezra yang masuk dalam Perjanjian Lama sebagai "The book
of Ezra".2 Kitab Perjanjian Lama tertulis dalam bahasa Ibrani,
walaupun ada beberapa yang tertulis dalam bahasa Aramaik seperti pada Jeremiah
10:2, Daniel 2:4-7:28, Ezra 4:8-6:16 dan 7:12-26. Penyalinan ke dalam bahasa
Yunani (Aleksandria) dilakukan sejak abad III SM. namun pengerjaannya secara
lengkap baru selesai sekitar abad I M. inilah yang dikenal sebagai "Septuagint"
yaitu kitab Perjanjian Lama tertua dan paling umum. Selain ini ada penyalinan
lain seperti versi Siriak yang dikerjakan dari abad II SM hingga abad II M. juga
versi Coptik dan Ghotik yang bersumber dari Septuagint. Baru pada tahun 382-405
M, St. Jerome menyalin ke dalam bahasa Latin yang bersumber dari versi Ibrani
dan Yunani yang kemudian dikenal sebagai "Vulgate”.3 Kini naskah tertua kitab Taurat
(Perjanjian lama) yang dimiliki oleh Gereja adalah yang tertulis sekitar tahun
1005. maka Kitab Perjanjian Lama yang paling modern berdasarkan salinan yang
dikeijakan oleh para Masoret (yaitu kelompok penulis kitab suci Yahudi)
ini.4 Penyalinan dari satu bahasa
Re bahasa lain tidak
menutup kemungkinan adanya perubahan. Hal ini semakin jelas dengan ditemukannya
gulungan naskah kitab suci di Gua Qumran del:at.laut mati (The Dead Sea
Scrolls). Jeffery L. Sheller & Joannie M. Schorf dalam komentarnya tentang
The Dead Sea Scrolls menyatakan:
"Satu
gulungan secara dramatis
menunjukkan minimal satu kitab Perjanjian Lama telah berrrbah melalui abad-abad
penyalinan Naskah gulungan kitab Yesaya pasal 66 - diantaranya tersimpan
lerrgkap di perpustakaart Qumran-ditemukan 13 perbedaan minor dari teks modern".
5
Injil
yang masuk dalam kitab
Perjanjian Baru, tidaklah mengalami nasib yang lebih baik. Akibat pemaksaan
doktrin trinitas pemakaian kosa kata dalam injil berubah, berikut ayat-ayat
sisipan yang dapat merancukan paham monoteisme sebagai ajaran asli Yesus.
Menurut Theodore Zahn, sebagaimana dikutip oleh E.J. Goodspeed di dalam The
Apostolic Fathers, menjelaskan bahwa sampai sekitar tahun 250 M Kalimat keimanan
itu masih berbunyi: “Saya percaya kepada Allah yang Maha Kuasa”. Antara
tahun tahun 180 M sampai dengan tahun 210 M ada yang menambah kata "Bapa" di
depan kata "Yang Maha Kuasa": Tindakan ini dikecam keras oleh beberapa
tokoh-tokoh gereja. Uskup Victor dan Zephysius mengutuk penambahan yang
mencemari kemurnian kitab suci dan menentang pendapat yang mengatakan bahwa
Yesus itu adalah oknum Tuhan.6 Penambahan tersebut adalah
konsekwensi dari penerapan pendapat bahwa Yesus adalah ‘anak tuhan'.
Seperti
pendahulunya, kitab Perjanjian Lama yang diguncang badai penemuan
arkeologi berupa gulungan kitab kitab suci di Gua Qumran (1947), akhir-akhir
ini kitab Perjanjian Baru juga mengalami nasib yang sama, para sarjana Bibel
yang terdidik di universitas terbaik di Amerika dan Eropa berkumpul bersama
dalam sebuah kajian panjang selama 6 tahun untuk menjawab pertanyaan bersama
‘Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Yesus?".7 Pertanyaan ini akhirnya terjawab
dengan suatu hasil penelitian yang menggemparkan dunia Kristen
bahwa perkataan yang diperkirakan asli dari Yesus hanya 18 %, dan sisanya?.8 Suatu hasil kajian panjang dari para
sarjana Bible terkemuka yang tidak bisa begitu saja terabaikan. Namun demikian
apa tanggapan mereka-mereka yang sudah mengeras hatinya? Beberapa tokoh Kristen
Indonesia menyatakan bahwa kajian tersebut tidak valid karena menggunakan
metodologi skeptisme?.
Pada awal buku
ini kami pernah menyinggung tentang janji Allah dalam
al-Qur'an:
"...Perhatikan bagaimana Kami
Menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian
perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari
memperhatikan ayat-ayat Kami itu) (Al-Maidah
75).
Tanda-tanda
kebesaran Allah telah
dipertontonkan dengan penemuan arkeologi di Qumran dan
seminar 6 tahun para pakar Alkitab. Satu bukti yang tidak bisa begitu saja
dianggap remeh. Dan seperti yang diperingatkan Allah kita dapat menyaksikan
bagaiamana mereka berpaling. Maha benar Allah dengan segala
firmannya.
Penetapan
pendapat bahwa seorang manusia menjadi ‘anak tuhan' yang kemudian mewujudkan
doktrin Trinitas mengharuskan adanya sekian banyak kebohongan yang terusmenerus
berjalan berabad-abad. Hal ini telah menjadikan hat para pelakunya semakin
mengeras. Peringatan Allah melalui para Nazaren (bahasa al-Qur'an Nashoro)
mereka tanggapi dengan amat kejam, banyak dari mereka yang terbunuh.
Kekerasan hati
itu menyebabkan mereka berbuat apa saja termasuk mengganti ayat-ayat Allah yang
diturunkan kepada nabi Musa As. kemudian nabi Isa As. Tidak puas dengan merubah
ayat-ayat yang diturunkan kepada kedua nabi tersebut mereka berusaha merubah
ayat-ayat yang diturunkan kepada nabi terakhir Muhammad Saw. Upaya pengaburan
Al-Qur'an mereka lakukan sejak dulu dengan mengeluarkan hadits-hadits
Israiliyat, juga upaya merubah ayat-ayat Al-Qur'an. Di Indonesia sendiri umat
Kristen baru-baru ini dengan sangat berani memunculkan sebuah buku dengan judul
"Al-Haqiqah
al-Makhfiah daakhil al-Quran al-Karim" yang mereka samarkan sebagai hasil terbitan
pemerintah Saudi Arabia dan diterjemahkan menjadi "Kebenaran tersembunyi dalam
al-Qur'an". Di dalamnya termuat ayat-ayat yang dipotong-potong serta
penerjemahan yang dimanipulasl dengan mencatut nama para penerjemah yang dikenal
di Barat yaitu Yusuf Ali dan Pickthal untuk tujuan tertentu. Sebagai contoh,
mereka memotong-motong satu ayat dalam surat Yunus:
94, sebagai
berikut :
Diartikan :
Maka jika kamu (Muhammad) berada
dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah
kepada orang-orang yang mernbaca kitab sebelum kamu, Sesungguhnya telah datang
kebenaran kepadarrtu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-sekali kamu
termasuk orang-orang yang ragu-ragu.
Padahal ayat yang sebenarnya adalah
:
Maka jika kamu
(Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang kami turunkan kepadamu, maka
tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelum karnu. Sesungguhnya telah
datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu. (QS.Yunus:
94).
Ayat di atas
dipakai alasan Dr. Robert
Morey untuk
menyatakan bahwa ajaran al-Qur'an berasal dari injil apokrit (terlarang/bid'ah).
Menurut Ibnu Katsir ayat tersebut adalah merupakan sugesti bagi umat, bahwa
sifat nabi mereka tercantum dalam kitab-kitab terdahulu. Seperti yang
diriwayatkan oleh Qotadah, Ibnu 'Abbas, Sa'id bin Jubair, serta Hasan al-Bashri
bahwa Rasulullah mengomentari perihal ayat tersebut dengan mengatakan:
"Aku tidak ragu dan
tidak bertanya".9
Upaya-upaya
lain amatlah banyak termasuk apa yang ditulis oleh Dr. Robert Morey yang sedang
kita bahas dalam buku ini.
Poin-poin hujatan
Dr. Robert Morey terhadap al-Qur'an meliputi masalah:
-
Masalah proses pewahyuan dan mujizat
-
Sejarah penulisan al-Qur'an
-
Redaksi dan bahasa al-Qur'an
-
Beberapa kandungan al-Qur'an.
Hanya saja cara
menghujatnya sangat tidak menunjukkan citra seorang akademis. Secara umum cara
yang dilakukan sangat memalukan diantaranya:
-
Memanipulasi riwayat hadits tentang sejarah penulisan al-Qur'an.
-
Memanipulasi penerjemahan ayat-ayat Qur'an.
-
Menggunakan logika "Yang lama mencocokkan yang baru" sebagai dasar untuk menilai keabsahan kandungan al-Qur'an (sudah kita bahas pada awal buku ini).
-
Serta ungkapan-ungkapan kebencian yang tidak berdasar sama sekali.
Oleh sebab itu
dalam menjawabnya kami tidak mengikuti alur penulisan Dr. Robert Morey yang
acak-acakan. Kaml membuat alur penulisan sendiri sedang pokok-pokok hujatan kami
masukkan dalam alur bahasan yang sesuai.
WAHYU DAN MUKJIZAT
Pada awal
pembahasan buku ini kita pernah membahas adanya kesinambungan wahyu sejak
Nabi-nabi terdahulu hingga yang terakhir. Pesan-pesan Tauhid dan dua prinsip
kehidupan sesama manusia, yang tergambar dalam prinsip kasih sayang dan prinsip
keadilan, terlestarikan pada masing-masing kitab.
Untuk
menyajikan kajian tentang wahyu ini, kami akan menggunakan berita-berita nubuat
dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Injil). Kalau kami membahasnya dari
kacamata Bibel bukan berarti mempercayai seluruh isi Bibel, ayat-ayat Bibel yang
menyalahi konsep tauhid dan dua konsep kemanusiaan akan kami kesampingkan
apalagi ayat-ayat yang porno dan tidak masuk akal. Hal ini berdasarkan prinsip
yang dipakai Dr. Robert
Morey dalam
banyak hujatannya terhadap al-Qur'an, yaitu "Yang lama mencocokkan yang baru".
Dan sudah kita bahas pada awal buku ini. Pendapat kami tersebut tidak bisa
disebut inkonsisten, di mana menyatakan ada penyelewengan dalam Bibel di satu
pihak sementara beberapa dalil memakai Bibel. Inkonsistensi bisa dikatakan jika
tidak ada aturan yang jelas, sementara bahasan kami ini berdasarkan aturan yang
ditetapkan sendiri oleh Dr. Robert
Morey seperti
prinsip tersebut di atas. Dengan prinsip ini sebenarnya secara logika kami boleh
menggunakan ayat-ayat al-Qur'an untuk menunjang semua bahasan sehingga kita akan
mendapatkan pengertian yang benar dari permasalahan yang dilontarkan.
Banyak sekali
ayat-ayat Bibel yang
menubuatkan akan adanya seorang Nabi baru yang datang setelah Nabi Isa As,
(Yesus). Dan perlu kami tegaskan bahwa tidak ada nabi lain setelah masa Yesus,
sebab Yohanes Pembabtis (Nabi Yahya) adalah hidup sezaman dengan Yesus. Namun
kami hanya memfokuskan pada nubuat Musa yang tercantum pada Kitab Ulangan 18:18.
(kitab ulangan masuk dalam perjanjian lama/ Taurat). Ayat tersebut berbunyi
:
"Bahwa aku akan menjadikan bagi
mereka itu seorang nabi
dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau (Musa), dan Aku akan mernberi
segala firman-Ku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang
Kusuruh akan dia" (Kitab: Ulangan 18:18).
Dalam
mencermati ayat di atas Ahmed Deedat membuktikan dengan sangat baik bahwa
yang dimaksud dalam
kitab ulangan tersebut adalah Nabi Muhammad Saw walaupun kebanyakan sarjana
Kristen menyatakan tidak mengakui hal itu10. Alasan yang dikemukakan Ahmed
Deedat secara ringkas sebagai berikut :
-
.......antara segala saudaranya : Isyarat untuk keturunan IsmaEL saudara IsraEL keturunan Ibrahim dari Ishaq. Bibel juga mengakui bahwa Ibrahim berputra Ismael dan Ishaq.
......yang seperti engkau (Musa) : Isyarat untuk nabi yang perihalnya seperti Musa yaitu Muhammad dengan alasan sebagai berikut : -
Musa dan Muhammad dilahirkan melalui ibu dan bapak. Yesus tidak.
-
Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak. Yesus tidak.
-
Musa dan Muhammad diterima kaumnya -bani IsraelYesus tidak.
Dalam
menjelaskan ayat di atas -... dan aku akan memberi segala firman-Ku dalam
mulutnya- Ahmed Dedat mencontohkan dalam perdebatannya dengan pendeta
Dominee sebagai berikut :
Apakah artinya
jika dikatakan, "Saya akan menaruh firman
saya dalam mulut Anda?' Perhatikan, ketika mula-mula saya meminta
Anda (Dominee) untuk membuka Ulangan 18: 18 dan jika saya meminta Anda
untuk membacanya, lalu Anda telah membacanya, apakah itu berarti saya telah
menaruh firman saya dalam mulut Anda?"
Dominee
menjawab, "Tidak"
Tetapi, saya
melanjutkan, "Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta Anda
untuk rnembaca atau mengulangi sesudah saya", apa yang saya ucapkan
yaitu:
"Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada
pula diperanakkan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.
(QS. Al-Ikhlas :
1-4).
Tidakkah saya
sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah
kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?" Dominee tentu saja
setuju.
Dengan cara
yang sama, saya berkata,
"Kata-kata kitab suci Al-Qur'an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
kepada Muhammad diungkapkan."
Ilustrasi Ahmed
Deedat dalam menjelaskan kalimat di atas menjadikan gambaran tentang proses
pewahyuan semakin dapat dinalar. Al-Qur'an sendiri memberikan gambaran
yang sama sebagai
berikut :
"Sesungguhnya kami akan menurunkan
kepadamu perkataan yang
berat". (QS. Al-Muzammil : 5).
"Kami akan membacakan (al-Qur'an) kepadamu
(Muhammad) maka kamu tidak akan lupa ". (QS. Al-A'laa:
6).
Dan seperti
yang kita lihat bahwa ayat dalam kitab Ulangan 18:18 di atas adalah wahyu yang
diberikan kepada Nabi Musa, -yang tentunya dengan bahasa Ibrani.13
Proses
penurunan wahyu dengan cara ‘dibacakan' - menurut Qur'an- atau ‘memberi
segala firmanku kedalam mulutnya' menurut gaya bahasa Taurat, secara tegas
menunjukkan bahwa wahyu tersebut atau al-Qur'an bukan dari Nabi Muhammad
Saw atau Nabi Musa, baik
materi maupun bahasa. Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Rasulullah pernah
tergesa-gesa menggerakkan bibirnya untuk menirukan wahyu yang
dibacakan.
Bibel
yang diyakini
kebenarannya oleh Dr. Robert
Morey telah
menyatakan kebenaran Nabi Muhammad Saw. dan alQur'an, bahkan dengan penjelasan
tentang proses pewahyuannya. Satu proses pewahyuan al-Qur'an kepada Muhammad
yang dijelaskan secara lebih gamblang dan bisa dinalar. Maka ketika disebut
dalam hadits-hadits nabi tentang proses pewahyuan yang melalui Malaikat Jibril
hal itu bukanlah hal yang mengada-ada. Para sahabat pun menurut riwayat hadits ada
menyaksikan kedatangan Jibril. Namun demikian proses pewahyuan melalui pembacaan
oleh Jibril lebih masuk akal ketimbang penjelasan Injil tentang pewahyuan Yesus
:
"Maka Yahyapun menyaksikan serta
herkata : 'Aku sudah nampak Roh Allah turun dari langit, seperti
seekor burung merpati, lalu hinggap di atasNya". (Yahya 1: 32).
Jika dibaca
melalui kaca mata Muslim, maka ..... di atasnya",
dengan memakai ‘n' dengan huruf kecil. Itu berarti Allah mengutus Jibril datang
kepada Yesus sehingga "seekor burung" sebagai suatu kiasan. Mungkin
bahasa manusia abad I masehi memakai cara tersebut. Ayat ini secara tidak
langsung menyatakan bahwa Roh (Qudus) adalah utusan, dan Yesus adalah nabi, di
sini istilah wahyu baru ada.
Tapi kalau
dibaca menurut kaca mata Kristen Trinitas, maka ayat tersebut
sekedar bacaan tanpa makna. Cerita tiga tuhan sedang bersilaturrahmi. Bagaimana
mungkin tuhan mewahyukan firman kepada tuhan. Yah begitulah Ajaran Nabi Isa
telah dibajak oleh Paulus.
Proses
pewahyuan al-Qur'an seperti di atas adalah salah satu tingkatan pewahyuan.
Al-Qur'an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, bukan diturunkan satu kitab
secara langsung. Prosesnya pun berbeda-beda dari tingkat yang terendah hingga
yang tertinggi yaitu pertemuan dengan Pencipta, seperti yang dialami Nabi
Muhammad ketika Isra' mi'raj dan mendapat perintah shalat, juga Nabi Musa yang
disebut al-Qur'an sebagai Nabi yang kepadanya Allah berbicara.
Proses
pewahyuan yang secara
bertahap inilah yang dipahami salah oleh Dr. Robert Morey dan dijadikan alasan bahwa ada
kontradiksi dalam masalah pewahyuan.14
Sebab umat Kristen secara umum tidak memiliki pandangan yang tepat
masalah pewahyuan. Seperti pewahyuan Nabi Musa misalnya Selalu digambarkan satu
buku turun dari langit, apalagi pewahyuan Nabi Isa As. jelas sulit mereka
jelaskan karena Nabi Isa sendiri mereka lantik menjadi 'tuhan', karena itu
mereka Sering menggunakan bahasa kiasan burung merpati yang mungkin sering kita
lihat di gambar-gambar Yesus. Kalangan Kristen yang mengerti tentu saja enggan
menjelaskan burung merpati tersebut, tapi yang tidak tahu ditelan mentah-mentah
karena disajikan dengan gambar yang indah.
Kita mengetahui
dari al-Qur'an bagaimana para nabi terdahulu dalam penyebaran dakwahnya dibekali
oleh hal-hal yang
supranatural. Seperti perahu Nuh, Tongkat Nabi Musa, Menghidupkan orang mati
dll. Tidak disangkal bahwa hal-hal seperti itu adalah adikudrati, sebagaimana
diutarakan oleh Dr. Robert Morey dalam membanggakan nabi Isa.15
Umat muslim
juga berpendapat sama bahwa itu adikudrati yang diberikan oleh Allah. Umat
muslim juga ikut bangga bahkan cerita itu seringkali disampaikan pada anak-anak
sejak masih kecil. Namun kemudian jika hal itu ditujukan untuk menyatakan bahwa
ajaran Islam tidak valid karena mukjizat umat muslim yang berupa al-Qur'an kalah
dibanding mukjizat nabi-nabi sebelumnya tentu saja tidak benar. Pernyataan
Dr. Robert Morey ini mirip dengan cerita anak kecil
yang mengunggulkan siapa dan apa saja yang disukai.
Secara jujur,
mukjizat Yesus, hanya terjadi pada masa kenabiannya. Dan hal itu tidak bisa difungsikan
pada masa sekarang. Namun al-Qur'an yang diturunkan 14 abad lalu masih ada dan
masih menjalankan fungsinya. Anda bisa melihat bagaimana Islam masuk Eropa dan
Amerika, apakah dengan menghidupkan orang mati? atau membelah laut dengan
tongkat Musa? tentu saja tidak. Islam masuk Amerika dan Eropa karena ajaran
al-Qur'an yang bersifat logis, setiap penyajiannya disertai dengan dalil-dalil,
bahkan berisi isyarat Ilmu pengetahuan yang sedang menjadi symbol masa sekarang.
Dan karena kebesaran al-Qur'an itulah buku Islamic Invasion ditulis, coba
perhatikan judulnya : THE ISLAMIC
INVASION Confronting the World's Fastest Growing Religion. Tidakkah judul itu ditulis untuk
membuktikan kehebatan al-Qur'an yang mampu menembus jantung Eropa dan
Amerika hingga menjadikan agama Islam menjadi agama yang paling cepat
perkembangannya?.
Justru seiring
perkembangan pemikiran manusia, di mana manusia modern menginginkan sesuatu yang
logis, maka hal-hal yang bersifat adikudrati dianggap hanya sebatas legenda yang
diceritakan kepada anak-anak kecil ketika hendak tidur. ya..itulah manusia,
selalu punya alasan untuk menolak. Masyarakat modern menghendaki bukti empiris
yang logis, bukan hal yang tidak bisa dicerna akal. Otoritas gereja sekarang
tidak akan bisa memaksa seorang ilmuan untuk mengimani TRINITAS dengan
menceritakan mukjizat para nabi terdahulu. Begitu juga ciri penyampain logis
dalam al-Qur'an, mungkin tidak akan efektif pada masa Musa dan Isa. Sebab
pemikiran manusia pada 4000 tahun yang lalu jelas berbeda dengan sekarang.
Berikut ini pengakuan dari Nazmi Luke seorang pendeta Mesir yang dinukil oleh
Dr. Quraish Shihab dalam Mu'jizat al-Qur'an sebagai berikut :
"Tidak dapat disangka! bahwa
menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orany buta, dan lain-lain
merupakan hal-hal yang
bernilai agung. Akan tetapi, itu sernua tidak akan berarti sarna sekali apabila
ia dimaksudkan untuk membuktikan bahwa 2+2 = 9. Karena itu adalah wajar jika
dipaparkan kepada rnanusia yang telah mencapai kedewasaannya bukti-bukti
rasional dan logis".16
Berikut ini
akan kami ketengahkan bagaimana satu ayat al-Qur'an disertai satu hadits Nabi
dapat merubah pandangan seorang Prof. Dr. Joe Leigh Simpson tentang agama.
Dia adalah ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi serta Pakar molecular dan
Genetika Manusia, Baylot College Medicine, Houston Amerika.
Itu terjadi
pada pertemuan dan dialog yang diadakan dengan ilmuwan
terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk
menguji fakta ilmiah yang disebutkan di beberapa ayat al-Qur'an. Selain untuk
menyorot fakta bahwa Agama Islam mendorong kemajuan Ilmu pengetahuan. Dialog
tersebut diceritakan oleh Abdullah M. Rehaili sebagai berikut :
Ketika kami pertama kali bertemu
dengannya, Prof. Simpson menuntut pembuktian al-Quran dan Sunnah. Akan tetapi, kami sanggup
menghilangkan kecurigaannya. Kami menunjukkan kepadanya sebualt naskah garis
besar perkembangan embrio. Kam; membuktikan kepadanya bahwa al-Quran menjelaskan
kepada kita bahwa turunan atau hereditas dan sifat atau kromosom yang tersusun
hanya bisa terjadi setelah perpaduan yang berhasil antara sperma dan ovum.
Sebagaimana yang kita ketahui, kromosom-kromosom ini berisi semua sifat-sifat
baru manusia yang akan menjadi mata, kulit, rambut dan lain-lain.
Oleh karena itu, beberapa sifat manusia yang tersusun itu ditemukan oleh kromosomnya. Kromosomkromosom ini mulai terbentuk sebagai permulaan pada tingkatan nutfah dari perkembangan embrio. Dengan kata lain, ciri khas manusia baru terbentuk sejal: tingkatan nutfah yang paling awal. Allah Yang Maha agung dan Yang Maha Mulia berfiman di dalam Al-Quran :
"Celakalah kiranya manusia itu !
Alarngkah ingkarnya (Kepada Tuhan). Dari apakah dia diciptakan ? Dari
setetes air mani.
(Tuhan) menciptakannya dan menentukan ukuran yang sepadan dengannya.
" (QS
Abassa: 17-19)
Selama empat puluh hari pertama
kehamilan, semua bagian dan organ tubuh telah sempurna atau
lengkap, terbentuk secara berurutan. Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada kita
di dalam hadistnya : "Setiap dari kamu, semua komponen penciptamu terkumpul
dalam rahim ibumu selam empat puluh hari."
Di dalam hadist lain, Nabi Muhammad SAW
bersabda:
"Ketika setetes nutfah telah melewati
42 malam, Allah menyuruh seorang malaikat ke rahim perempuan, yang berkata : 'Ya
Tuhan! Ini laki-laki atau perempuan? Dan Tuhanrmu memutuskan apa yang Dia
kehendaki. "
Profesor Simpson mempelajari dua
hadist ini intensif, yang mencatat bahwa empat puluh hari
pertama itu terdapat tingkatan yang dapat dibedakan secara jelas atau
embriogenesis. Secara khusus, Dia dibuat kagum dengan penelitian yang mutlak dan
keakuratan kedua hadist tersebut. Kemudian dalam salah satu konferensi yang
dihadirinya, dia memberikan pendapat sebagai berikut :
"Dari kedua hadist yang telah tercatat dapat membuktikan
kepada kita gambaran waktu secara spesifik perkembangan embrio sebelum 40 hari.
Terlebih lagi, pendapat yang telah berulang-ulang dikemukakan pembicara yang
lain pagi ini bahwa kedua hadist ini telah menghasilkan dasar pengetahuan ilmiah
yang mana rekaman mereka sekarang ini didapatkan".
Profesor Simpson mengatakan bahwa
agama dapat menjadi petunjuk yang baik untuk pencarian ilmu
pengetahuan. Ilmuwan Barat telah menolak hal ini. Seorang ilmuwan Amerika
mengatakan bahwa agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Dengan analogi
jika Anda pergi ke suatu pabrik dan Anda berpedoman pada mengoperasilcan pabrik
itu, kemudian Anda akan paham dengan mudah bermacammacam pengoperasian yang
berlangsung di pabrik itu. Jika Anda tidak memiliki pedoman ini, pasti tidak
memiliki kesempatan untuk memahami secara baik versi proses tersebut.
Profesor Simpson berkata: "Saya pikir
tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama, tetapi pada kenyataannya
agama dapat menjadi petunjuk ilmu pengetahuan dengan tambahan wahyu ke
beberapa pendekatan
ilmiah yang tradisional.
Ada kenyataan di dalam
al-Quran yang
ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid, yang mana al-Quran mendukung
ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah."
Inilah kebenaran. Orang-orang Islam tentunya dapat memimpin dalam cara pencarian ilmu pengetahuan dan mereka dapat menyampaikan pengetahuan itu dalam status yang sesuai. Terlebih lagi orang Islam mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan itu sebagai bukti keberadaan Allah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia untuk menegaskan kerasulan Nabi Muhammad SAW.17
Inilah kebenaran. Orang-orang Islam tentunya dapat memimpin dalam cara pencarian ilmu pengetahuan dan mereka dapat menyampaikan pengetahuan itu dalam status yang sesuai. Terlebih lagi orang Islam mengetahui bagaimana menggunakan pengetahuan itu sebagai bukti keberadaan Allah, Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia untuk menegaskan kerasulan Nabi Muhammad SAW.17
Ayat Al-Qur'an
dan hadits tersebut
disampaikan 14 abad yang lalu dimana bangsa Arab saat itu tidak memiliki ilmu
pengetahuan modern. Mungkinkan seorang Muhammad yang disebut ummy (buta huruf)
memiliki pengetahuan itu dari dirinya sendiri?. Tidakkah ini bukti kebenaran
al-Qur'an? Ini hanya salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah yang bakal
dipertontonkan dihadapan manusia, agar kembali kepada tauhid seperti yang
dijanjikan oleh Allah Swt. dalam al-Qur'an sebagai berikut:
'Akan Kami perlihatkan secepatnya
kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan
pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Qur'an ini suatu
kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu."
(QS. Fushshilat:
53).
Tentang mukjizat
Rasulullah yang lain akan kami bahas dalam bab Hadits.
SEJARAH DAN
KEASLIAN AL-QUR'AN
Perbandingan
Jika
dibandingkan dengan kitab-kitab yang terdahulu - Taurat, Zabur,
Injil- maka Al-Qur'anlah yang paling bisa dikatakan lebih otentik karena
beberapa hal :
-
Ditulis saat Rasulullah masih hidup, dengan larangan penulisan masalah lainnya yaitu hadits, sehingga kemungkinan adanya pencampuran adalah kecil. Sementara yang lain seperti Perjanjian Lama yang merupakan himpunan kitab/fasal, ditulis selama lebih dari dua abad setelah musnahnya teks asli pada zm. Nebukadnezar, yang ditulis kembali berdasarkan ingatan semata oleh seorang pendeta Yahudi yang bernama Ezra dan dilanjutkan oleh pendeta - pendeta Yahudi atas perintah raja Persia , Cyrus pada tahun 538 sebelum Masehi.18
-
Al-Qur'an masih memakai bahasa asli sejak wahyu diturunkan yaitu Arab, bukan terjemahan. Bagaimanapun terjemah telah mengurangi keotentikan suatu teks.
Bibel sampai ketangan umatnya dengan Bahasa Latin Romawi. Bahasa Ash Taurat adalah Ibrani, sedang bahasa Ash Injil adalah Aramaik. Keduanya disajikan bersama dalam paket Bibel berbahasa Latin yang disimpan dan disajikan untuk masing-masing negara melalui bahasanya sendiri-sendiri, dengan wewenang penuh untuk mengubah dan mengganti sesuai keinginan -
Al-Qur'an banyak dihafal oleh umat Islam dari zaman Rasulullah sampai saat ini. Sedangkan Bibel, boleh dibilang tidak ada. Jangankan dihapal, di Indonesia sendiri Bibel umat Katolik baru boleh dibaca oleh umatnya pada tahun 1980
-
Materi Al-Qur'an tidak bertentangan dengan akal, dan relevan sepanjang masa. Sementara Bibel mengandung banyak hal-hal yang tidak masuk akal dan mengandung pornografi. Seperti berikut ini :
Ayat
porno
Yehezkiel
23 :1-21, berisi
ayat-ayat jorok tentang seksual. Diceritakan didalamnya penyimpangan seksual
yang sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis bila dibaca oleh anakanak
dibawah umur. Ada
kalimat-kalimat yang
sangat cabul dengan menyebut (maaf) buah dada, buah zakar, menjamahjamah,
birahi, dan lain-lain, contohnya :
(ayat.3)
"Mereka bersundal pada masa mudanya; di sann susunya dijamah jamah dan
dada keperawanannya dipegang-pegang".
Ayat yang selanjutnya: 5, 8, 11, 18, 20,
21 dalam kitab yang sama lebih jorok lagi yang tidak sepantasnya ditulis bahkan
di dalam buku ini.
Pelecehan Bibel terhadap
Tuhan
Tuhan jorok, menyuruh makan tahi?
(Yehezkiel4: 13).
Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32:28).
Pelecehan Bibel kepada para Nabi Allah Swt.
Tuhan kalah dalam duel melawan Yakub? (Kejadian 32:28).
Pelecehan Bibel kepada para Nabi Allah Swt.
Nabi Nuh mabuk-mabuk sampai teler
dan telanjang bugil
(kejadian 9:18-27).
Ayat-ayat yang
mustahil dipraktekkan
Hukum Sabat
Hari Sabat (sabtu) adalah hari Tuhan
yang harus dikuduskan.
Pada hari itu setiap orang dilarang bekerja, dilarang memasang api di rumah
(lampu, kompor, dll) karena Sabat adalah hari perhentian penuh. Orang yang
bekerja pada hari Sabtu harus dihukum mati (keluaran 20 :8-11, 31 :15, 35 :
2-3).
Ayat-ayat
diskriminatif
Perbuatan riba (rente) dilarang
dilakukan kepada Israel,
tapi boleh dilakukan kepada non Israel (Ulangan 23 : 19-20). Ayat-ayat yang seperti di atas
adalah bukti kebenaran dari apa yang diberitahukan oleh Allah bahwa para ahli
kitab telah merubah isi kitab mereka. Apa mungkin Tuhan berfirman seperti di
atas?. Maha suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan. Sebelum menyudutkan sisi
sejarah penulisan wahyu, Dr. Robert
Morey mestinya
berkaca lebih lama di depan kitab sucinya untuk kemudian menentukan langkahnya.
Langkah menyudutkan al-Qur'an sangat tidak membantu umat Kristen memahami kitab
sucinya. Kalau ingin jujur sebenarnya ajaran asli -tauhid- mereka disampaikan
ulang oleh Allah melalui al-Qur'an. Beberapa kiasan dalam bibel akan dapat
mudah dipahami ketika membaca al-Qur'an. Maka benar jika al-Qur'an menyatakan
bahwa di dalam al-Qur'an memuat kabar dan ajaran tentang mereka. Pengakuan
saudara seagama Dr. Robert Morey
, lebih
menunjukkan suatu kedewasaan berpikir dan jujur. Mungkin termasuk mereka yang
disebut al-Qur'an sebagai Qissisin wa ruhban, yaitu :
Dr. G.C. Van Niftrik
dan Dr. B.J. Bolland :
"Kita tidak usah malu-malu, bahwa
terdapat berbagai kekhilafan di dalam Bibel; kehilafan-kekhilafan tentang
angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan
kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Bibel telah disampaikan kepada kita,
sehingga kita akan dapat
berkata: "Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi
kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Bibel
juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan
manusia".19
Dr. R. Soedarmo :
"Dengan pandangan bahwa Kitab Suci
hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci
mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada
kesalahan. Oleh karena itu Kitab dengan bentuk sekarang masih dapat
diperbaiki".20
Keaslian
al-Qur'an di kalangan Muslim adalah suatu kepastian, susunan dan materinya.
Selain karena penjagaan Allah, hal ini tidak lepas dari usaha Rasulullah dan
para penerusnya hingga saat ini dalam menjaga keaslian al-Qur'an; huruf
perhuruf, ayat perayat, hingga surat dan susunannya. Dengan begitu umat Muslim
terhindar dari peringatan Allah swt. untuk tidak merubah al-Qur'an sebagaimana
yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya
(Apakah kamu
masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka
mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya,
sedang mereka mengetahui?]
(QS. al-Baqarah: 75).
Allah Swt.
telah menjanjikan suatu penjagaan bagi kitab terakhir yang pernah diturunkan
kepada umat manusia ini
[Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.] (QS. Al-Hijr :
9).
Dan sekaligus
menjadi bukti bahwa Muhammad adalah nabi akhir zaman, sebab ajarannya tetap
terpelihara dan tak satupun umatnya berani merubah walaupun satu huruf. Janji
Allah tersebut setidaknya terbukti dengan upaya-upaya penjagaan oleh kaum Muslim
yang telah berlangsung selama lebih dari 14 Abad. Upaya tersebut dapat
disimpulkan dalam dua cara : Penulisan Mushhaf seperti yang sampai kepada kita, dan upaya
penghafalan oleh para Qurra' (pengkaji al-Qur'an) yang tersebar
dipenjuru dunia Islam. Dua macam upaya ini sudah berjalan sejak zaman Rasulullah
saat wahyu diturunkan.
Sejarah
penulisan dan penjagaan wahyu ini akan kami sajikan secara ringkas berdasarkan
hadits dan riwayat sahabat. Riwayat merupakan sumber dalam penulisan sejarah
-khususnya tentang masalah ini- yang tidak bisa begitu saja diabaikan, apalagi
materi riwayat tersebut tidaklah bertentangan dengan akal sehat, dan
diriwayatkan dengan seleksi penerimaan yang sangat ketat. Seleksi yang selain
berdasarkan materi juga kejujuran periwayat yang mungkin jarang -nyaris
mustahil- kita dapatkan pada masa sekarang. Kita bisa bayangkan ketika perowi
yang ditemukan ingin menangkap ayam dengan menggunakan biji sebagai umpan,
riwayatnya tidak bisa diterima karena dianggap tidak jujur kepada hewan, apalagi
kepada manusia. Suatu seleksi yang sangat ketat hingga hasilnya sangat layak
untuk kita jadikan sandaran hukum dan penulisan suatu sejarah seperti bahasan
kita kali ini.
Kalau toh ada
yang mengatakan riwayat-riwayat di bawah ini adalah fiksi, kita bisa menilai
mana yang lebih akurat apakah perowi yang telah menulis riwayat tersebut
beberapa abad yang lalu (dimana lebih dekat dengan kejadian, dan tradisi lesan
masih sangat kuat serta seleksi yang sangat ketat) ataukah mereka yang datang
setelah beberapa abad kemudian dengan alasan "Ilmiah" tiba-tiba mengatakan
riwayat tersebut "fiksi". Selama materi riwayatnya tidak menyiratkan hal yang di
buat-buat kenapa harus ditolak, kecuali jika bertentangan dengan bukti lain yang
lebih akurat.
Rasulullah
sangat berdisiplin dan
hati-hati dalam mengajarkan al-Qur'an kepada para sahabatnya, dimana ayat- ayat
yang baru turun harus dihapal oleh para sahabat saat itu juga, mereka tidak
diizinkan pergi sebelum hafal seluruhnya, setelah itu mereka sampaikan kepada
mereka yang tidak hadir, Ayat yang sudah mereka hafal tersebut kemudian mereka
lakukan tadarusan (membaca dan mengkajinya) bersama disalah satu rumah di
pojok kota Makkah, demi menghindari ancaman orang-orang Quraisy.
Pada saat
Rasulullah berada di Madinah, 2/3 al-Qur'an sudah diturunkan.21Hal ini membuat Rasulullah harus
bekerja keras mengajarkan al-Qur'an kepada kaum Anshor yang baru masuk Islam.
Begitu besarnya tuntutan tersebut hingga Rasulullah menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk mengajarkan al-Qur'an kepada para sahabat. Maka tidak heran jika
ada satu kelompok yang kita kenal sebagai ahlu as-suffah yaitu para
sahabat yang menetap/tinggal di masjid untuk belajar al-Qur'an, dan dari antara
merekalah muncul nama-nama seperti Ibnu Abbas (Muhajirin), Ubay bin Ka'b
(Anshor)...... kelak merekalah yang paling berperan dalam melakukan kodifikasi
wahyu. Lain dari pada itu cara pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah
sangatlah berdisiplin dimana al-Qur'an diajarkan persepuluh ayat sampai para
sahabat hafal dan paham maknanya bahkan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari, untuk kemudian baru pindah pada sepuluh ayat berikutnya.
Pada zaman Nabi
upaya penulisan sudah mulai dilakukan walaupun dengan media yang sangat sederhana di
antaranya batu tulis, tulang-tulang, pelepah pohon. Riwayat dari Imam
Al-Bukhori menerangkan sebagaimana
berikut:
Ubaidullah mengatakan kepada kami
dari Musa dari Israil dari Abi Ishaq dari al-Barraa', rnengatakan: Ketika turun
(ayat yang artinya:) {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam diri dari para
mu'min dengan mereka yang berjihad di jalan Allah } Nabi Saw. berkata :
panggilkan untukku Zaid dengan membawa batu tulis dan tinta serta tulang, atau
tulang dan tinta, kemudian berkata: tulislah {Tidaklah sama orang-orang yang berdiam
diri}.....22
Riwayat
lain menyebutkan media
lain berupa pelepah pohon.23 Dengan media seperti di atas maka
logis sekali jika diriwayatkan bahwa lembaran-lembaran al-Qur'an tersebut
memenuhi satu ruang (gudang) ditempat Hafsah, istri Nabi Muhammad
Saw.
Upaya penulisan
yang mereka lakukan
bahkan terbilang ketat, sebab penulisan selain wahyu oleh para sahabat tidak
diperbolehkan oleh Rasulullah Saw. dengan begitu wahyu Allah tidak tercampur
oleh perkataan dan perilaku Nabi yang kemudian disebut Hadits. Berikut ini
riwayat dari Imam Muslim berkenaan dengan masalah ini:
Berkata kepada kami Haddaab bin
khaalid al-Azdy, berkata kepapa kami Hammaam dari Zaid bin Aslam dari A'athaa'
bin Yasar dari Abi Sa 'iid al-Khudry, bahwa Rasulullah Saw. bersabda :
"Janganlah kalian menulis apa-apa dariku, barang siapa menulis dariku selain
al-Qur'an maka hendaklah ia menghapusnya, dan berbicaralah tentang diriku dan
itu diperbolehkan, dan barang siapa dengan sengaja berbohong atas diriku maka
bersiap-siaplah untuk tinggal di Neraka (HR. Muslim)
Penulis wahyu
yang ditunjuk oleh
Rasulullah pada masa itu ada empat orang dari kaum Anshor yaitu : Mu'aadz bin
Jabal, Ubay bin Ka'b, Zaid bin Tsaabit dan Abu Zaid,25 dalam riwayat lain menyebutkan : Abu ad-Darda',
Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid. Selain mereka juga ada beberapa
sahabat Yang menulis untuk diri mereka sendiri.26 Penulisan yang dilakukan oleh Aisyah
bahkan sudah berbentuk mushhaf (berbentuk seperti buku) sebagaimana tersebut
dalam riwayat berikut ini :
Dan berkata kepada kami Yahya bin
Yahya at-Tamiimy ia mengatakan saya belajar dari Malik dari Zaid bin Aslam dari
al-Qa 'qaa' bin Hakim dari Abi Yunus pembantu 'Aisyah bahwa ia mengatakarn :
Aisyah menyuruhku menulis untuknya mushhaf dan ia mengatakan jika sudah sampai
pada ayat ini maka panggil saya [Jagalah oleh kalian sholat sholat
(kalian) dan sholat pertengahan] maka ketika sudah sampai pada ayat ini aku
memanggilnya dan ia (Aisyah) lantas mengimlakkan kepadaku [Jagalah oleh kalian
sholatsholat (kalian) dan sholat pertengahan] serta sholat ashar (dan
berdirilah di hadapan Allah dengan khusyu'] Aisyah mengatakan saya mendengarnya
dari Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.27
Sangat tidak
masuk akal jika Dr.
Robert Morey menyatakan bahwa tulisan al-Qur'an telah hilang karena yang
tertulis di atas tulang telah pudar dan yang ditulis di atas daun telah dimakan
oleh binatang, alasan yang kekanak-kanakan.28
Selain adanya
upaya penulisan, maka upaya penjagaan melalui hafalan adalah kegiatan
yang umum dilakukan oleh
para sahabat, di mana para sahabat saat itu akan merasa malu jika tidak hafal
al-Qur'an. Sebegitu merebaknya tradisi hafalan tersebut hingga ada riwayat yang
mengatakan bahwa dari sekian jumlah penduduk muslim Madinah saat itu hanya 4-6
orang saja yang tidak hafal.
Tradisi
periwayatan lisan (hafalan) dalam budaya Arab sangatlah kental, apalagi pada
masa Rasulullah Saw. di mana budaya baca tulis belum meluas -budaya tulis
menulis setelah 1,5 abad kemudian-. Begitu kentalnya hingga mereka menemukan
metode periwayatan yang ekstra hati-hati. Dalam metode yang mereka pakai dikenal
adanya istilah Jarh wa atta
‘diil (kritik dan seleksi atas kredibelitas perowi), sehingga suatu
riwayat yang datang dari seorang yang tidak dipercaya tidak akan digunakan.
Masing-masing riwayat yang diakui juga memiliki kriteria sendiri berdasarkan
keutuhan matan (materi riwayat), sanad (silsilah riwayat sampai ke sumbernya),
serta periwayat, baik jumlah maupun kredibelitasnya.29
Dengan tradisi
periwayatan dan hafalan
seperti diatas, tentu saja al-Qur'an mendapatkan perlakuan yang paling Istimewa.
Apalagi metode pengajaran al-Qur'an yang diterapkan pada masa itu salah satunya
adalah metode at-Talaqqy wal
`ardl (tatap rnuka langsung antara guru dan murid dengan komunikasi
dua arah, dengan system learning and presentation) yang akhirnya menjadi
dasar-dasar dalam kodifikasi al-Qur'an, yaitu: "Mengambil materi riwayat yang
paling akurat serta cara periwayatan yang paling benar, bukan sekedar yang umum
clan sesuai dengan standar bahasa Arab “.30
Riwayat-riwayat
berikut ini mungkin akan memperjelas tentang masalah ini :
Dari 'Fathimah ra, "Nabi Saw membisikkan kepadaku: 'Jibril
telah mengajariku al-Qur'an setiap tahunnya, dan dia mengajariku tahun ini dua
kali, dan aku tidak melihat itu kecuali ajalku telah dekat"
(HR.
Bukhari)
.31
Riwayat di atas
menerangkan bahwa al-Qur'an selalu diajarkan oleh Jibril kepada Nabi, sebagai
pembawa wahyu, yaitu pada bulan Ramadlan pada setiap tahunnya hingga masa
berakhirnya penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Pada tahun yang terakhir,
menjelang wafatnya, Jibril datang dua kali untuk mengajariNya
al-Qur'an.
(Riwayat ini
sekaligus menepis anggapan Dr. Robert
Morey yang
menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak mengetahui kapan beliau akan
wafat.)
Pandangan
pewahyuan melalui Jibril utusan Allah untuk disampaikan kepada
Rasulullah -salah satu caranya dengan dibacakan- secara gradual selama 23 tahun
lebih dapat diterima akal ketimbang penggambaran satu buku diturunkan dari
langit. Pengajaran dengan system at-talaqqy
wal `ardli yang dilakukan
oleh Jibril kepada Nabi Muhammad Saw tersebut diteruskan kepada para sahabat
seperti yang dituturkan oleh riwayat berikut ini :
Dan berkata kepada kami Amru
an-Naqid, berkata kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad, berkata kepada kami
Ayahku dari Muhammad bin Ishaq ia mengatakan, berkata kepadaku Abdullah bin Abi
Bakar bin Muharnmad bin Amru bin Hazm al-anshaary dari Yahya bin 'Abdullah bin
Abdirrahman bin Sa'ad bin Zurarah dari Ummi
Hisyam binti Haritsah bin an-Nu'man mengatakan: Tungku api kami dan tungku api
Rasulullah adalah satu selama satu atau dua tahun atau lebih, dan saya tidak
pernah mengambil (menghafalkan) (surat) Qaaf dari al-Qur'an yang mulia kecuali
dari lisan Rasulullah Saw. yang selalu beliau baca pada hari jum'at di atas
mimbar ketika berkhutbah dihadapan jama'ah. (HR. Muslim)
.32
Dalam riwayat
lain disebutkan bahwa
Rasulullah seringl:ali meminta sahabatnya untuk membacakan al-Qur'an
dihadapannya 33. Diantara para sahabat yang ditunjuk
oleh Rasulullah untuk mengajarkan al-Qur'an adalah Abdullah bin Mas'ud, Salim,
Mu'adz, serta Ubay bin Ka `b .34
Memang agak
naif jika seseorang mempersoalkan masalah hafalan yang seakan-akan hanya dilakukan oleh
satu orang saja, seperti pernyataan Dr. Robert Morey berikut :
Pengumpulan bahan-bahan al-Qur'an
berlangsung beberapa tahun. Banyak masalah muncul karena daya ingat dan
hafalan-hafalan seseorang fidak persis sama dengan orang lain. Hal ini merupakan salah safu
kelemahan manusia yang tidak dapaf diabaikan. 35
Dr. Robert
Morey sangat
meremehkan kalangannya senditi dengan menganggap mereka tidak bisa membedakan
antara manusia sebagai individu clan manusia sebagai umat. Sebagai individu
mungkin saja manusia berkurang daya ingatnya, tapi sebagai ummat hafalan bahkan
semakin kuat seiring usaha yang mereka lakukan dari generasi ke generasi. Umat
adalah komunitas dan bukan satu orang. Usia umat tidak seperti usia satu orang,
usia ummat bisa berabad bahkan beribu tahun hingga kemusnahannya. Usia umat
Islam sendiri sudah mencapai ±14 abad.
SEJARAH DAN
KEASLIAN AL-QUR'AN
Kodifikasi
AI-Qur'an I
Setelah
Rasulullah wafat tampillah Abu Bakar sebagai khalifah (pengganti) untuk memimpin umat.
Pelayanan umat Muslim terhadap al-Qur'an pada masa kepemimpinan khalifah Abu
Bakar mengalami suatu kemajuan yang sangat signifikan. Hal ini tidak lepas dari
kondisi umat pada masa itu. Riwayat dari Imam Bukhari menerangkan seperti
berikut ini :
Berkata kepada kami Musa
bin Isma'il dari
Ibrahirn bin Sa 'ad, berkata kepada karni Ibnu Syihab dari 'Ubaid bin as-Sibaq
bahwa Zaid bin Tsabit Ra rnengatakan : Telah datang kepadaku Abu Bakar as-Siddiq
setelah peperangan di Yamamah, kebetulan umar bin Khattab bersamanya, Abu Bakar
mengatakan : Sungguh Umar telah datang kepadaku dan berkata: "Peperangan telah
menyebabkan kematian beberapa pembaca al-Qur'an, dan saya sungguh khawatir jika
kematian meluas kebeberapa Qurra' di daerah-daerah hingga menyebabkan hilangnya
kebanyakan al-Qur'an, dan saya berpendapat agar engkau seyera memererintahkan
kodifikasi atas al-Qur'an". Saya mengatakan kepada Umar : "Bagaimana mungkin
kita melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. ?, Urnar
berkata : "Demi Allah hal ini adalah sangat baik", maka Urnar tetap memintaku
hingga Allah melapangkan dadaku atas hal itu dan aku melihat masalah itu sehagai
mana penglihatan Urnar". Zaid berkata: bahwa Abu Bakar rnengatakan :
"Sesungguhnya engkau seorang yang masih muda lagi cerdas, bukannya kami
menuduhmu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah Saw. maka cermatilah
al-Qur'an dan lakukan kodifikasi". Maka demi Allah seandainya saja mereka
memerintahkanku memindahkan salah satu gunung dari beberapa gunung tidaklah
lebih berat dari perintah kondifikasi atas Qur'an. Saya berkata: "Bagaimana
mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
Saw. ?. Berkata Abu Bakar : "Demi Allah inilah yang terbaik". Abu Bakar tetap
memintaku hingga Allah melapangkan dadaku untuk dapat memahami pendapat Abu
Bakar dan Umar, maka segera saya lakukan penelusuran dan pengurnpulan al-Qur'an
dari rumput dan pelepah pohon serta
hafalan para Qurra', sampai saya
temukan akhirdari Surat at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari yang tidak
terdapat pada yang lainnya {Telah datang kepadamu.. .. } hingga akhir surat
al-Baro'ah (at-Taubah), lembaranlembaran tersebut berada ditangan Abu Bakar
hingga beliau wafat, kemudian Umar dan kemudian di tangan Hafshah binti Umar bin
Khattab. 36
Upaya
penyalinan oleh para penulis wahyu dengan dibantu para Qurra'(penghafal Qur'an)
telah menghasilkan tulisan al-Qur'an dalam bentuk lembaran-lembaran yang dapat
meminimalisir perbedaan pendapat dalam hal tulisan dan bacaan al-Qur'an bagi
umat Muslim.
Dengan adanya
upaya kodifikasi tersebut di atas tugas para penghafal al-Qur'an bukannya
selesai, sebab tugas tersebut tidak semata-mata untuk penjagaan al-Qur'an saja
namun lebih dari itu merupakan suatu ibadah yang membuat para pelakunya memiliki
keutamaan dimata Allah.
Pada masa
khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab masalah perbedaan dalam membaca
Al-Qur'an belum merupakan hal yang mengkhawatirkan, walaupun begitu mereka telah
mengantisipasinya dengan melakukan kodifikasi atas al-Qur'an sebagaimana telah
dipaparkan sebelumnya. Namun setelah dua masa kepemimpinan, masalah tersebut
mulai menimbulkan kekhawatiran sehingga para sahabat segera mengambil tindakan
seperti yang disebutkan pada riwayat berikut ini :
Berkata kepada kami Musa, berkata
kepada kami Ibrahim, berkata kepada kami Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik mengatakan kepadanya:
"Khudzaifah bin al-Yaman datang kepada Utsman, dan sebelumnya ia memerangi warga
Syam dalam penaklukan Armenia dan Azarbaijan bersama warga Irak, maka
terkejutlah Khudzaifah akan adanya perbedaan mereka dalam hal bacaan al-Qur'an,
maka berkatalah Khudzaifah kepada Utsman: "Wahai pemimpin orang-orang yang
beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah kitab
sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani", Utsman lantas berkirim surat kepada
Hafshah : "Kirimkan kepada kami lembaran-lembaran untuk kami tulis dalarn
mashahif (bentuk plural dari mushhaf -kumpulan lembaran dengan diapit dua kulit
seperti buku-) kemudian kami kembalikan kepadamu", Hafshah segera mengirimkannya
kepada Utsman, maka Utsman segera memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin
Zubair, Sa'id bin Ash, serta Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam untuk
menyalinnya ke dalam mushhaf mushhaf, dan dia (Utsman) mengatakan kepada ketiga
otoritas Quraisy tersebut di atas: Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit
tentang masalah Qur'an, maka tulislah dengan lesan Quraisy sebab al-Qur'an
diturunkan dengan dialek mereka (Suku Quraisy), dan mereka melakukan hal itu,
maka ketika mereka selesai menyalin lembaran-lembaran tersebut kedalam beberapa
mushaf, Utsman segera mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepada Hafshah,
(Utsman) kemudian mengirim ke tiap tempat satu mushaf yang telah mereka salin,
dan memerintahkan agar selain mushaf tersebut entah berupa lembaran (sahifah)
atau sudah berupa mushaf untuk dibakar.37
Pada masa itu
tulisan Arab (kaligrafi Arab) masih belum berharakat dan bertitik seperti yang
kita jumpai saat ini, perbedaan harakat dan panjang pendek bacaan akan
menunjukkan makna yang berbeda, hal ini tidak mustahil menimbulkan kesulitan
tersendiri bagi masyarakat Muslim non Arab. Cara baca dan pemaknaan yang salah
sangat mungkin dilakukan oleh mereka.
Berdasarkan
laporan dari Khudzaifah bin al Yaman yang baru datang dari Armenia dan
Adzarbaijan (kedua wilayah tersebut bukan wilayah yang berbahasa Arab) Utsman
sebagai khalifah dengan dibantu para sahabat segera mengambil tindakan. Demi
mengatasi hal itu maka al-Qur'an yang pernah ditulis pada masa Abu Bakar (masih
dalam bentuk lembaran) di salin lagi dalam bentuk mushaf (diapit dua kulit-spt
buku) untuk dibagikan ke daerah-daerah sebagai al-Qur'an standar, sedang yang
selainnya harus dimusnahkan.
Keputusan yang
diambil oleh para sahabat khususnya Utsman sebagai pemimpin umat pada waktu itu
sangatlah tepat, sebab tugas seorang khalifah tidak hanya masalah ekonomi,
politik dan sosial, tapi juga menyangkut masalah keagamaan, seperti penjagaan
keaslian al-Qur'an baik bacaan maupun tulisan. Jika merebak suatu bacaan yang
salah dan beraneka ragam, maka tugas pemimpin umat lah untuk membetulkan
sehingga umat ini selamat dari apa yang pernah dilakukan oleh umat sebelumnya.
Tapi yang perlu diingat bahwa standarisasi tersebut tidak menafikan adanya tujuh
macam bacaan yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Dengan adanya
Mushaflmam (Induk) kemudian kita kenal dengan mushaf Utsmany ini secara tidak
langsung Khalifah Utsman telah meletakkan dasar-dasar untuk tumbuh kembangnya
ilmu Ulum al-Qur'an
yang diawali dengan
pembahasan masalah rasm (bentuk tulisan) Utsmany atau Ilmu
Rasm al-Qur'an.
Jika diruntut
dari awal: Wahyu ditulis oleh tim yang ditunjuk oleh Rasulullah pada saat
bersamaan dihafalkan oleh para Qurra; kemudian pada masa khalifah Abu Bakar
apa yang ditulis oleh tim tersebut disalin kedalam (shahifah) lembaranlembaran dengan dibantu
hafalan para Qurra; dan pada masa khalifah Utsman
lembaran-lembaran tersebut disalin dalam bentuk mushhaf (berbentuk seperti buku)
dan menjadi standar satu-satunya. Dan mushafsetandar inilah yang sampai kepada
kita hari ini. Menurut Ibnu Mandzur (630-711 H) dalam kamusnya yang terkenal
Lisan al-Arab, kata shahifah artinya "lembaran yang ada tulisan di
atasnya", sedangkan mushhaf atau mishhaf
bermakna "himpunan dari lembaran yang ada tulisannya dengan dibatasi dua
kulit".38 Makna yang sama disampaikan oleh penulis kamus lain
-yang lebih dahulu- yaitu Al-Azhari, 39 juga Al-Jauhari (393 H) dalam
Ash-Shihah-nya.40
Standarisasi
penulisan dan bacaan al-Qur'an pada masa Utsman dijadikan bahan hujatan oleh
Dr.Robert Morey terhadap keaslian Qur'an. Dasar riwayat yang dipakai adalah sama
dengan yang tertulis di atas, namun dengan plintlran yang sangat kentara, satu hal yang
sangat tidak layak dilakukan oleh seorang yang dikatakan internationally
recognized scholar.
Untuk lebih jelasnya
bisa dilihat bagaimana Dr. Robert
Morey
memanipulasi riwayat dari Imam al-Bukhari seperti berikut ini :
[Dalam usahanya untuk 'menyatukan'
isi dan bentuk Qur'an menjadi Mushaf Uthman yang standard, patut disesalkan
tindakan khalif Ufhman yang mendekritkan pemusnahan semua himpunan (atau bahkan
bagian) dari naskah-naskah lain yang telah ada sebelumnya yang merupakan
naskah-naskah Qur'an yang paling primer: "Uthman mengirim kepada setiap propinsi
satu kitab yang telah mereka salin, dan memerintahkan agar semua naskah-naskah
al-Qur'an yang lain, apakah dalam bentuk yang terbagi-bagi atau yang lengkap,
harus dibakar". (Hadits Shahih Bukhari, VI/ 479)]. 41
Kata-kata
[dalam..... paling primer] bukan termasuk riwayat melainkan kata-kata Dr. Robert
Morey sendiri, disajikan seakan menjadi satu kesatuan riwayat agar dapat
memanipulasi pembacanya. Kutipan riwayat oleh Dr. Robert Morey ini silahkan dirujuk pada riwayat
Hudzaifah selengkapnya di atas. Tentang tuduhan bahwa upaya pembakuan al-Qur'an
standar dengan ancaman hukuman mati oleh Uthman, Dr. Robert Morey tidak
mencantumkan dasar pernyataannya, karena memang tidak ada. Adapun tentang
kematian sahabat Uthman, adalah disebabkan fitnah masalah kekuasaan. Dan
kejadian tersebut telah diberitakan oleh Rasulullah sebelumnya. 42
Maka adalah
satu hal Yang mengada-ada jika kematian Uthman dikaitkan dengan keberhasilannya
dalam melayani al-Qur'an.
Setelah
meninggalnya Khalifah Utsman, sahabat Ali bin Abi Thalib yang memegang tampuk
pimpinan, -dan seperti Pendahulunya- pelayanan terhadap al-Qur'an tidak pernah
absen. Dengan berkembangnya daerah kekuasaan umat Islam, mereka yang tidak menguasai bahasa Arab
seringkali melakulcan kesalahan dalam membaca Al-Qur'an. Melihat yang sedemikian
itu Khalifah Ali memerintahkan Abu al-Aswad ad-Dualy untuk menulis beberapa
kaidah bahasa Arab agar masyarakat bisa membaca al-Qur'an dengan benar. Upaya
tersebut menjadi dasar peletakan ilmu Nahwu (gramatika Arab) dan ilmu I'rab al- Qur'an. 43
Setelah
berakhir masa kepemimpinan khulafa' ar-rasyidun, menyusul kemudian pemerintahan
Bani Umayyah dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan sebagai pemimpin
pertama dari dinasti ini. Dan seperti pendahulunya Mu'awiyah telah memberikan
sentuhan yang sangat berarti dengan menggalakkan pemberian tanda baca pada
mushaf. Ini dilakukan ketika salah satu Gubernurnya di Basrah yaitu Ziyad bin
Samiyah menyaksikan kekeliruan sebagian orang dalam membaca surat at-Taubah ayat 3, yang dapat melahirkan makna yang
salah.
Pada masa ini
mainstream pengajaran
al-Qur'an oleh para sahabat dan tabiin masih menggunakan motode at-talaqqy wal 'ardli
yang mengacu kepada periwayatan dan talqin (pengajaran dengan cara
instruksi dan dikte) karena tradisi tulisan belum membudaya. Selain empat
khalifah sahabat-sahabat lain yang mempelopori pengajaran Qur'an dengan metode
di atas adalah : Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy' ari
serta Abdullah bin Zubair. Sedangkan yang dari tabiin mereka adalah : Mujahid,
Atho', `Ikrimah, Qotadah, Hasan al-Bashri, Sa'id bin Jubair, clan Zaid bin
Aslam. Merekalah yang -dianggap- telah meletakkan dasar-dasar dari ilmu-ilmu
al-Qur'an seperti : Ilmu Tafsir, ilmu Asbab an-Nuzul, ilmu Nasikh
mansukh, Ilmu Ghanb al-Qur'an dan lain sebagainya. 44
Pada masa-masa
selanjutnya ketika perkembangan keilmuan dalam peradaban Islam mulai berkembang, pelayanan dan
interaksi dengan Qur'an oleh para sarjana Muslim telah menghasilkan berbagai
ilmu, baik yang ditujukan untuk penjagaan Qur'an seperti: Ilmu Tajwid (untuk
menjaga kesalahan dalam membaca), Ilmu Qiroat (membahas variasi bacaan seperti
yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw.), Ilmu Rasm (membahas tata cara
penulisan huruf), Ilmu Dlobth
(membahas tata cara pemberian tanda baca), Ulum al-Qur'an (yang mencakup
seluruh kajian tentang al-Qur'an seperti sebab-sebab turunnya wahyu dll.);
ataupun yang merupakan hasil dari interaksi mereka dengan al-Qur'an seperti Ilmu
Tafsir, ilmu Balaghah
(retorika), Fan al-Qoshos
al-Qur'aniyah (seni pengkisahan dalam Qur'an); termasuk juga Nahwu
(gramatika Arab -yang merujuk kepada al-Qur'an-), atau yang bersifat seni
seperti seni baca al-Qur'an dengan dilantunkan juga Kaligrafi.
Walaupun begitu
kegiatan penghafalan al-Qur'an tetap berjalan sebagaimana mestinya, bahkan
menjadi pelajaran dasar wajib bagi para pelajar khususnya pada abad-abad
pertengahan. Tidaklah keterlaluan jika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
mengatakan:
"Umat kita tidaklah sama dengan ahli
kitab, yang tidak
menghafalkan kitab suci mereka. Bahkan jlkalau seluruh mushhaf ditiadakan maka
al-Qur'an tetap tersimpan di dalam hatl umat Muslim " 45
Pada masa
sekarang, pengawasan ada di bawah lajnah
pentashih Qur'an di bawah Departemen Agama RI. Di negaranegara Islam pun
terdapat badan yang serupa. Berkat kemajuan tehnologi umat Muslim telah
diuntungkan -khususnya dalam masalah Qur'an-. Kini umat Muslim bisa mendengarkan
alunan ayat-ayat al-Qur'an dari manapun di penjuru dunia tanpa merasa asing akan
bacaan mereka, dengan media bermacam-macam. Dalam upaya mempelajari ayat-ayat
al-Qur'an pun sudah banyak kernudahan yang mereka dapatkan baik berupa tafsir
maupun terjemahan serta ilmu-ilmu pendukung lainnya.
Namun demikian
tradisi penghafalan Qur'an tetap berlanjut hingga hari ini, madrasah (sekolah) dan pesantren
al-Qur'an tersebar di mana-mana di dunia Islam. Di Indonesia kita hdak sulit
untuk mencari pesantren untuk Tahfidz al-Qur'an baik untuk tingkat anak-anak
maupun dewasa. Beberapa diantaranya -untuk sekedar menyebut contoh-
PP Yambu'ul Qur'an-
Kudus Pesantren Krapyak Jogja, PP Nurul Huda-Malang, Pp 4 Munawwariyyah-Malang,
Pondok Darul Huffadz-Sulawesi Selatan, dan banyak lagi selainnya yang tidak
mungkin disebutkan di sini semuanya. Beberapa perguruan tinggi di Timur-tengah
bahkan masih mensyaratkan hafalan beberapa juz tiap tahun ajaran bagi
mahasiswanya. Sedang di Indonesia beberapa pesantren -non-tahfidz- mencantumkan
hafalan Qur'an dalam kurikulum yang mereka pakai.
Patut diingat,
bahwa dalam pengajaran al-Qur'an (Tahfidz al-Qur'an) yang menggunakan metode at-talaqqy wal `ardl juga disertai
dengan sanad yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah, sanad tersebut hanya
diberikan kepada murid yang benar-benar menguasai hafalannya. Berdasarkan sanad
yang ada di Indonesia
rata-rata para Qurra'tersebut merupakan generasi ke 28 ke atas.
Kita masih
beruntung bahwa saat ini masih dapat menyaksikan kebenaran Janji Allah Saw. dalam menjaga kitab yang
diturunkan melalui Rasulullah Saw.
[Dan telah
Kami mudahkan al-Qur'an untuk dipelajari maka adakah orang yang
mempelajari] (al-qamar: 17), kemudahan para penghafal Qur'an dalam
menjalankan aktifitas hafalannya tidak lepas dari janji Allah ini, dan janji tersebut telah
terbukti diantaranya dengan semangat umat Muslim dalam menghafal Qur'an yang
tidak kurang peminatnya hingga saat ini. Janji Allah yang kedua adalah :
[Sungguh
kamilah yang telah menarunkan al-Qur'an dan kamilah yang akan menjaganya]
(al-Hijr: 9).
Dengan melihat realitas upaya penjagaan al-Qur'an dari masa diturunkan hingga saat ini janji tersebut telah terbukti kebenarannya. Dan tentunya merupakan bukti akan kemukjizatan al-Qur'an yang Pada gilirannya menunjukkan kerasulan Nabi Muhammad Saw. Sejarah dan realitas membuktikan hal itu dan pantas saja kalau al-Qur'an menantang manusia-manusia congkak untuk membuat surat semisalnya. Adakah ayat-ayat palsu yang katanya nongkrong di Situs Internet itu dihafal dan dipelajari serta dijaga oleh umatnya?
Dengan melihat realitas upaya penjagaan al-Qur'an dari masa diturunkan hingga saat ini janji tersebut telah terbukti kebenarannya. Dan tentunya merupakan bukti akan kemukjizatan al-Qur'an yang Pada gilirannya menunjukkan kerasulan Nabi Muhammad Saw. Sejarah dan realitas membuktikan hal itu dan pantas saja kalau al-Qur'an menantang manusia-manusia congkak untuk membuat surat semisalnya. Adakah ayat-ayat palsu yang katanya nongkrong di Situs Internet itu dihafal dan dipelajari serta dijaga oleh umatnya?
Tradisi hafalan
al-Qur'an dikalangan umat Muslim memang unik dan merupakan
keistimewaan bagi umat ini. Kalaulah umat lain iri hati melihat fakta ini kita
harus memakluminya. Dr. Robert Morey yang mungkin iri hati melihat
penyikapan umat Muslim terhadap kitab sucinya, mengatakan :
Masalah lain yang berkenaan dengan AI-Qur'an
yaifu bahwa al-Qur'an ditujukan unfuk dihafalkan oleh orang-orang yang bufa
huruf dan fidak berpendidikan, sehingga AI-Qur'an menekankan pada
pengulangan-pengulangan yang sama secara terus menerus.46
Selain
mengatakan seperti kutipan di atas, penulis The Islamic lnvaslon ini juga mengutip pendapat
‘kawan-kawannya' yang
menyatakan bahwa struktur bahasa al-Qur'an campur aduk, menjemukan, melelahkan;
dan segala macam hujatan yang dapat mereka temukan.47
Susunan
al-Qur'an yang dikatakan
oleh mereka yang mengaku ilmuan sebagai susunan yang campur aduk, ternyata dapat
dihafal oleh ribuan umat Muslim tanpa ada keluhan dari mereka. Padahal menurut
logika, materi hafalan yang tersusun rapi akan lebih mudah dihafal dari pada
materi yang acakacakan. Dilihat dari sisi kegiatan hafal menghafal -apapun
materinya- pernyataan Dr. Robert
Morey dan
konco-konconya di atas sangat tidak masuk akal.
-
Coba anda bayangkan mana yang lebih mudah, menghafalkan sesuatu yang urut atau yang acak. Jika anda membeli kartu perdana untuk HP anda -misalnya-, dan dua nomer yang ditawarkan kepada anda; satu nomer biasa (misal, 081 36475146) dan satu lagi nomer cantik misalnya : 081 22334455, mana yang lebih cepat anda hafal yang acak-acakan atau yang teratur seperti dinomer cantik, tentu yang kedua yang akan anda pilih. Tapi jika ada pilihan yang ketiga misalnya nomer 081 17081945, yang sekilas terkesan tidak teratur tapi menurut hernat kami nomer tersebut akan sangat mudah dihafal oleh orang Indonesia bahkan untuk anak seusia SD, yang belum tentu mudah bagi warga negara lain, sebab nomer tersebut adalah tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia.
-
Pengulangan yang ada dalam al-Qur'an bukanlah pengulangan dengan pemakaian kata dan struktur kalimat yang sama. Kesamaan yang ada seringkali disajikan dengan gaya bahasa yang berbeda. Berdasarkan pengalaman penulis -salah satu dari kami- yang sempat menghafal al-Qur'an; menghafalkan ayat yang mirip adalah lebih sulit. Ketika menggabungkan ayat-ayat dalam satu surat hal itu relatif lebih mudah, kesulitan itu baru muncul ketika menggabungkan surat-surat dalam satu Juz, dan seluruh Juz dalam satu al-Qur'an.
-
Rata-rata ulama yang telah mewariskan karya-karya besar di dunia Islam yang bahkan mempengaruhi peradaban barat, seperti : Ibnu Sina, Ibnu Rush, Ibnu Khaldun dll, adalah orang-orang yang telah berbekal hafalan al-Qur'an pada masa kecilnya. Dan justru al-Qur'an itulah yang telah memberi inspirasi kepada mereka dalam karya-karnyanya. Lihat saja Ibnu Khaldun dari ayat (yang artinya) : [Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim] (QS. Ali Imran :140), beliau dapat melahirkan karya spektakuler dalam studi peradaban dengan sebuah teori The Culture Cycle Theory of History yang diakui bahkan menjadi acuan dalam kajian filsafat sejarah.
Bahkan pada
zaman modern ini kita
tidak heran jika ado seorang perwira tinggi militer di Mesir yang mengikuti
lomba menghafal al-Qur'an tingkat nasional.
Untuk
melengkapi pembahasan tentang otentisitas alQur'an ini, maka kami sertakan
salah satu sanad yang
ada di Indonesia. Yaitu milik pengasuh PP
Al-Munawwariyyah Sudimoro-Bululawang-Malang.
Riwayat Hafsh dari
'Ashim.
-
H. Muhammad Maftuh Sa'id Malang.
-
Dari Ayahnya H. Muhammad Sa'id Mu'in Gresik.
-
Dari Gurunya Kyai Munawwar Sedayu Gresik.
-
Dari Syekh Abdul Karim bin Umar al-Bari al-Dimyathy.
-
Dari Syekh Ismail.
-
Dari Syekh Ahmad Rasyidi.
-
Dari Syekh Mushthafa al-Azmiry.
-
Dari Syekh Hijazy.
-
Dari Syekh Ali bin Sulaiman al-Manshury.
-
Dari Syekh Shulthon al-Mazhy.
-
Dari Syekh Saifuddin bin Atho'illah al-Fudloily.
-
Dari Syekh Syahadzah al Yamany.
-
Dari Syekh Nashiruddin al-Thoblawy.
-
Dari Syekh Zakaria al-Anshory.
-
Dari Syekh Ahmad as-Shuyuthy.
-
Dari Syekh Muhammad al-Jazry.
-
Dari Syekh al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Khaliq al-Mashri as-Syafi'I
-
Dari Syekh al-Imam Abi al-Hasan bin Syuja' bin Salim bin Ali bin Musa al-Abbas al-Mashry.
-
Dari Syekh al-Imam Abi al-Qashim as-Syathiby.
-
Dari Syekh al-Imam Abi al-Hasan bin Hudzail.
-
Dari Syekh al-Imam bin Daud bin Sulaiman bin Naijah.
-
Dari Syekh al-Imam al-Hafidz Abi Umar al-Dany.
-
Dari Syekh al-Imam Abi al-Hasan al-Ashnany.
-
Dari Syekh al-Imam Ubaidillah as-Sibagh.
-
Dari Syekh al-Imam Hafsh.
-
Dari Syekh al-Imam Ashim.
-
Dari Syekh al-Imam Abdurrahman as-Sullamy.
-
Dari Shahabat Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit Utsman bin Affan, Ubay bin Ka'b.
-
Dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.
Sanad
di atas dari KH.
Muhammad Maftuh Sa'id. Dibandingkan dengan sanad lain yang kami kumpulkan
sanad ini yang paling ringkas jalurnya, di
mana nama-nama Qurra' yang asal Indonesia hanya tiga di depan. Tradisi
penyampaian qiraat masih mengikuti pendahulunya, di mana
ayat-perayat dibacakan berikut waqaf
(tempat berhenti
membaca) harus dihafal para santri yang menghafalkan al-Qur'an. Apalagi harakat
dan huruf.
SEJARAH DAN
KEASLIAN AL-QUR'AN
Mushaf ‘Utsmany.
Pelayanan para
sahabat terhadap al-Qur'an pada masa Utsman adalah upaya yang jenius dan kita
harus bersyukur karenanya. Sejak itu pintu bagi upaya perubahan atas wahyu lebih
tertutup rapat, jutaan Muslim di segenap penjuru dunia kini dapat dengan tenang
mengaji dan mempelajari al-Qur'an dengan bahasa yang sama (bahasa Arab); tulisan
yang sama, huruf perhuruf, ayat perayat, surat persurat; maka ketika seorang
Muslim Indonesia mengutip satu ayat, Muslim lain di penjuru dunia tidak akan
mempertanyakan kutipan ayat tersebut, sebab mereka juga membaca ayat yang sama
persis. Kutipan ayat sejak masa awal diturunkan hingga hari ini juga tidak akan
didebat oleh siapapun karena tetap sama, tidak ada perubahan atau pun perbaikan.
Kebersamaan itu terwujud menembus ruang dan waktu, bukankah itu suatu
keistimewaan tersendiri bagi umat Islam.
Al-Qur'an yang dipakai oleh Muslim
Syi'ah pun menggunakan Rasm Uthmani seperti yang dituturkan Nurcholish Madjid
ketika mengutip penjelasan yang dimuat di dalam beberapa mushaf terbitan Iran,
kutipan tersebut seperti berikut :
(Ini adalah al-Qur'an) dengan
penulisan yang sangat bagus dan jelas, yang diambil berasal dari cara penulisan
(rasm al-khathth) al-Qur'an yang asli dan tua yang dikenal dengan sebutan rasm
al-mushhaf atau rasm 'Utsmani. Dan cara baca (qiraat)-nya berasal dari yang
paling mu'tabar (absah), dari riwayat Hafsh dan Ashim, yan,g dari jurusan lain
juga berasal dari Amir al-Mu'minin Ali (as.) dan dari jalan ini berasal dari
pribadi Nabi yang mulia (s.a.w). Dalam memberi nomor ayat diambil berasal dari
riwayat Abd Allah ibn Habib alSullami, dari Imam Ali ibn Abi Thalib (as),
sehingga jumlah ayat itu ialah 6236 ayat. 48
Mushaf Imam Ali
yang masih ada di Iran, disikapi dengan sangat bijak oleh Muslim Syiah dengan
tetap menggunakan rasm Uthmani. Sehingga kreatifitas Ali bisa menjadi rujukan
turunnya
surat secara
kronologis, yang tentunya sangat berguna dalam arkeologi pemikiran keagamaan,
tanpa mengubah susunan yang ada. Susunan yang sudah dihafal sejak masa awal ini
menggambarkan cara penyajian sebuah teks yang agung.
Mushaf Uthmani
yang dikirim ke beberapa
wilayah Islam pada masa khalifah Utsman salah satunya kini masih ada di Tashkent
Uzbekistan, seperti yang tampak pada foto di atas. Mushhaf tersebut disimpan
oleh "The Muslim Board of
Uzbekistan'; sebuah lembaga Islam Uzbekistan yang berdomisili di
103, Zarkaynar street, 700002, Tashkent, Uzbekistan, Telpon: (7+3712)
40.08.41/40.39.33. Mushaf ini menjadi milik
dan kebanggaan
Uzbekistan, dan perawatannya selain oleh lembaga di atas juga oleh Komite
Keagamaan pemerintah Uzbekistan.
Mushaf Utsman
ini ditulis di atas kulit, dengan ukuran 53 x 62 cm, setebal ±
250 halaman, dan ditulis dengan khat Kufi. 50 halaman dari manuskrip ini
ditemukan berada di tangan colektor di London 2 abad yang lalu. Sedang
manuskrip Mushaf Utsman yang lain berada di Sana'a dan di Kairo.
Tentang Mushaf
Utsman yang berada di
Tashkent menurut riwayat yang berkembang di daerah tersebut, terdapat dua versi
tentang masuknya Mushaf tersebut dari tempat penulisannya di Madinah.
Versi
I: Kerabat dari
Khalifah Utsman membawa al-Qur'an tersebut ke Maverannahr (Maa waraa'a an-nahr) saat terjadi fitnah
dalam pemerintahannya di Madinah.
Versi II: Ali bin Abi Thalib membawa Mushaf
tersebut ke Kufa, dari sana Amir Taimur membawanya ke
Samarkand saat kembali dari penyerangan ke Irak.
Pada tahun
1868 Mushaf Utsman ini
dikirim ke Imperium Rusia oleh Jendral Von Kaufman dan disimpan di Perpustakaan
Umum di St. Petersburg. Setelah revolusi Oktober 1917 kaum Muslim Kazan membawa
kembali Mushaf tersebut ke daerah mereka. Perselisihan seringkali terjadi antara
Muslim Kazan dan Muslim Uzbekistan. Akibatnya, manuskrip tersebut dikembalikan
ke Tashkent 1924. Disimpan di musium sejarah hingga tahun 1989, hingga akhirnya
diberikan kepada Majlis Muslim Uzbekistan.49
Catatan
Ibarat sebuah
kue, al-Qur'an telah dinikmati oleh umat Muslim sejak diturunkan hingga hari
ini, sementara umat lain sibuk memperkarakan dari mana asalnya. Al-Qur'an tak
henti hentinya dikaji oleh umatnya (kini bahkan orientalis semakin banyak yang
mengkaji al-Qur'an), dan para penentangnya juga tidak pernah berhenti menghujat.
Kini, tinggal bagaimana sikap kita sebagai umat yang di amanati al-Qur'an. Amat
disayangkan jika umat Muslim ikut sibuk memperkarakan resep dan pembuamya,
padahal kue di atas perjamuan tersebut belum juga habis dan tidak akan habis,
apalagi kadaluarsa. Isyarat-isyarat di dalamnya selalu aktual, isyarat yang 14
abad lalu belum dipahami oleh umat Muslim kini berkat kemajuan teknologi dapat
mereka saksikan maknanya, tidak hanya memahaminya.
Berkat usaha
para sahabat Rasulullah yang melakukan standarisasi al-Qur'an
umat Muslim lebih menekankan pada penggalian kandungan al-Qur'an ketimbang
memperdebatkan Sejarah penulisannya. Perbedaan pendapat dikalangan umat Muslim
dalam kajian ulum al-Qur'an lebih baik kita pahami sebagai kekayaan khazanah
intelektual. Coba bayangkan kalau banyak versi al-Qur'an, masing-masing saling
mengunggulkan kebenarannya sendiri sementara yang diperdebatkan belum habis
dikaji. Standarisasi yang dilakukan oleh Uthman di setujui oleh para sahabat.
Imam Ali yang juga menulis mushaf (pribadi) memuji tindakan yang diambil oleh
sahabat Uthman. Apakah mungkin para sahabat yang sangat jujur, kritis, pemalu
(seperti Uthman) melakukan kebohongan publik ? Khalifah Uthman sendiri yang oleh
Dr. Robert Morey disudutkan bahkan pada masalah
pribadi beliau adalah salah satu sahabat yang oleh Rasulullah disebut sebagai
salah satu penghuni surga -selain sembilan lainnya-.
Ide penulisan
ulang al-Qur'an sesuai kehendak masyarakat modern, yang justru keluar dari
kalangan Muslim, adalah upaya membangun hotel ditengah danau. Kenapa tidak
membangun hotel disamping danau, sehingga banyak orang yang menikmati dan
mungkin mengikuti. Ulama' terdahulu sudah mencontohkan pembangunan hotel
berbentuk tafsir, asbab an-Nuzul, i'rab alQur'an dan lain-lainnya yang
terhitung. Hotel-hotel itu tidak pernah kosong, hingga saat ini masih banyak
yang datang mengkajinya, bahkan direnovasi dengan bermacam-macam bahasa. Suatu
saat nanti kita hanya ditanya seberapa banyak yang sudah kita amalkan dari
ajaran itu.
Penyudutan
orientalis sefiacam Dr. Robert
Morey terhadap
al-Qur'an tidak lepas dari tradisi Kristen dalam memandang Bibel yang
hanya disebut sebagai "karangan", kita bisa melihat langsung di Bibel bagaimana
masing-masing Injil diberi judul "Karangan". Hal itu sangat dimaklumi karena
Bibel (Taurat dan Injil) sampai ketangan mereka setelah banyak peralihan bahasa
dan yang terakhir adalah berbahasa Latin Romawi. Dari sisi materipun banyak
ajaran yang tidak mungkin dipakai. Bagaimana mungkin sebuah kitab suci
melecehkan 'tuhan' dan nabinya sendiri, belum lagi ayat-ayat porno. Itulah
sebabnya tidak heran jika banyak dari mereka yang jujur, menyatakan bahwa ajaran
yang sebenarnya dari Nabi Isa As. telah diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad
Saw.
BAHASA AL -QUR'AN
Allah Swt.
telah menyatakan dalam al-Qur'an bahwa bahasa yang dipergunakan dalam pewahyuan
adalah bahasa Arab (bilisanin 'arabiyyin
mubiin) dengan bahasa Arab yang jelas. Lebih spesifik lagi riwayat
Imam Bukhari tentang kodifikasi wahyu masa Utsman menyebutkan bahwa al-Qur'an
ditulis dengan bahasa Arab Quraisy yang merupakan bahasa utama dikalangan
suku-suku di Jazirah Arab. Tampilnya bahasa Quraisy, sebagai bahasa utama tidak
terlepas dari keberadaan suku tersebut yang lebih dominan dalam kancah
perdagangan dan posisi strategisnya yang ditempati Ka'bah, dimana ka'bah menjadi
pusat kegiatan ritual kepercayaan mereka menjelang datangnya Islam.
Rasulullah
dilahirkan di kalangan Suku Quraisybahkan dari klan terpandang yaitu Bani Hasyim
dan tentunya bahasa keseharian beliau adalah bahasa Arab Quraisy. Walaupun pada
dasarnya beliau mengusai dialek-dialek lain karena dibesarkan di Bani Saad yang
oleh masyarakat Arab dikenal sebagai suku Paling fasih dalam berbahasa. Jika
kemudian ketika beliau mendapatkan wahyu dari Allah Swt. dalam bahasa Arab,
adalah suatu hal yang sangat wajar melihat latar belakang bahasa beliau. Justru
tidak logis kalau al-Qur'an menggunakan bahasa lain yang tidak dipahami
masyarakat Arab.
Kenyataan bahwa al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab
hendaknya dijadikan acuan para pengkaji Al-Qur'an sehingga kesalah pahaman dapat
sedikit mungkin dihindari. Mengindahkan kenyataan di atas sama saja dengan
mengesampingkan dan menutup-nutupi fakta.
Penelitian yang dilakukan oleh orientalis Jerman dengan
nama samaran Christhop Luxemberg agaknya mengesampingkan kenyataan bahwa
al-Qur'an disampaikan dengan bahasa Arab.50 Dan sudah maklum bahwa masyarakat yang
dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw. pada awal masa dakwahnya adalah masyarakatnya
sendiri yaitu masyarakat Arab dan yang paling dekat Quraisy. Oleh sebab itu untuk
mendapatkan makna yang tepat dari al-Qur'an seorang pengkaji mestinya merujuk
kepada bahasa Arab yang berlaku saat itu, atau minimal yang mendekati masa itu.
Itulah sebabnya para ulama seringkali merujuk kepada syair-syair jahili karena
lebih dapat menjelaskan pemakaian kata pada masa itu.
Kesamaan kata dalam bahasa serumpun bukan menjadi alasan
untuk membacanya dengan bahasa tersebut karena memiliki makna yang berbeda.
Sebagai contoh misalkan dalam buku yang ada ditangan anda kali ini, katakan kami
menulis kata "Dewan Perwakilan Rakyat" untuk menyebut sebuah lembaga tinggi
negara kita. Kata itu kemudian diperinci dan diruntut ke bahasa aslinya yang
tentunya dari bahasa Arab. Kata pertama ketika dirujuk ke bahasa aslinya
memiliki makna : daftar, tempat penulis, dan kumpulan syair. Setelah melihat
makna yang diingini kemudian kata "Dewan Perwakilan Rakyat" diartikan sebagai
`daftar perwakilan rakyat'.
Antara dialek satu dengan lain dalam satu bahasa saja
kadang memiliki makna yang berbeda apalagi bahasa serumpun. Kata "kereta"
misalnya di Jawa dipahami sebagai kendaraan yang ditarik oleh kuda, tapi di
Medan dipahami sebagai sepeda motor, kata yang sama dengan dua makna di dua
tempat yang berbeda. Tapi jika tulisan yang memakai kata "kereta" tersebut
ditulis oleh orang Jawa maka tidak mungkin di pahami sebagai sepeda motor,
kecuali penulisnya mengisyaratkan demikian.
Penggunaan bahasa Arab dengan dialek Quraisy dijadikan
alasan oleh Dr. Robert morey untuk mengatakan bahwa al-Qur'an adalah karangan
Nabi Muhammad Saw seperti berikut ini :
Umat Muslim menyatakan ba hwa AI-Qur'an "difurunkan" dari
surga dan bahwa Muhammad fidak dapat dipandang sebagai penyusunnya. Tetapi
menuruf Concise Encyclopedia of Islam, bahasa Arab yang dipakai dalam AI-Qur'an
itu merupakan suatu dialek kosakafa dari salah seorang anggota suku Quraisy yang
finggal di kota Makkah. Jadi sidik jari Muhammad fercecer di seluruh
AI-Qur'an.51
Pernyataan seperti di atas hanya pantas diucapkan oleh
seorang yang tidak memiliki nabi. Bukankah nabi dari pembuat pernyataan tersebut
menerima wahyu dalam bahasanya sendiri? Ungkapan balik semacam ini tidak berguna
sebab yang mempertanyakan memang tidak punya nabi/rasul sebab sudah dilantik
Paulus menjadi tuhan.
Umat Kristen yang mengakui Injil tentu mengakui Taurat,
yang tentunya mengakui adanya wahyu yang berbahasa Ibrani tersebut. Kenapa harus
berbahasa Ibrani? Pertanyaan yang sama : "Kenapa harus berbahasa Quraisy ?".
Semua wahyu yang berasal dari Allah tentu saja boleh dikatakan Surgawi - untuk
menyatakan wahyu itu berasal dari yang Kuasa-, wahyu tersebut disampaikan kepada
masing-masing rasul dengan bahasa umat mereka. Kalau umat Muslim diberi wahyu
berbahasa Ibrani tentu saja tidak akan paham, kalau tidak dipahami apa fungsinya
wahyu ?. Taurat sendiri dalam kitab Ulangan :18
:18 menubuatkan kemunculan Muhammad, yang bahkan menerangkan
bagaimana proses pewahyuan itu dilakukan. Lihat bab. Wahyu dan
pewahyuan.
Interpretasi terhadap sebuah teks dalam bahasa apapun
dibutuhkan
kemampuan bahasa yang
baik, agar sebisa mungkin terhindar dari misinterpretasi, apalagi terhadap teks
semacam Qur'an yang menjadi sumber utama ajaran Islam. Dalam tradisi keilmuan
Islam untuk menjadi seorang mufassir (interpretator) syarat kemampuan yang harus
dimiliki amat ketat. Selain kemampuan bahasa dengan segala cabang keilmuannya
seperti gramatika, retorika; juga diperlukan ilmu-ilmu pendukung lain seperti
Hadits dan Mushthalah al-Hadits, Fiqh dan Maqasid as.
Syar' dan yang tidak kalah penting adalah Ulum al-Qur'an, Tajwid, Qiroat, juga
ilmu-ilmu pendukung lain.
Majaz
yang merupakan salah
satu bahasan dalam retorika bahasa Arab, tentu tidak bisa diabaikan dalam
memahami makna teks al-Qur'an. Apalagi bahwa majaz adalah gejala bahasa
yang
lazim dikenal
oleh pengguna bahasa manapun. Dua kata metaforis dalam Qur'an -telah dipahami
salah oleh Dr.Robert Morey. la sendiri mengakui telah menerjemahkan
secara literal. Berikut ini kutipan dari pernyataannya tentang rasisme
:
Menuruf
terjemahan bahasa Arab
secara literal dari Surat 3:106-107, pada Hari Penghakiman, hanya orang-orang
dengan wajah pufih yang diselamatkan. Orang-orang dengan wajah hitam akan
dihukum. Ini merupakan rasisme dalam bentuknya yang paling jelek.
52
Kata hitam dan
putih dengan makna metaforisnya "susah" dan "senang" hingga saat ini masih
dipakai dalam bahasa keseharian masyarakat Arab. Mereka sering menggunakan kata
khabar aswad (literalnya- kabar
hitam) untuk menyatakan berita/keadaan yang tidak menyenangkan, dan khabar
abyadl (literalnya-kabar putih) untuk mengungkapkan makna berita/keadaan
gembira. Memaknai dua kata dalam ayat yang dimaksud Robert Morey, akan terdengar lucu jika dimaknai
secara literal, sehingga terkesan adanya unsur kesengajaan, demi menuduh adanya
rasisme dalam Islam.
Dengan
memperhatikan kebiasaan masyarakat Arab dalam mengungkapkan makna senang
dan sedih seperti contoh di atas, pembaca akan segera tahu apa yang dimaksud
oleh Qur'an dengan wajah putih dan hitam. Makna wajah putih dalam ayat tersebut
adalah wajah yang gembira karena selamat dalam penghakiman (hisab) sedang yang kedua adalah wajah
yang sedih karena tidak selamat dan akan dihukum. Dan itu bisa terjadi atas
siapa saja, termasuk mereka yang terlalu bangga dengan ras kulit putihnya. Jika
hanya hitam dan putih saja yang masuk penghakiman, maka berbahagialah orang
Indonesia yang berkulit coklat sawo matang.
Masyarakat
Arab yang mendapat
kehormatan karena bahasanya menjadi bahasa perantara wahyu melalui Nabi
Muhammad, adalah masyarakat pedagang. Tanah yang gersang dan tandus -khususnya
di Makkah- menjauhkan mereka dari kehidupan agraris. Sebagai pedagang
berkeliling mencari clan menawarkan barang dagangan adalah keharusan. Melalui
kegiatan ini interaksi dengan bangsa lain dilakukan, dan lewat jalan ini pula
kegiatan dakwah Islam sering mereka lakukan.
Interaksi
masyarakat Arab dengan
bangsa lain jelas akan mempengaruhi bahasa mereka. Pada masa Rasulullah -saat
wahyu diturunkan- beberapa kata asing sudah masuk ke dalam bahasa Arab. Kata
yang masuk ke dalam bahasa komunikasi mereka kadang dipakai apa adanya kadang
mereka carikan padan katanya, ini lah yang mereka sebut at- Ta'rib yaitu upaya mewujudkan kata
dalam bahasa Arab untuk istilah clan ungkapan dari kata asing yang mereka
adobsi. Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, dan merupakan
gejala yang sangat wajar dalam dinamika suatu bahasa.
Dalam kajian
ulumul Qur'an banyak ulama yang membahas masalah ini diantaranya
adalah Imam Suyuthi dalam bukunya al-Itqan
Fi Ulum al-Qur'an. Namun demikian sangatlah salah jika
Robert Morey menyatakan bahwa masuknya bahasa
asing dalam al-Qur'an dikatakan "kecolongan”53 apalagi jika alasan tersebut
dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa ajaran al-Qur'an dari bangsa asing.
Bahasa asing yang masuk
dalam bahasa al-Qur'an
adalah bahasa asing yang
sudah diadopsi bahasa Arab. Karena al-Qur'an diturunkan dengan memakai bahasa
Arab, maka sudah pasti al-Qur'an menggunakan kata clan istilah yang dipakai oleh
masyarakat saat itu. Justru kalau al-Qur'an memakai bahasa yang tidak dipahami
oleh bangsa Arab maka proses dakwah akan terganjal, karena bahasa perantaranya
tidak dipahami, yang pada gilirannya wahyu tidak berfungsi Ambil contoh misalnya
dalam pengajaran komputer. Karena banyak istilah komputer sudah diadopsi oleh
bahasa Indonesia, maka akan mudah jika mengajarkannya dengan memakai
istilahistilah asing tersebut dari pada memberikan padan katanya dalam bahasa
Indonesia. Tapi tidak ada yang mengatakan bahwa anda mengajar komputer dengan
bahasa Inggris. Sama seperti buku yang ada di tangan pembaca, walaupun bahasa
Indonesia mengadopsi banyak bahasa asing tapi tidak ada yang mengatakan bahwa
buku ini ditulis dengan bahasa asing.
Sejak masa
diturunkan al-Qur'an variasi bacaan sudah ada bahkan Rasulullah sendiri
menyatakan hal itu. Namun demikian bukan berarti umat Muslim boleh membaca seenaknya sesuai
dialek dan kemauan mereka. Variasi bacaan tersebut telah ditetapkan sejak masa
Rasulullah sehingga umat Muslim mendapatkan keleluasaan dalam memahami teks
al-Qur'an dengan tetap memperhatikan bacaan yang sudah di akui kebenarannya oleh
Rasulullah sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam riwayat berikut ini
:
Pertama
:
...dari Ubay bin Ka'b mengatakan : Rasulullah
bertemu dengan Jibril, maka beliau berkata : "Wahai Jibril seszrngguhnya saya
diutus kepada umat yang buta huruf, diantara mereka ada orang-orang tua dan
sudah udzur, anakanak, wanita hamba sahaya, serta orang-orang yang tidak pernah
membaca buku sama sekali", Jibril berkata: "Wahai Muhammad sesungguhnya
al-Qur'an itu diturunkan atas tujuh macam huruf. 54
Kedua :
Berkata kepada kami Abdullah
bin Yusuf, Malik
mengabarkan kepada kami dari ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman
bin Abdin al-qory, bahwa ia berkata : Saya mendengar Umar bin Khattab mengatakan
: Saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat al-Furqon dengan (bacaan)
selain yang kubaca
sedang Rasulullah Saw. telah membacakan (mengajarkan surat itu) kepada saya,
saya hampir keburu (menegaskan masalah ini) kepadanya kemudian saya tunda
sebentarsampai ia pulang, kemudian aku memanggilnya dan membawanya kehadapan
Rasulullah Saw, maka saya mengatakan : Saya mendengar (hisyam) ini membaca
dengan selain bacaan yang engkau ajarkan kepadaku, maka beliau mengatakan
kepadaku : "Bawa ia (kepadaku) "kemudian berkata kepadanya : "Bacalah"maka ia
segera membaca (dan Rasulullah) mengatakan : "Seperti inilah diturunkan",
kemudian beliau berkata kepadaku : "Bacalah" maka saya membaca (dan Rasulullah)
mengatakan: "Seperti inilah diturunkan, sesungguhnya alQur'an itu diturunkan
dengan tujuh macam huruf, maka bacalah al-Qur'an dengan (bacaan) yang mudah
(bagimu). 55
Dari kedua
riwayat hadits di atas kita mengetahui bahwa variasi bacaan diterima Rasulullah
lewat Jibril. Tujuh macam bacaan itu kemudian diajarkan kepada para sahabat,
yang sekarang kita kenal
sebagai "Qiraat Sab'ah" (tujuh macam bacaan). Tujuh macam cara baca itupun telah
turun temurun dibacakan hingga sampai kepada kita sekarang ini. Sanad yang
diterima oleh para penghafal Qur'an juga merujuk kepada salah satu dari ketujuh
macam bacaan tersebut melalui sahabat yang langsung mendapatkan bacaan itu dari
Rasulullah.
Dalam mengkaji
masalah ini Robert morey
masih menggunakan
kacamata tradisi Kristen,56 sehingga adanya varian dalam Qur'an
disamakan dengan varian dalam Injil. Padahal kenyataannya sangat berbeda,
seperti berikut ini :
-
Varian dalam al-Qur'an yang kita kenal dengan tujuh macam cara baca, telah diperbolehkan oleh Rasulullah, dan hanya terbatas sesuai yang telah diajarkannya. Selanjutnya umat Islam tidak ada yang berani membaca dengan selain yang diajarkan olehnya. Perbedaan cara baca itu pun tidak melahirkan suatu pertentangan makna sehingga merubah subtansi ajaran yang pokok yaitu Tauhid. Justru perbedaan bacaan itu memberikan keleluasaan makna yang pada gilirannya memberikan keleluasaan pada umat Muslim dalam menjalankan ibadah clan mengatur kehidupannya. Tapi tidak menyangkut masalah pokok seperti Tauhid.
-
Tidak demikian dengan pemahaman yang ada dalam tradisi kristen. Varian yang ada dalam bibel adalah perbedaan isi yang terjadi karena pengubahan pada setiap edisi pencetakan. Contoh di bawah ini mungkin akan memperjelas pandangan kita:
- Dalam Bibel
yang diterbitkan oleh
The Gedeons, tahun 1976, dalam Imamat pasal 11 ayat 7 :
..., dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya berbelah
dua, ia itu bersiratan kukun'ya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia
kepadamu.
Dalam Bibel
yang diterbitkan oleh
Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta tahun 1999, dalam imamat pasal 11 ayat 7
:
..., dan lagi babi hutan, karena sungguhpun kukunya
berbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka
haramlah ia kepadamu.
Tradisi kristen
tidak mengenal istilah "Terjemah" yang ada adalah Injil bahasa
Indonesia, Injil bahasa
Inggris, dan lain-lain. Maka pengaruh Injil tahun 1976, akan berbeda dengan
pengaruh Injil tahun 1999 -itupun jika berpengaruh-. Umat kristen - anggota
jemaat- tidak bisa langsung merujuk kepada teks tertuanya seperti yang dilakukan
oleh umat Islam. Sebagai gambaran, umat Katolik di Indonesia baru diperbolehkan
membuka Injil pada tahun 1980, itupun setelah beberapa isi yang tidak bisa
dinalar telah dihapuskan. Sebelum itu mereka hanya mendapatkan buku semacam buku
ajar yang berupa tanya jawab masalah agama. Kini terbitan taliun 1999 itu
dipakai baik oleh Protestan maupun Katolik.
Satu hal
yang perlu dipertegas
bahwa masalah Qira'ah sab'ah
bukanlah hal yang ditutupi dalam khazanah keilmuan Islam, apalagi Rasulullah
telah menetapkan adanya ketujuh macam bacaan itu. Untuk mendapatkan al-Qur'an
dengan ketujuh macam bacaan tersebut anda tidak perlu susah-susah mencari
teks-teks kuno di perpustakaan seperti orang yang mencari teks-teks yang
seakan-akan disembunyikan-, anda cukup pergi ke toko buku, karena sudah terjual
bebas. Kami pernah dapatkan di salah satu toko buku di Makkah-Arab
Saudi.
Kata nasakh memiliki makna : penghapusan,
penggantian, pengalihan, atau penyalinan. dalam pengertian agama: “penghapusan hukum syar'i dengan
dalil-dalil syar'i", (syar'i yang dimaksud adalah yang bersumber dari Qur'an dan
hadits sebagian membolehkan dari Qiyas dan Ijma'), devinisi yang banyak dipakai
oleh ulama. 57
Nasakh dalam al-Qur'an berarti : Penghapusan
ayat baik tulisan maupun hukumnya, atau hukumnya saja; karena datangnya ayat
yang kemudian. Kenyataan
ini ditegaskan oleh al-Qur'an sendiri juga hadits Rasulullah.
Dan apabila kami letakkan suatu ayat
di tempat ayat lain sebagai penggantinya, padahal Allah lebih mengetahui apa
yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang
mengada-ada saja". Bahkan, kebanyakan mereka itu tidak mengetahui
(QS.
An-Nahl 101).
..berkata
Abu al-'ala' bin asy-Syikhkhir: "Hadits Rasuslullah me-nasakh sebagian atas
sebagian yang lain,
sebagaimana ayat Qur'an yang me-nasakh sebagian atas sebagian lainnya
" (HR. Muslim).
Seperti
yang telah kita bahas
sebelumnya, bahwa al-Qur'an diturunkan ayat per-ayat, surat per-surat hingga akhir masa
kenabian. Ini berarti masing-masing ayat atau surat yang diturunkan memiliki perannya
sendiri dalam perjalanan dakwah Rasulullah, baik dalam dakwah utamanya mengajak
kepada Tauhid maupun dalam usaha pembenahan kehidupan sosial masyarakatnya.
Mengubah suatu tatanan masyarakat tentulah tidak mudah. Itulah sebabnya maka
adanya nasakh memberi hikmah yang sangat sesuai dengan metode pentahapan yang
dilakukanan oleh Rasulullah dalam dakwahnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh
Al-Qur'an -yang artinya-:
Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami
jadikan manusia lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau
yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 106).
Ketika suatu
tahapan sudah terlampaui maka diturunkan ayat lain untuk masuk dalam tahapan
berikutnya. Dan terbukti Rasulullah Saw telah berhasil melakukan suatu perubahan
yang sangat mendasar dalam kehidupan umatnya, dalam waktu 23 tahun. Sebagai
contoh -dalam penanganan penyakit sosial berupa perzinaan- dalam surat an-Nisa' ayat
15 yang
menjelaskan tentang hukuman kurungan kepada istri-istri yang selingkuh.
Ketetapan ini kemudian dinasakh dengan ketentuan hukuman yang lebih berat, yakni
hukuman cambuk 100 kali (QS. Al-Nur:2). Setidaknya ini adalah salah satu
hikmah dari adanya nasakh. Dengan tetap ditulisnya kedua ayat -dalam contoh di
atas- di dalam Qur'an setidaknya membuktikan kejujuran Rasulullah clan para
sahabatnya untuk tetap menyajikan apa adanya dari semua wahyu yang diturunkan.
Jika benar tuduhan Robert
Morey bahwa
sahabat Utsman menghilangkan 127 ayat demi alasan politik48, mengapa tidak
dihilangkan salah satu dari kedua ayat di atas, dengan mengambil ketetapan
hukuman yang ringan atau yang berat sesuai kondisi sosial politik masa itu. Toh
ternyata hal itu tidak dilakukan oleh mereka.
Nasakh yang ada dalam tradisi Islam
khususnya dalam penyikapan terhadap al-Qur'an sangat berbeda dengan tradisi
Kristen dalam menyikapi Injil. Nasakh yang ada dalam al-Qur'an tidak sampai
ditambahi atau dikurangi oleh para pengikutnya seperti yang dilakukan oleh umat
kristen. Lihat contoh dalam bahasan masalah variasi bacaan di atas, pihak Gereja
terpaksa menambah kata dalam suatu ayat demi memaksakan suatu doktrin yang tidak
masuk akal, atau untuk menghalalkan sesuatu yang disukai oleh umatnya untuk
mempertahankan jumlah jema'at.
Menerjemahkan
al-Qur'an atau teks apapun kedalam bahasa lain tanpa mengurangi makna yang
terkandung di dalamnya adalah mustahil, belum lagi masalah estetikanya. Karena
setiap bahasa memiliki ciri khas pengungkapan tersendiri. Sebagai contoh
masyarakat Arab memiliki sekian banyak perbendaharaan kata dalam masalah unta
karena memang tempatnya. Bahasa Indonesia kaya dengan kosa kata untuk
menunjukkan makna padi karena memang berbudaya agraris. Bahasa Arab tidak
memiliki satu persatu padan kata untuk kata : gabah, padi, beras, nasi; yang ada
hanya ar-ruzuntuk keempat kata dalam bahasa Indonesia di atas. Begitu juga
sebaliknya.
Sebagian ulama
menempatkan terjemah al-Qur'an sebagai tafsir (interpretasi). Tapi mayoritas
sepakat bahwa otoritas tetap Pada teks dengan bahasa aslinya. Sebab ketika
seorang penerjemah mengartikan suatu kalimat, secara tidak langsung dia telah
menetapkan bahwa itu adalah makna dari kalimat dalam teks aslinya. Sedang
penerjemah lain bisa
saja menulis makna lain sesuai pemahamannya. Oleh sebab itu al-Qur'an
terjemah tidak
seotoritatif al-Qur'an dengan bahasa aslinya. Maka dalam setiap terjemah al-Qur'an
selalu disertakan teks aslinya sehingga pembacanya bisa langsung merujuk kepada
teks asli tersebut. Upaya tersebut bukanlah pengekangan atau klaim bahwa
al-Qur'an tidak dapat diterjemahkan, namun lebih merupakan kebijakan yang jenius
dan sesuai dengan semangat penjagaan al-Qur'an yang telah dilakukan selama empat
belas abad. Lain dari pada itu ritual ibadah dalam Islam juga menggunakan
al-Qur'an dan bahasa Arab.
Buku
Islamic Invasion seringkali menampilkan terjemahan
dari ayat-ayat al-Qur'an yang kemudian dengan membandingkan hasil penerjemahan
tersebut ia mengambil kesimpulan adanya pertentangan internal dalam
al-Qur'an.58
Pandangan semacam ini tentu saja
tidak lepas dari tradisi dikalangan Kristen yang tidak memandang adanya
perbedaan antara teks asli dan terjemahan sebab mereka tidak memiliki teks yang
asli ditulis pada masa kenabian. Umat Kristiani mengambil sepenuhnya dari Injil
dalam bahasa apapun tanpa langsung merujuk kepada teks yang tertua. Teks tertua
Bibel tidak pernah dimuat bersamaan dengan terjemahnya, seperti yang dilakukan
umat Muslim ketika menerjemahkan al-Qur'an. Oleh sebab itu ketika terjadi
perbedaan makna terjemahan umat Muslim dapat langsung merujuk kepada teks
aslinya. Dengan demikian otoritas utama tetap pada teks aslinya, dan terjemah
hanya berperan menjelaskan tanpa mempunyai otoritas seperti aslinya.
Sebagai
perbandingan agaknya kita perlu menyimak pernyataan J.J.G. Jansen, dalam
disertasi doktornya di Rijk suniversitiet Leiden tahun 1972, seorang yang memiliki otoritas
dalam bidang al-Qur'an dikalangan Orientais, ia mengatakan :
Dibandingkan dengan kalangan
Kristen, khotbahkhotbah
-yang kadang-kadang mendatangkan perbaikan luar biasa-, yang didasarkan pada
pengembangan yang cerdas dan kebetulan terhadap penyusunan terjemahan Injil,
kadang sangat berlawanan dengan makna teks aslinya. Seseorang tidak bisa tidak
kecuali memuji sikap Muslim terhadap masalah ini.59
Berdasar
pernyataan di atas tradisi penyikapan wahyu dikalangan Muslim sangat berbeda dengan
penyikapan umat Kristen. Pengembangan yang tentunya memuat perubahan yang bahkan
sampai berlawanan dengan makna teks aslinya, dianggap sebagai kreatifitas yang
cerdas. Sementara tradisi Islam sejak masa Rasulullah hingga saat ini melarang
perubahan dalam bentuk apapun terhadap teks al-Qur'an. Sebab umat Muslim tidak
perlu menyesuaikan teks al-Qur'an dengan perkembangan zaman karena memang tidak
bertentangan.
Itulah sebabnya
sangat sulit diterima jika ada ungkapan bernada mempertanyakan keaslian teks
al-Qur'an sementara pernyataan itu keluar dari mereka yang dengan bangga telah merubah
kitabnya sendiri. Pihak Gereja -yang berwenang atas terjemah Injil- boleh saja
berkilah bahwa itu tidak merubah, tapi menerjemahkan. Tapi siapapun maklum bahwa
ketika teks terjemah tidak disertai teks aslinya, maka umat yang memakainya
tentu menjadikan terjemah tersebut sebagai satusatunya sumber. Ketika otoritas
terjemah dianggap sama dengan aslinya, maka perubahan terjemah akan merubah
hukum ajaran yang dianut. Jika pada tahun 1976 umat kristen, dilarang makan
babi. Maka setelah tahun 1999 mereka boleh memakannya, karena yang dilarang
adalah babi hutan. Bagaimana jika pada tahun mendatang kecendrungan masyarakat
akan konsumsi makanan berubah lagi. Semacam inilah yang termasuk dalam
peringatan al-Qur'an, agar manusia tidak merubah ayat-ayat yang diturunkan
kepada mereka.
Masyarakat
Arab pada masa turunnya
wahyu adalah Inasyarakat yang sangat mengagungkan bahasa. Syair-syair yang
muncul dikalangan mereka selalu membawa pengaruh sosial dan politik pada masa
itu. Kemunculan Rasulullah Saw dengan ajaran yang baru dan sangat bertentangan
dengan paham yang ada
tentulah mengundang penentangan yang hebat, bahkan mengancam nyawa
beliau. Sebagaimana Nabi-nabi lain yang telah terdahulu, setiap nabi dibekali
dengan mukjizat yang dapat menaklukkan penentangan kaumnya sehingga mereka
mempercayai risalah yang dibawanya. Jika Nabi Musa yang berhadapan dengan
Fir'aun dan bala tentaranya - yang terkenal dengan kehebatan magic - dibekali
dengan mukjizat yang dapat menandingi sihir, maka Rasulullah Muhammad Saw. yang
berhadapan dengan masyarakat yang sangat mengagumi keindahan bahasa dibekali
oleh dengan Mukjizat al-Qur'an yang disampaikan dengan keindahan bahasa yang
dapat menandingi kemampuan masyarakat Arab saat itu.
Keindahan gaya
bahasa al-Qur'an terbukti telah menunjukkan keampuhan perannya sebagai mukjizat
bagi keberhasilan dakwah Rasulullah Saw. Banyak sekali riwayat yang
menyatakan bagaimana sebagian masyarakat Arab pada awal dakwah Islam dengan
serta merta mengakui kenabian Muhammad Saw hanya setelah mendengar ayat-ayat
Qur'an. Berikut ini kami kemukakan riwayat Umar bin Khattab yang masuk Islam
setelah mendengar ayat yang dibaca oleh Rasulullah Saw.
...berkata Umar bin Khattab : "Saya keluar untuk
menemui Rasulullah Saw. (saat itu) saya belum masuk Islam. Saya mendapatkannya
telah mendahului masuk masjid maka saya berdiri dibelakangnya, kemudian
(Rasulullah) memembaca surat al-haqah maka saya
terkagum-kagum dengan susunan (gaya bahasa) al-Qur'an ". (Umar) berkata : Maka
saya mengatakan : "Ini adalah penyair seperti yang dikatakan oleh (kaum) Qurays".
(kemudian Umar) mengatakan : "Maka (Rasulullah Saw.) membaca (ayat yang artinya)
(Sesungguhnya al-Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan
kepada) Rasul yang mulia. dan al-Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair.
Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.]. Umar berkata: "Saya mengatakan (ini
perkataan) peramal. Rasulullah mengatakan (menyebut ayat yang artinya) [Dan
hukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya.
la adalah
wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad)
mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar Kami pegang
dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami),
dari pemotongan urat nadi itu. ] hingga akhir surat. Umar berkata : "maka
menetaplah Islam dalam
hatiku sedalarn-dalamnya. (HR.
Imam Ahmad).
Sahabat Umar
bukanlah seorang yang
bodoh. Beliau adalah seorang yang sangat berani dan kritis dengan kemampuan
berbahasa yang tinggi. Masih banyak lagi riwayat keislaman masyarakat Arab
karena kekaguman mereka terhadap gaya bahasa al-Qur'an.
Keindahan
bahasa al-Qur'an baik dalam pemakaian kata maupun penyusunannya, diakui oleh
masyarakat Arab sendiri
sejak awal mula diturunkan hingga saat ini. Gaya bahasa yang sangat indah dari AI-Qur'an
sekaligus menafikan adanya campur tangan manusia di dalamnya termasuk Rasulullah
Saw. Pernyataan Robert
Morey seperti
berikut ini :
Ceceran sidik-jari tangan Muhammad
dapat dilihat pada setiap halaman al-Qur'an sebagai saksi bahwa asal al-Qur'an
tidak murni dari Allah. 60
Adalah
pernyataan tanpa dasar. Setidaknya ada dua hal Yang perlu kita perhatikan dalam
masalah ini yaitu :
Dalam al-Qur'an
banyak sekali ayat-ayat yang turun secara spontan. Dan tidak
dapat disangkal bahwa redaksi yang disusun seseorang secara spontan, pasti
mutunya lebih rendah dari yang disusun dengan berpikir lebih dahulu. Tetapi para
kritikus bahasa - setelah membandingkan ucapan Nabi Muhammad Saw dengan
ayat-ayat Qur'an - mengakui bahwa keindahan bahasa Al-Qur'an lauh melebihi
keindahan bahasa Nabi Muhammad Saw. Kalau bukan dari Allah mana mungkin yang
spontan lebih baik dari yang dipikir lebih
dahulu (lihat riwayat di atas).61
Pakar-pakar bahasa
mengakui bahwa setiap orang mempunyai gaya bahasa tersendiri yang merupakan
ciri khas masing-masing. Amat sulit bagi seseorang -kalau enggan berkata
mustahil- untuk memiliki dua gaya bahasa
yang
berbeda. Jika anda membandingkan gaya bahasa
al-Qur'an dengan gaya bahasa hadits maka anda akan menemukan suatu perbedaan
yang
menonjol.62
Gramatika
Arab.
Adalah suatu
keganjilan jika 14 abad setelah
masa pewahyuan - ketika kefasihan berbahasa Arab oleh pemakainya sendiri tidak
seindah dulu-, tiba-tiba ada seorang Amerika (Dr. Robert
Morey) -yang tidak
menguasai bahasa Arab- mengatakan:
Pertama-tama,
AI-Qur'an bukanlah bahasa Arab yang
sempurna. AI-Qur'an mengandung banyak sekali kesalahan gramatika seperti dalam
surat
2:177
........ 63
Gramatika
Arab
pertama kali ditulis secara serius oleh Sibawaih yang asli Persia pada abad ke
II H. -1,5 abad setelah al-Qur'an diturttnkan-, setelah sebelumnya pada abad I
H. dasardasarnya telah diletakkan oleh Abul Aswad ad-Duali. Bagaimana mungkin
gramatika Arab menghukumi al-Qur'an sementara penulisan gramatika itu sendiri
merujuk kepada bahasa al-Qur'an -selain syair-syair Arab-. Ini kan sama saja
dengan mengatakan "berdasarkan air garam yang
saya minum, maka air laut man itu kurang asin".
Seperti kata
Robert
Morey :
"Yang lama
mencocokkan yang baru".64 Karena nahwu yang datang sesudah
al-Qur'an telah mengambil kaidah-kaidah pemakaian bahasa dari Qur'an, maka
al-Qur'an lah yang menghukumi nahwu bukan sebaliknya. Ini baru prinsip yang
masuk akal. Sedang untuk masalah ajaran agama yang tentunya memuat hukum untuk
mengatur kehidupan bermasyarakat. Maka prinsip yang dipakai adalah prinsip hukum
yaitu "Yang baru menghapus yang lama".
Satu hal
yang
perlu kita sadari bahwa gramatika ditulis berdasarkan generalisasi dari seluruh
kata yang secara alami telah dipakai oleh suatu komunitas. Dan setiap
generalisasi pasti menyisakan `kecuali'. Dalam bahasa Indonesia kalau saya
katakan 'mensucikan' tidak akan salah menurut "Kaidah Bahasa Indonesia", karena
ada dua kata yang jika terapkan dengan kaidah yang sama maka salah satu maknanya
hilang, yaitu: cuci dan suci. Padahal seharusnya huruf pertamanya diganti "ny".
Begitu juga bahasa Arab. Bahasa keseharian yang terekam dalam al-Qur'an sudah
berlaku sebelum gramatika ditulis. Maka generalisasi dalam pengambilan kaidah
bahasa yang datang kemudian akan menyisakan "pengecualian" yang kemudian
dikatakan oleh Dr.Robert Morey melanggar tata
bahasa.
Dr.
Robert Morey ingin membabat
habis semua kisah dalam al-Qur'an dengan tolak ukur kebenaran Bibel. Sementara
otoritas Injil sendiri menyatakan seperti berikut ini:
Dr.
Welter Lempp :
"Susunan semesta
alam yang diuralkan
dalam Kitab Kejadian I tidak dapat dibenarkan lap oleh ilmu pengetahuan modern"
(Tafslran Kejadian, hal. 58). "Pandangan kejadian I dan seluruh Injil tentang
susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu
sudah ketinggalan jaman ". 65
“Jadi benarlah
Daud itu pengarang Mazmur yang 73 jumlahnya?
Hal itu belum tentu. Sudah beberapa kali kita menjumpai gejala bahasa orang
Israel suka
menggolongkan karangan-karangan di bawah nama orang yang termasyhur... Oleh
karena Itu tentu tldak mustahil pengumpulan-pengumpulan mazmur-mazmur itu (atau
orang-orang yang hidup lebih kemudian) memakal nama Daud, karena raja itu
Termasyhur sebagai
pengarang mazmur-mazmur. Dengan lain perkataan, pemakaian nama Daud,
Musa, Salomo itu merupakan tradisi kuno, yang patut diperhatikan, tetapi tradisi
itu tidak menglkat" 66
Karena otoritas
Injil sendiri yang
mengatakan seperti di atas maka tentang kisah-kisah dalam al-Qur'an tidak perlu
dibandingkan dengan Bibel. Namun ada baiknya kita membahas sedikit tentang
kisah-kisah dalam al-Qur'an.
Penyikapan umat
Muslim terhadap
kisah-kisah dalam al-Qur'an sangat berbeda dengan tradisi Kristen yang lebih
memandang kisah Bibel sebagai kitab Sejarah. Umat muslim lebih memandang kisah
tersebut sebagai Ibrah dan cermin untuk kehidupan mereka. Al-Qur'an sendiri
selalu menyajikan kisahkisah dengan cara terpisah. Kisah yang sama kadang
diceritakan ulang dengan gaya bahasa dan penekanan
yang berbeda. Ketika
menceritakan dakwah nabi terdahulu misalnya, disajikan cerita beberapa nabi
secara bersamaa, dengan penekanan terhadap peran nabi tersebut. Tentang
penolakan kaumnya juga dikisahkan secara bersamaan tapi dengan penekanan pada
masalah kaum tersebut. Satu gaya penyampaian yang sangat berbeda dengan kitab
lainnya tapi dipahami oleh Dr. Robert
Morey sebagai
penyajian yang
linier.
Dalam penyajian
kisah seseorang al-Qur'an tidak menyebut nama secara pasti tapi hanya sebutan,
seperti Imratul aziz (istri
seorang terhormat-pejabat) untuk menyebut Zulaikha yang adalah istri dari seorang
terpandang (pejabat Mesir). Kata "aziz" di atas bukanlah nama asli tapi sebutan
seperti kita menyebut kata "terhormat" atau "tuan". Begitu juga Dzul Qornain (yang mempunyai dua tanduk)
adapun siapa sebenarnya al-Qur'an tidak menyebutkan. Nama-nama tokoh sering
disamarkan apalagi nama tokoh baik yang pernah melakukan kekhilafan seperti
Zulaikha yang pernah menggoda Nabi Yusuf. Tapi unmk tokoh penting yang menjadi
simbol dari kejahatan dan kebaikan, maka nama itu disebut dengan tegas, seperti
Fir'aun, Haman, dan Karun. Nama Fir'aun memang tidak menunjuk
satu personal karena
Fir'aun adalah sebutan raja-raja Mesir, tapi karena kebanyakan raja-raja mesir
kuno menuhankan dirinya maka sebutan umum itu disebutkan dengan tegas. Begitu
juga namanama nabi dan rasul yang menjadi simbol kebaikan.
Disini kita
memahami bahwa bukan nama dan tempat serta waktu dan tanggal juga tahun, tapi ibrah apa
yang bisa diambil dari kisah mereka, itulah yang lebih penting. Sebab kisah dan
sejarah tidak disajikan hanya sebagai bahan cerita. Penulisan kisah semacam
inilah yang mestinya dilakukan penulis sejarah ketika mencatat
peristiwa-peristiwa sejarah. Penulisan sejarah yang hanya ditujukan menyalahkan
seseorang atau suatu rezim akan menyulut kejadian yang sama. Maka sejarah kelam
sering terulang karena sejarah ditulis untuk balas dendam.
Hadits Nabi
yang menyatakan
"Al-Qur'an hanya bisa dipahami secara mendalam setelah memandang berbagai
seginya" (al-Hadits). Seperti
yang dikutip oleh Muhammad Arkoun dalam kajian ulum Qur'an-nya.
Jika ada
yang mengeluh kesusahan
memilah ayat untuk mencari membahas satu tema, saat ini sudah banyak sarana
mencarinya. Tapi melihat al-Qur'an dengan cara memilah-milah saja akan
menghilangkan banyak makna. Coba anda bayangkan jika seseorang hanya mengambil
ayat jihad saja. Atau sebaliknya ayat-ayat kasih sayang saja. Jika kita kembali
pada konsep tauhid dan konsep kemasyarakatan yang tertulis dalam ketiga kitab,
seperti yang disampaikan al-Qur'an. Satu konsep tauhid, dan dua konsep
kemasyarakatan. Dua konsep kemasyarakatan yang dijabarkan oleh masing-masing
rasul, yaitu kasih sayang dan keadilan. Konsep kasih sayang digambarkan dengan
mengasihi fakir miskin, yatim piatu, orang tertindas, musafir dll. Serta konsep
keadilan yang digambarkan dengan ‘Qisas', nyawa dengan nyawa, mata dengan mata,
hidung dengan hidung, gigi dengan gigi, luka ringan dengan luka ringan (mohon
tidak dicampur dengan pandangan praktisnya); bukankah konsep kedua ini
menggambarkan rasa keadilan yang paling mendasar, Kesalahan berat diganjar
berat, ringan diganjar ringan. Bukan berat diganjar ringan karena seorang
tokoh, dan ringan diganjar berat karena rakyat jelata.
Satu konsep
tauhid dan dua konsep kemasyarakatan untuk dua makhluq dari dua dimensi berbeda
-materi dan non-materiyaitu manusia dan jin. Semua itu disajikan oleh al-Qur'an
dalam satu kesatuan, dan bukan dipisah. Sebab jika dipahami terpisah pasti akan
ada yang ditinggalkan.
Jika dipisah maka keseimbangan akan goyah. Kita tidak bisa menyalahkan rakyat
palestina karena memang mereka sedang ditekan, secara mental dan fisik-telpon
saja tidak bisa keluar dari wilayahnya-. Justru salah kalau mereka hanya
menerapkan prinsip kasih sayang saja, sementara prinsip keadilan tidak
ditegakkan. Born bunuh diri yang mereka lakukan lebih merefleksikan kondisi
ketertindasan mereka dari pada sekedar ajaran-seperti yang sering dituduhkan
selama ini-. Dunia barat sudah kehilangan keseimbangan akal dan perasaannya
hingga tidak mampu melihat gajah dipelupuk matanya. Mereka menindas seenaknya
kemudian menimpakan kesalahan pada orang yang ditindas ?
Kembali pada
susunan al-Qur'an juga harus dilihat sama seperti melihat isinya. Ajaran
yang sangat membutuhkan
keseimbangan juga harus disampaikan dengan cara yang seimbang. Kita tidak bisa
melihatnya dengan kaca mata kita yang suka melihat sesuatu menurut kehendak
kita. Melihat susunan al-Qur'an secara parsial seakan kita memilah warna dari
sekian banyak susunan bangunan yang berwarna pelangi. Kita kadang menginginkan
yang merah saja, atau hijau saja tanpa memperhatikan bahwa kombinasi dari
semuanya adalah keindahan. Yang jika dipisah maka hanya ada hamparan menjemukan
seperti padang pasir dan
lautan. Bahkan lautan pun dihiasi pelangi dan hamparan
pasir dihiasi fatamorgana. Kita kadang harus memperhatikan para seniman dan
sastrawan yang lebih bisa melihat keindahan hidup tanpa batasan teori yang
kadang menghilangkan prinsip keseimbangan.
Novelis Inggris
E.M. Foster dalam
karyanya Aspects of the Novel mengejek upaya-upaya klasifikasi dalam
melihat perkembangan sastra seraya menyatakan hal itu sebagai upaya
pseudo-ilmiah (pseudo-scientific). Klasifikasi secara kronologis ataupun
kecendrungan -tematis.67 Cara pandang Foster tersebut mungkin layak untuk kita
terapkan dalam melihat susunan dan gaya bahasa al-Qur'an. Melihat
susunan al-Qur'an yang
dilandasi pemikiran parsial, tidak dapat menangkap sisi keindahan dari prinsip
keseimbangan.
Coba kita
telaah sekilas, Al-Qur'an yang dimulai dengan al-Fatihah dan di
akhiri dengan an-Nas. Jika Al-fatihah disebut sebagai ummul kitab, hal itu tidak
lah terlalu berlebihan, sebab disitulah inti ajaran tauhid. Setelah mengagungkan
nama Allah kemudian menyatakan bahwa hanya kepada-Nya-lah menyembah dan memohon.
Setelah itu memohon jalan orangorang yang telah selamat memegang konsep dasar
tauhid, jalan orang-orang yang mendapat ni'mat. Kemudian memohon agar terhindar
dari kesalahan mereka yang telah menentang dan menghapuskan konsep
itu.
Konsep tauhid
ini kemudian mewarnai semua surat. Dalam setiap pembahasan baik ibadah dan
kehidupan sosial selalu dikaitkan dengan Tauhid. Interaksi fertikal dan
horizontal yang
disimbolkan dengan "hamba" dan "khalifah" dalam dua dimensi kehidupan -materi
dan nonmateri-, selalu ada dalam setiap surat. Bukankah itu suatu keseimbangan
yang jika diubah maka keseimbangan itu akan hilang dan kehilangan ciri khasnya.
Meninggalkan satu dimensi saja seseorang sudah tidak seimbang, kemudian
mengatakan bahwa redaksi al-Qur'an melayanglayang. Dimensi non materi inilah
yang sering dilupakan masyarakat modern, yang padahal mereka seringkali
membuktikan keberadaannya, melalui kemajuan teknologi. Tidakkah kita melihat
dalam dimensi non-materi seseorang bisa melakukan kontak tanpa media materi,
kini hal itu dapat dinikmati orang banyak dengan adanya Handphone.
Setelah dua
tujuan dalam dua dimensi itu disajikan, kemudian dalam surat-surat terakhir
mu'awidzatain, konsep tauhid itu dinyatakan dengan sangat tegas lagi.
Allah hanya Satu dan
Allah lah tempat memohon -lihat makna ini dalam alfatihah-. Lantas ditutup
dengan permohonan agar keimanan diselamatkan dari gangguan makhluq
dari dimensi non-materi, dan makhluq dari dimensi materi. Gangguan dari dimensi
nonmateri mungkin tidak bisa diindera oleh manusia tapi bisa dirasakan, sedang
yang dari dimensi
materi/manusia kita bisa melihat dan mendengar (tayangan yang mencerminkan
hedonisme -misalnya), membaca (Buku Islamic Invasion - contohnya), bahkan
merasakan (gangguan fisik seperti yang dialami rakyat Palestina).
Secara Umum
tidakkah itu merupakan suatu susunan yang indah dan sangat baligh-menurut
istilah retorika Arab. Dimulai dari prinsip pokok yang singkat lalu dijabarkan
kemudian ditutup dengan penekanan pada prinsip pokok yang disampaikan. Sehingga
penekauannya lebih terlihat. Tidakkah kita melihat jika kita ingin menyampaikan
sesuatu nasehat kepada anak misalnya : "Nak belajar lah", kemudian kita
memberikan banyak alasan bahkan contoh dari orang-orang yang berhasil dan gagal,
kemudian terakhir kita menekankan, ‘Jadi ingat ya, BELAJAR". Bukankan itu cara
penyampaian yang tidak hanya bagus tapi tepat dan mendidik. Tidak otoriter, tapi
dengan alasan dan ada penekanan di akhir. Itulah gaya al-Qur'an semua disertai dengan
bukti, baik tertulis maupun contoh nyata kehidupan. Inilah gaya penulisan untuk
mengungkap misteri kehidupan dari manusia yang suka memandang sesuatu sesuai
yang diingini. Sehingga tidak bisa melihat sisi keseimbangan yang bahkan kita
lihat dalam kehidupan nyata. Suatu saat mungkin orang mulai menggunakan
cara-cara penulisan seperti yang dicontohkan al-Qur'an.
Coba kita
renungkan berapa buku yang bisa bertahan lebih dari dua
tiga kali baca secara lengkap? sebab ketika membaca yang kedua kita merasa sudah
tahu isi dan maksud seperti judulnya kemudian bosan. Tapi al-Qur'an, tiap hari
dibaca tanpa ada kejenuhan sedikitpun. Setiap kali dibaca kita menangkap satu
pengertian yang tidak kita tangkap sebelumnya. Dalam situasi kejiwaan yang
mandeg dan jumud kadang kita menangkap makna isyarat yang menjadi kata penentu
dari sikap yang harus diambil. Dalam menghadapi situasi yang rumit dan seakan
tak ada solusi kita menemukan kata kunci dari permasalahan yang dihadapi. Kita
bahkan merasakan seakan setiap ayat berdiri sendiri jalin jalin menjalin dengan
ayat lain, bahkan setiap kata kalau kita melihat rinci, masing-masing memiliki
perannya. Sangat berbeda dengan tulisan manusia yang kadang menggunakan kata
seenaknya, sehingga ada istilah kata sisipan yang kalau dihapus tidak
berpengaruh pada yang lain.
Gothe
menyatakan dalam Noten und Abhandlungen
:
"Gaya bahasa
al-Qur'an adalah, sesuai dengan isi dan tujuan-tujuannya, bersifat agung,
mengagumkan, dan dalam beberapa tempat benar-benar sublim"..68
AI-Qur'an Sumber
Petunjuk
Ketika
seseorang ingin membaca al-Qur'an, setelah membaca surah al-Fatihah yang perupakan pembuka al-Qur'an, ia
akan langsung mendapatkan tiga ayat pertama dari surat ke dua (Surat AI-Baqarah -
Sapi betina) ketiganya berada di awal surat al-Baqarah yaitu
:
Alif laatn
miim, Kitab itu (al-Qur'an) tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai
petunjuk bagi
orang-orang yang bertaqwa.
(al-Baqarah :1-2)
Setelah
meyakinkan pembacanya bahwa al-Qur'an tidak ada keraguan di dalamnya,
selanjutnya Allah
menyatakan bahwa al-Qur'an sebagai Hudlan yang berarti hidayah/petunjuk bagl
orang-orang yang bertaqwa. Di sini pembaca diingatkan bahwa al-Qur'an adalah
petunjuk dan hidayah, oleh sebab itu yang mestinya dilakukan oleh
pembaca/pengkaji al-Qur'an adalah istlhda' (minta/mencari
petunjuk/hidayah). Yang namanya mencari bisa dapat bisa tidak, juga meminta bisa
diberi bisa tidak. Kalau yang mencari saja belum tentu dapat dan yang meminta
belum tentu diberi bagaimana dengan yang membaca dengan niat menghujat ? Wow
sehebat apa manusia di hadapan penciptanya.
Setiap bacaan
pasti ada cara membacanya dan cara baca yang salah akan menghasilkan kesan
dan kesimpulan yang salah pula, kan tidak mungkin anda membaca buku
telpon seperti membaca cerita roman?. dan al-Qur'an kurang tepat
jika dibaca seperti layaknya bacaan-bacaan yang lain, apalagi jika Allah sendiri
telah menyatakan bahwa al-Qur'an merupakan petunjuk dan sumber
hidayah.
Sebagai
petunjuk dan mukjizat, sangat kecil artinya jika al-Qur'an hanya dianggap kitab
sejarah, walaupun di dalamnya memuat fakta-fakta sejarah. Akan terasa kering
jika al-Qur'an hanya dianggap kitab sastra, walaupun gaya bahasanya sangat
tinggi dan diakui oleh masyarakat Arab dan non-Arab. Al-Qur'an juga bukan
sekedar buku iptek, walaupun memuat isyarat-isyarat ilmu pengetahuan.
Al-Qur'an
adalah petunjuk Allah
Swt. bagi umat manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad Saw. Wahyu/
petunjuk Allah tersebut diturunkan secara bertahap -ayat demi ayat- seiring
perjalanan dakwah Rasulullah, diturunkan di Makkah selama 10 th dan di Madinah
10 th. Petunjuk Allah inilah yang membawa keberhasilan dakwah beliau sehingga
mampu merubah kehidupan bangsa Arab dalam waktu ±
23 th. Fungsi tersebut tetap berlanjut pada masa sepeninggal Rasulullah hingga
umat Muslim mampu menciptakan peradaban yang diakui oleh bangsa-bangsa lain.
Bahkan sampai saat ini fungsi tersebut tetap berlaku, terlepas apakah manusia
-umat Islam khususnya saat ini- menyadari peran dan fungsi petunjuk dari
AI-Qur'an tersebut atau tidak.
Penulis buku
Islamic Invasion sebenarnya memperhatikan hal ini,
hanya saja logika penyampaiannya dengan sengaja dibalik, yang semula "Nabi
menerima wahyu sebagai petunjuk dalam menghadapi permasalahan dakwah
yang
timbul" tapi
kemudian dibalik menjadi "ketika permasalahan pribadi timbul nabi menurunkan
wahyu sebagai jalan keluarnya", kelihatannya segala cara dipakai
Robert
Morey untuk
melampiaskan kebenciannya. Berikut ini kutipan salah satu dari tiga contoh yang
ditulis Robert M.:
3. Ketika banyak orang mengganggu
Muhammad di rumahnya, dia segera menerima wahyu yang sesupi yang menetapkan
peraturan mengenai kapan mereka boleh mengunjunginya dan kapan tidak boleh
mengganggunya
(Surat
33:53-58; 29: 62-63;
49:1-5).69
Ketiga contoh
yang dikemukakan adalah
masalah-masalah pribadi Nabi. Sedang kejadian lain tentang masalah yang lebih
utama yaitu masalah dakwah tidak berani dia ungkapkan, sebab akan bertolak
belakang dengan logika terbaliknya. Kisah sejarah dakwah Rasulullah yang kami
maksud adalah sebagai berikut :
Pada awal
dakwah Rasulullah di Makkah, Nabi mendapatkan permusuhan yang sangat keras, diantara mereka
yang paling memusuhi terdapat dua orang Quraisy yaitu : An Nadhr bin al-Harits
dan Uqbah bin Abi Mu'aith, keduanya diutus oleh kaum musyrik Quraisy untuk
mencari bahan guna merusak dan menghentikan dakwah Rasulullah, mereka berdua
diutus ke Madinah menemui pendeta Yahudi untuk menanyakan hal Ikhwal Nabi
Muhammad Saw.
Atas pertanyaan
dua orang itu para pendeta Yahudi menjawab "Tanyakan kepada Muhammad tiga soal
penting. Kalau ia dapat
menjelaskan berarti ia benar-benar seorang Nabi. Kalau ia tidak dapat
menjelaskan berarti ia hanya membuatbuat omong kosong dan kalian boleh berbuat
apa saja terhadap dirinya. Tanyakan kepadanya kisah tiga orang pemuda yang Pada
zaman dahulu melarikan diri dari istana kerajaan. Kisah mereka amat menakjubkan.
Tanyakan kepadanya mengenai seorang lelaki yang berkelana di muka bumi dari
timur hingga ke barat, bagaimana kisahnya! Tanyakan juga kepadanya soal roh,
kalau ia dapat menjawabnya maka ia adalah seorang Nabi begitu
sebaliknya".
Setelah
melaporkan kepada kaumnya, beberapa hari kemudian bersama-sama mereka menemui
Rasulullah untuk menanyakan ketiga pertanyaan seperti di atas. Rasulullah
menjawab : "Semuanya itu akan kujelaskan kepada kalian besok pagi". Beliau
menjanjikan jawaban itu tanpa mangucap "Insya Allah" (“Jika Allah menghendaki"). Atas
kelalaiannya itu Allah Swt. tidak menurunkan wahyu-Nya selama 15 hari (riwayat
lain mengatakan tiga hari). Selama itu beliau menanti-nanti turunnya wahyu
dengan cemas dan gelisah karena telah menjanjikan kepada kaun musyrik Quraisy
untuk memberikan jawaban "besok pagi".
Akibat
kelambatan turunnya wahyu itu ejekan dan cemoohan kaum musyrikin tambah
menjadi jadi. Kalau memang benar tuduhan Robert Morey, maka Rasulullah tidak
perlu menunggu sampai 15 hari, malam karang cerita besok pagi beres. Tapi yang
terjadi sebaliknya, wahyu yang diturunkan selain berupa jawaban juga berupa
teguran dari Allah [dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan atas sesuatu
sungguh aku akan melakukan itu besok pagl] (Qs. al-Kahfi:
24) itupun
setelah 15 hari. Jawaban untuk pertanyaan pertama -tentang kisah 3 orang pemuda-
adalah Surat Kahfi : 1- 6; jawaban pertanyaan kedua -tentang
seorang lelaki pengelana- adalah surat Kahfi : 83-88; dan jawaban pertanyaan ketiga
-tentang roh- adalah surat al-Isra: 85.
Jika untuk
masalah yang paling
besar yang menyangkut dakwah beliau tidak berani mengada-ada -padahal resiko
keterlambatan wahyu yang dialami beliau sangatlah berat- untuk apa beliau
mengarang wahyu untuk hal-hal yang sifatnya pribadi dan sepele. Mengarang cerita
jawaban saja tidak berani apalagi mengarang wahyu.
Petunjuk sangat
berhubungan dengan kesiapan penerima petunjuk, baik akal maupun mental, lebih dari itu, petunjuk
tidak lepas dari kehendak si pemberi petunjuk. Seseorang yang bersikap arogan dan apriori akan
sulit menerima suatu petunjuk bahkan mungkin sulit untuk
mencerna isinya. Sebaliknya seorang yang berlapang dada akan lebih cermat
memahami isi petunjuk dan bahkan bisa menerimanya.
Apalagi untuk
memahami petunjuk dari yang mencipta kehidupan, tidak hanya
kesiapan mental tapi juga kesiapan akal (daya nalar dan bekal keilmuan). Namun
demikian kesiapan mental adalah yang paling mendasar, sebab -tanpa niat
baiksetinggi apapun ilmu dan IQ seseorang tidak akan mampu memahami apalagi
menyerap pesan al-Qur'an. Kesiapan mental inilah yang menjadi password untuk
dapat mengakses al-Qur'an, tanpanya jangan harap bisa masuk sebab akan ada
"dinding penghalang" seperti yang termaktub dalam surat Al-Isra' 17: 45-46 yang kami terjemahkan
seperti berikut:
"Dan apabila
kamu membaca AI-Qu'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak
beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, Dan Kami adakan
tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak
dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut nama Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an
niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya" (al-Isra' 17: 45-46).
Untuk dapat
mengakses al-Qur'an tentu saja dengan sikap mental yang baik (niat baik)
setidaknya sikap jujur dan objektif. Jika sudah masuk maka ia akan dihadapkan
pada sekian banyak ajaran yang mengacu pada tema sentral yaitu Tauhid. Mereka
akan lebih mudah mencerna dan menerima petunjuk tersebut. Berikut ini adalah
contoh pengalaman beberapa dari mereka.
Maryam Jamilah
(Amerika) yang lahir dan
dibesarkan di keluarga Yahudi reformis, menceritakan pengalamannya sebagai
berikut :
"Suatu kali
ayah saya berkata bahwa tidak ada nilai yang bersifat tetap di dunia ini.
Karena itu, kita harus mengubah diri kita sesuai dengan situasi yang terus
berubah. Namun, saya tidak pernah menerima pernyataan ini. Dahaga saya terhadap
Kebenaran semakin meningkat. Dengan kasih-sayang Allah saya menemukan tujuan
berharga saya setelah mengkaji Al-Quran. Saya menjadi yakin bahwa apa yang
dilakukan untuk mencoba mencari Karunia Allah tidak pernah sia-sia; apabila
imbalannya tidak diperoleh di dunia ini, maka ganjarannya di Hari Kemudian
adalah suatu keharusan ".70
Dr. Murod
Hofman, duta besar Jerman di Maroko. Perkenalannya dengan Islam bermula saat
berada di Al-Jazair tgl. 28 Mei 1962, saat melihat kegigihan dan semangat
pejuang al-Jazair dalam melawan penjajah.
la tidak dapat memahami
dari mana datangnya dukungan yang tersembunyi ini, sampai ia dapatkan jawabannya
dalam Al-Qur'an. 18 tahun kemudian, tepatnya tanggal 25 September 1980 beliau
masuk Islam.
Kenyataan
seperti ini seringkali terjadi, beberapa diantaranya terjadi atas Maurice
Buchael yang dikritik
oleh penulis buku "Islamic Invasion", Roger Garaudy yang mendapat tekanan dari
Zionis, Muhammad Asad (Leopold Wais), dan banyak tokoh lain yang tidak mungkin
kami sebut satu persatu. Bahkan penulis (Irena) sendiri sangat bersyukur,
mendapatkan jawaban tentang masalah ketuhanan dari alQur'an, bahkan ketika
masih menjadi biarawati. Petunjuk inilah yang mengantarkan penulis masuk
Islam.
Al-Qur'an
adalah kebenaran, sesuatu yang haq/benar tidak perlu
diperdebatkan, sebab seseorang yang ingin mendebat kebenaran dapat dipastikan
menghendaki kebenaran tersebut agar berkurang atau hilang; sama halnya seseorang
yang ingin mendebat sesuatu yang haram, bisa dipastikan ingin agar menjadi
halal, minimal setengahnya.71 Toh al-Qur'an tidak pernah
memaksa seseorang, [Dan katakanlah:"Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka
barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir) biarlah ia kafir".] (QS. Al-Kahfi: 29), jika ingin mengambil petunjuk dari
al-Qur'an silahkan. Jika tidak juga silahkan, tapi Segala akibat ditanggung
sendiri lho.
Sebagai
petunjuk bagi umat manusia, maka al-Qur'an berbicara kepada manusia secara
total, mencakup dimensi
materi dan non-materi, berikut peran mereka sebagai hamba sekaligus kholifah. Itulah sebabnya Al-Qur'an
berbicara kepada manusia melalui hati dan akalnya. Materi yang dibicarakan juga mencakup
seluruh aspek kehidupan, maka dalam penyajiannya juga tidak lepas dari ciri
totalitas. Dimensi mated dan non-materi tidak disampaikan secara terpisah.
Posisi manusia sebagai hamba dan khalifah juga disampaikan dalam satu kesatuan.
Totalitas inilah yang sering disalah-artikan orang sebagai hal yang "campur
aduk".
Totalitas
interaksi nalar menghendaki pemahaman al-Qur'an secara utuh dari segala segi.
Tidak bisa diambil sebagian untuk kemudian dilupakan bagian yang lainnya. Bukankah al-Qur'an
sendiri melarang tindakan separo-separo semacam itu. Pengalaman umat terdahulu
adalah ibrah bagi kita, seperti ayat berikut ini -yang artinya-
[Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh
dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung
halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan
permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus
mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman
kepada sebagian dari AI-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?
Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan
dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa
yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu
perbuat.]
(QS aI-Baqarah : 85).
Tokoh kajian
Islam kontemporer
Muhammad Arkoun dalam telaahnya terhadap al-Qur'an mengutip hadits Rasulullah
-sebagai pijakan kajiannya- yang artinya : "Al-Qur'an hanya bisa dipahami secara
mendalam setelah memandang berbagai seginya" (al-Hadits).
Totalitas
interaksi kalbu, menghendaki keimanan dan kesadaran seperti yang diisyaratkan pada kelanjutan
dari ayat-ayat pertama surat al-Baqarah yang telah kita bahas sebelumnya.
arti ayat tersebut adalah
[(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan
kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin
akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari
Tuhan-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung.]
(al-Baqarah : 3-S).
Tentang
bagaimana tata caranya, filosof dan penyair kenamaan Muhammad Iqbal menceritakan
pengalaman interaksinya dengan al-Qur'an sebagai berikut :
I used to read the holy Qur'an every
morning. My father saw me reading and often heard my recitation. It gave him
immense pleasure. He came to me once and said how he would like to tell me two
things when the occasion arose.
I had waited long for the fulfillment
of my father's promise. When one day, after I had passed my B.A., he came to me.
I was then reciting the holy Qur'an as usual after my morning prayers. He
reminded me of his promise, but wished to be assured that I would carry out his
instructions to the best of my ability. On my promising to do so, he wanted me
to try and feel while reciting the Holy Qur'an that the almighty God was talking
to me, and secondly to try and carry his message to the humanity.72
Saya selalu
membaca al-Qur'an setiap pagi. Ayah melihatku membaca dan seringkali
mendengarkan bacaan saya. Hal itu memberikan kepuasan yang berarti baginya. Suatu saat
beliau datang kepadaku seraya mengatakan bahwa ia ingin sekali memberitahuku dua
hal jika saatnya tiba.
Saya
lama menunggu pemenuhan
janji Ayahku. Hingga suatu hari, setelah saya menyelesaikan B.A., Beliau datang
kepadaku, saat itu
saya sedang membaca al-Qur'an sebagaimana biasa setelah shalat shubuh. Beliau
mengingatkan saya akan janjinya. Tapi beliau hendak memastikan dulu bahwa saya
akan memegang nasehatnya sebaik yang saya mampu. Dengan janji saya untuk
melakukannya, beliau memintaku untuk berusaha merasakan bahwa saat membaca
al-Qur'an Tuhan yang Mahakuasa sedang berbicara kepada saya, dan yang kedua agar
berusaha membawa pesanNya kepada umat manusia.
Penulis biografi
M. Iqbal, prof. Masud-ul-Hasan, mengomentari penuturan Iqbal di atas sebagai
berikut : Bahwa implikasi dari nasehat tersebut, al-Qur'an hendaknya tidak
dibaca dengan cara yang biasa; ia harus dianggap seperti dialog antara Tuhan dan
manusia. Kedua, pesan dari al-Qur'an tersebut harusnya tidak hanya untuk
memuaskan diri sendiri; tapi harus disampaikan kepada masyarakat dengan cara
yang cocok.73
Muhammad Iqbal
sangat bersungguh-sungguh memegang nasehat sang ayah sepanjang hidupnya. Dan
nasehat inilah yang membuatnya menjadi seorang Muhammad Iqbal seperti yang kita
kenal. Maka tidaklah mengherankan jika dia sampai mengatakan : "None knows the
secret that momin. Though he looks to be the reader, is really the Qur'an"74.
Imam Al-Qhazali
mengajarkan password untuk sebuah akses yang maksimal, namun seberapa jauh
seseorang dapat melakukannya tergantung masing-masing individu. Password
tersebut adalah sikap yang oleh Imam al-Ghozali dibagi dalam tiga tingkatan
interaksi sebagaimana berikut :
Tingkatan
terendah
:
Seorang pembaca
dalam posisi seakan membaca al-Qur'an di hadapan Allah, melihat dan
mendengarkan dari pada-Nya.Maka kondisinya dalam tingkatan ini seperti seorang
yang sedang bertanya, meminta dan memohon.
Tingkatan
menengah
:
Menyaksikan dengan
hatinya seakan Allah melihat dan
berbicara kepadanya dengan segala kelembutan, serta memberikan kepadanya segala
kenikmatan dan kebaikan. Maka posisinya adalah: malu, mengagungkan,
mendengarkan, dan memahami.
Tingkatan
tertinggi
:
Kondisi dimana
seseorang mampu melihat Pembicara dalam dialog tersebut,
ia juga mampu melihat sifat-sifat didalam kalimatNya. Maka ia tidak melihat
kepada dirinya sendiri maupun bacaannya, atau kepada segala macam keni'matan
yang diberikan kepada. la menjadi
tidak menginginkan apaapa dari sang Pembicara, segenap pikirannya tertuju
kepadaNya, seakan hanyut dalam menyaksikan Pembicara tanpa ada yang lainnya.
Inilah derajat para muqorrobin, dan yang sebelumnya adalah derajat ashabul
yamin, sedang yang diluar ini adalah orang-orang yang lalai.75
Sikap seperti
inilah yang seharusnya
dilakukan oleh seorang Muslim dalam membaca firman-firman Allah Swt. terlepas
dari hujatan dan cemoohan umat lain yang memang sejak dulu sudah sering mereka
lakukan. Sebab yang paling ditakutkan oleh mereka adalah jika umat Muslim
benar-benar memahami dan menjalankan petunjuk Allah yang ada dalam al-Qur'an.
Coba anda bayangkan kalau umat Muslim mau perpegang pada ajaran al-Qur'an
tentang persaudaraan sesama mu'min, mungkin penindasan terhadap umat Muslim
tidak akan terjadi, minimal bisa terkurangi.
Kekuatan ayat-ayat
al-Qur'an dalam memberikan petunjuk dan bimbingan telah dibuktikan oleli
Rasulullah Saw. dengan
keberhasilan dakwah beliau dalam tempo 23 tahun, Hal Yang sama telah dibuktikan
oleh para sahabat dan penerusnya hingga mampu menciptakan suatu peradaban yang
telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia, termasuk
didalamnya kemajuan Eropa. Hal ini secara ddak langsung telah membuktikan bahwa
al-Qur'an adalah suatu mukjizat yang paling besar dan bisa dirasakan tidak hanya
oleh Sang Nabi tapi juga oleh pengikutnya, bahkan oleh siapapun yang ingin
merasakan kehebatannya. Pantas saja jika al-Qur'an menantang manusia untuk
membuat satu atau sepuluh surat semisalnya,
tanpa bantuan Allah.
Sejarah telah
membuktikan kebenaran al-Qur'an sebagai petunjuk, lantas bagaimana dengan
ayat-ayat buatan manusia yang katanya
nongkrong di situs Internet menunggu Juri?, apa sumbangsih yang telah diberikan
bagi umat manusia? hujatan ataukah provokasi ? yang pasti salah satu dari
keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar