Kehidupan
Kesukuan
Kebanyakan
penduduk Arab pada saat
itu merupakan angota suku yang hidupnya mengembara, meskipun ada juga suku-suku
yang hidupnya menetap di satu tempat atau kota kecil, seperti Makkah. Mereka
menjalani kehidupan dengan mengandalkan unta dan ternak yang lainnya. Karena itu,
kehidupan suku-suku ini ditentukan oleh kondisi geografis. Di banyak daerah
hujan sangat jarang terjadi. Setelah musim penghujan di beberapa daerah akan
muncul tumbuhan selama beberapa minggu dan ke daerah itulah suku-suku pengembara
bergerak, tetapi ketika tumbuhan sudah kering mereka harus ke areal di mana
terdapat sumur dan tampungan air. Setiap suku membutuhkan daerah yang lebih luas
daripada yang bisa mereka pergunakan dalam satu waktu. Oleh karenanya, terdapat
suatu pemahaman tentang adanya hak sebuah suku terhadap satu padang rumput, dan sebuah suku yang kuat akan tetap
mempertahankan haknya dengan kekuasaan. Ketika sebuah suku sudah terlalu lemah
untuk mempertahankan haknya, suku tersebut dapat menarik suku lain yang kuat untuk mendukung dan
melindungi, hubungan ini merupakan sesuatu yang lazim.
Selama
berabad-abad, suku Badui di kawasan Hijaz dan Nejed telah hidup dalam persaingan
tajam satu sama lain
demi memperebutkan kebutuhan-kebutuhan pokok. Untuk membantu masyarakat
menanamkan semangat komunal yang esensial bagi pertahanan hidup, orang Arab
telah mengembangkan sebuah ideologi yang disebut Muru'ah, suatu konsep etik yang
banyak mengandung fungsi agama. Dalam pengertian konvensional, orang Arab hanya
memiliki sedikit waktu bagi agama. Mereka mempunyai sekumpulan dewa-dewa pagan
dan beribadat di tempat-tempat suci ini bagi kehidupan ruhani. Mereka tak
memiliki pandangan tentang kehidupan sesudah mati, tetapi percaya bahwa dahr,
yang dapat diterjemahkan sebagai "waktu" dan "nasib", sangatlah penting -sebuah
sikap yang barangkali esensial dalam masyarakat yang angka kematiannya begitu
tinggi.
Muru'ah sering
diterjemahkan sebagai "kejantanan", namun kata itu memiliki cakupan pengertian
yang jauh lebih luas:
Muru'ah bisa berarti keberanian dalam peperangan, kesabaran dan ketabahan dalam
penderitaan, dan kesetiaan mutlak kepada suku.11
Nilai-nilai muru'ah menuntut seorang Arab untuk mematuhi sayyid atau pemimpinnya
setiap saat, tanpa peduli keselamatan dirinya sendiri: dia harus mendedikasikan
diri kepada tugas-tugas mulia melawan semua kejahatan yang dilakukan terhadap
suku dan melindungi anggota-anggotanya yang lemah. Untuk menjamin kelangsungan
hidup suku, sayyid membagi kekayaan dan harta miliknya dan membalas kematian
satu anggotanya dengan membunuh satu anggota suku si pelaku pembunuhan. Balas
dendam atau utang nyawa balas nyawa merupakan satu-satunya cara untuk menjamin
sedikit keamanan sosial di wilayah yang tak mengenal kekuasaan sentral ini, di
mana setiap kelompok suku merupakan hukum bagi dirinya sendiri dan tak terdapat
sesuatu yang bisa dipersamakan dengan angkatan kepolisian zaman sekarang. Jika
seorang pemimpin suku gagal membalas dendam, sukunya akan kehilangan martabat
sehingga suku-suku lain akan merasa bebas untuk membunuh anggota sukunya tanpa
dihukum. Hukum balas, dengan demikian telah menjadi bentuk keadilan yang lazim.
Ini berarti bahwa tak ada satu suku pun yang dengan gampang dapat memperoleh
yang derajat lebih tinggi daripada yang lain. Ini juga berarti bahwa berbagai
suku dapat dengan mudah terlibat dalam lingkaran kekerasan tanpa akhir, di mana
satu penuntutan balas akan menimbulkan pembalasan yang lain jika orang-orang
merasa bahwa balas dendam itu dilakukan secara tidak proporsional terhadap
kesalahan asalnya.
Meskipun tak
diragukan lagi kebrutalannya, muru'ah tetap memiliki banyak kelebihan. Muru'ah
sangat menekankan egalitarianisme dan ketidakpedulian pada materi, yang,
lagi-lagi, barangkali
esensial dalam wilayah yang tidak memiliki persediaan
kebutuhan pokok dalam jumlah yang memadai: kedermawanan merupakan kebajikan yang
penting dan mengajarkan orang-orang Arab untuk tidak mengkhawatirkan hari esok.
Sifat-sifat ini, sebagaimana akan kita saksikan, penting maknanya bagi Islam.
Muru'ah telah berdampak baik bagi orangorang Arab selama berabad-abad, namun
sejak abad keenam konsep itu tak lagi mampu menjawab kondisi modernitas. Selama
fase terakhir periode Pra Islam, yang oleh kaum Muslim disebut periode jahiliyah
(masa kebodohan), ketidak puasan dan kekosongan spiritual telah menyebar luas.
Orang Arab dikepung dari semua sisi modern mulai menembus masuk ke Arab dari
wilayah-wilayah yang berpenghuni; para saudagar yang bepergian ke Suriah atau
Irak membawa pulang kisah-kisah mengagumkan tentang kehebatan
peradaban.
Namun,
tampaknya mereka ditakdirkan untuk terus hidup dalam barbarisme. Peperangan
antar suku yang tak
hentihentinya terjadi membuat mereka tak mampu mengumpulkan sumber daya mereka
yang hanya sedikit itu dan menjadi orang Arab bersatu. Merek adapat menentukan
nasib sendiri dan mendirikan sebuah peradaban sendiri. Sebaliknya mereka justru
Senantiasa terbuka untuk dieklploitasi oleh kekuatan-kekuatan besar: buktinya,
wilayah yang lebih subur dan canggih di Arab Selatan yang kini dekenal sebagai Yaman (yang
memiliki keuntungan dari hujan muson) telah menjadi sekadar satu provinsi dalam
wilayah kekuasaan Persia. Pada saat yang sama, ide-ide baru yang menembus
kawasan itu memperkenalkan individualisme yang meruntuhkan etos komunal
lama.
Jazirah
Arab selatan, Arabia
Felix kuno, dikenal karena kekayaannya, namun ketika Rasulullah saw lahir (570)
masa kegemilangannya tidak ada. Politeisme kuno secara luar digantikan oleh
pengaruh-pengaruh agama Yahudi dan Kristen. Di Arab Tengah, agama yang lebih
"primitif" masih tetap eksis, disertai dengan kebiasaan membanggakan kekuatan
suku yang hebat. Gua-gua dan batu dianggap suci dan memiliki kekuatan yang
diberkati, barakah. Hal ini adalah kebiasaan bangsa Semit. Sebuah pusat
peribadatan batu adalah Mekkah, tempat Hajar Aswad (batu hitam) di sebelah
tenggara Ka'bah yang merupakan tujuan tahunan dari Haji tahunan. Hubungan dagang
dan pasarpasar didirikan selama empat bulan suci, saat itu perang dan
pembunuhan dilarang, serta anggota seluruh suku dan keturunan bangsa Arab
melakukan perjalanan ke tempat suci. Bangsa Arab disituasikan dalam wilayah
pengaruh Byzantium dan Persia, keduanya merupakan rekan dagang masyarakat Mekkah
dan ini memfasilitasi kontak seluruh koloni Kristen mungkin tidak ditemukan
dalam hati orang Arab. Demikian pula, terdapat wilayah Yahudi dekat Madinah,
bahkan Raja Sheba
berpindah ke agama Yahudi pada sekitar tahun 500.
Orang Yahudi
dan Kristen, mitra
dagang yang sering berhubungan dengan orang-orang Arab, acap mencela mereka
sebagai orang-orang barbar yang tidak memperoleh wahyu dari Tuhan. Orang Arab
merasakan campuran rasa benci dan hormat kepada orang-orang yang memiliki
pengetahuan yang tak mereka punyai ini. Yudaisme dan Kristen tidak mendapat
banyak kemajuan di kawasan itu, meskipun orang Arab mengakui bahwa bentuk agama
yang progresif ini sebenarnya lebih unggul daripada paganisme tradisional
mereka. Ada beberapa
suku Yahudi yang tidak
jelas asal-usulnya di pemukiman Yatsrib (kernudian menjadi Madinah) dan Fadak,
hingga ke utara Makkah, serta beberapa suku utara di perbatasan antara imperium
Persia dan Byzantium yang telah beralih menganut aliran Monofisit atau Kristen
Nestorian. Akan tetapi, orang Badui sangat independen, mereka bertekad untuk
tidak jatuh ke bawah salah satu kekuatan adidaya seperti saudara-saudara mereka
di Yaman dan sangat menyadari bahwa baik orang Persia maupun Byzantium telah
menggunakan agama Yahudi dan Kristen untuk mengembangkan pola-pola imperial
mereka di kawasan itu. Mereka barangkali juga menyadari bahwa baik orang Persia
maupun Byzantium telah menggunakan agama Yahudi dan
Kristen untuk mengembangkan pola-pola imperial mereka di kawasan itu. Mereka
barangkali juga menyadari secara naluri bahwa mereka telah mengalami dislokasi
cultural yang cukup parah, seiring erosi tradisi-tradisi mereka sendiri. Mereka
sama sekali tak merasa menginginkan sebuah ideologi baru, apalagi yang terungkap
dalam bahasa dari tradisi asing.
Oleh karena
itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, sehingga
pengaruh demikian ini pun sampai kepada tetangga-tetangga
mereka yang beragama Kristen di Najran dan agama Yahudi di Yathrib, yang pada
mulanya memberikan kelonggaran kepada mereka, kemudian turut menerimanya.
Hubungan mereka dengan orang Arab yang menyembah berhala untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan itu baik-baik saja.
Cara-cara
penyembahan berhala orang-orang Arab dahulu banyak sekali macamnya.
Setiap kabilah atau suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan.
Sesembahansesembahan zaman jahiliah ini pun berbeda-beda pula antara sebutan
shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub. Shanam
ialah dalam bentuk
manusia dibuat dari logam atau kayu. Wathan demikian juga dibuat dari
batu, sedang nushub. adalah batu karang tanpa
suatu bentuk tertentu. Beberapa
kabilah melakukan cara-cara ibadahnya
sendiri-sendiri.
Ada tiga
sesembahan Arab kuno
yang secara khusus disenangi oleh orang-orang Arab Hijaz, yaitu Al-Lat (yang
secara sederhana berarti "Dewi") dan Al-Uzza (Yang Perkasa), masing. masing
memiliki kuil suci di Thaif dan Nakhlah, sebelah tenggara Makkah, dan Manat
(Sang Penentu), yang kuil sucinya bertempat di Qudaid, di pesisir Laut Merah.
Mereka sering disebut banat Allah, yang arti harfiahnya Anak
Perempuan Allah, tetapi tidak merupakan sesembahan yang telah berkembang
sepenuhnya, Orang Arab menggunakan istilah kekeluargaan seperti itu untuk
menyatakan suatu hubungan yang abstrak: dengan demikian, banatal-dahr (harfiahnya
"putri-putri nasib") sekedar bermakna ketidak beruntungan atau pasang surut
kehidupan. Istilah banat Allah
mungkin sekedar merujuk kepada "wujud-wujud suci", Sesembahan ini tidak
diwakili oleh patung yang realistic di dalam kuil-kuil, tetapi oleh batu-batu
besar yang berdiri tegak, seperti yang terdapat di kalangan orang Kanaan kuno.
Batu itu tidak disembah oleh orang-orang Arab secara langsung, tetapi hanya
menjadi sebuah focus keilahian. Seperti Makkah dengan Ka'bahnya, kuil-kuil di
Thaif, Nakhlah, dan Qudaid telah menjadi lambing spiritual yang penting di dalam
hati orang-orang Arab.
Mereka
beranggapan batu karang itu berasal dari langit meskipun agaknya itu adalah batu
kawah atau yang serupa
itu. Tidak cukup dengan berhala-berhala besar itu saja buat orangorang Arab
guna menyampaikan penyembahan mereka dan memberikan korban-korban, tetapi
kebanyakan mereka itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam
rumah masing-masing. Mereka mengelilingi patungnya itu ketika akan keluar atau
sesudah kembali pulang, dan dibawanya pula dalam perjalan bila patung itu
mengizinkan ia bepergian. Namun ketika mereka menyembah patung-patung berhala
itu, maka tidaklah serta merta dikatakan bahwa mereka tidak meyakini adanya
tuhan, semua patung itu, baik yang ada dalam Ka'bah atau yang ada
disekelilingnya, begitu juga yang ada di semua penjuru negeri Arab atau
kabilah-kabilah dianggap sebagal perantara antara penganutnya dengan Allah.
Sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Quran surat Az Zumar : 3: "Tidaklah kaml menyembah mereka
melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah."
Kepercayaan
mereka tidak sebatas pada pengakuan adanya Tuhan saja. Orang Arab juga percaya bahwa Allah adalah
Tuhan yang menciptakan alam semesta. Hal ini juga tergambar dari pemberitaan Allah dalam Al-Quran surah Luqman
ayat 25: "Jika engkau tanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit
dan bumi, niscaya mereka menjawab: Allah". Tetapi menurut pandangan Islam
kondisi seperti ini mereka masih dikatakan kafir dan musyrik. Sebab, mereka
tidak menuhankan Allah SWT dalam ubudiah. Mereka tidak tunduk kepada aturan yang
ditetapkan oleh Allah. Mereka membuat cara, ajaran, dan nilai sendiri dalam
mendekatkan dirinya kepada Allah dengan cara membuat tuhan-tuhan dari kayu dan
batu untuk menjadi perantara mereka dengan Allah. Mereka lebih patuh kepada
peraturan yang mereka buat sendiri untuk menggantikan hukum yang telah
diturunkan Allah. Tauhid inilah (tauhid uluhiyyah) Yang membedakan antara
seorang Islam dan orang yang kafir / musyrik.
Setelah ekonomi
pasar mulai terbangun, pandangan orang Arab mulai berubah. Banyak yang masih
puas dengan aliran kuno memuja berhala, tetapi berkembang kecenderungan untuk
menyembah satu Tuhan ; dan kekhawatiran makin meningkat terhadap ketidakadilan
peradaban baru yang berkembang di Mekkah. Sebagian orang Arab mulai mencari
kebenaran, yang tidak puas dengan agama dominan bangsa Arab, yang berada dalam
wilayah keyakinan yang lebih tinggi. Orang-orang ini disebut hanif, dan
tampaknya percaya pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Ini adalah upaya untuk menemukan
bentuk monoteisme Yang lebih netral dan tidak ternoda kaitan imperialistik.
Sejarahwan Kristen Palestina, Sozomenos, mengemukakan kepada kita bahwa pada
awal abad kelima beberapa orang Arab di Suriah telah menemukan kembali apa yang
mereka sebut agama asli
Ibrahim, yang berkembang
sebelum Tuhan menurunkan Taurat atau Injil dan, dengan demikian, bukan Yahudi
atau Kristen. Tidak lama sebelum Rasulullah menerima panggilan kenabiannya
sendiri, penulis biografinya yang pertama, Muhammad ibn Ishaq (w. 767),
menjelaskan kepada kita bahwa empat orang tokoh Quraisy Makkah memutuskan untuk
mencari hanifiyyah, agama asli Ibrahim. Sebagian
sarjana Barat telah menyatakan bahwa sekte hanifiyyah yang kecil ini adalah sebuah
fiksi agama yang menyimbolkan kegelisahan spiritual zaman jahiliah, tetapi pasti
memiliki dasar pijakan yang faktual. Tiga di antara keempat hanif itu cukup
dikenal oleh generasi pertama muslim: Ubaidillah ibn Jahsy, keponakan
Rasulullah; Waraqah bin Naufal, yang akhirnya beragama Kristen; dan Zaid ibn
Amr, paman Umar bin Khattab, salah seorang sahabat dekat Rasulullah dan khalifah
kedua dalam pemerintahan Islam. ada sebuah kisah bahwa pada suatu hari, sebelum
meninggalkan Makkah menuju Suriah dan Irak untuk mencari agama Ibrahim, Zaid
berdiri di sisi Ka'bah, bersandar ke bangunan suci itu clan berkata kepada orang
Quraisy yang sedang melakukan ritus mengelilinginya dalam cara yang sudah
dilakukan sejak lama: "Wahai Quraisy, demi yang jiwa Zaid berada di tangannya,
tak ada seorangpun dari kalian yang mengikuti agama Ibrahim kecuali aku."
Kemudian dengan sedih dia menambahkan, "Ya Tuhan, andaikan aku tahu bagaimana
engkau ingin disembah, niscaya aku akan menyembahmu dengan cara itu; namun aku
tidak tahu."12
Kerinduan Zaid
terhadap wahyu ilahi akhirnya terpenuhi di Gua Hira pada tahun 610 di malam ketujuh belas bulan
Ramadhan, dengan kenabian Muhammad.
MISI SANG NABI
Semua agama
yang diturunkan Allah
SWT ke muka bumi (agama samawi) menempatkan tauhid ditempat yang pertama. Karena
itu setiap Rasul yang diutus Allah SWT mengemban tugas untuk menanamkan tauhid
ke dalam jiwa umatnya, mengajak mereka supaya beriman kepada Allah, menyembah
mengabdi, dan berbakti kepada-Nya ; melarang mereka menyekutukan Allah dalam
bentuk apapun, baik zat, sifat maupun af'al
-Nya.
Misi risalah
semacam ini pulalah yang
diemban oleh Nabi Muhammad SAW karena itu, tema sentral setiap dakwah dan
seruannya adalah tauhid. Bahkan, pada awal masa kerasulannya, selama di Mekkah,
beliau memfokuskan perhatian kepada pembinaan tauhid ini sehingga semua
aktivitas tablighnya diarahkan kesana.
Agama Muhammad
dikenal dengan nama Islam, kepasrahan eksistensial yang
diharapkan untuk diberikan setiap Muslim kepada Allah: seorang muslim adalah
seseorang yang menyerahkan segenap dirinya kepada Sang Pencipta. Di sini
Dr.
Robert Morey kurang
begitu memahami sejarah dan bahasa Arab dengan mengatakan : "Kata islam adalah
kata Arab yang aslinya merujuk kepada sifat kejantanan dan mendiskripsikan
seorang yang gagah berani dan jantan dalam pertempuran.13
Yang dimaksud oleh Dr. Morey dengan kejantanan adalah sifat
"Muru'ah", sebagaimana telah kita bahas diatas.
Dr. Morey
mengatakan bahwa "Pandangan-pandangan dan ritus-ritus keagamaan yang ditemukan
dalam Islam dan Al-Quran, dapat ditelusuri kembali kepada pengaruh dari
kehidupan keagamaan, adat istiadat, dan budaya jaman praIslam." Pernyataan ini
sama sekali tidak didasarkan sejarah. Apa tidak pernah menela'ah buku sejarah
Islam dimana kaum Quraisy terkejut ketika melihat umat Muslim generasi pertama
melakukan shalat: mereka tidak bisa menerima bahwa anggota suku Quraisy yang
selama berabad-abad telah membanggakan independensi Badui harus tersungkur
bersujud di atas tanah seperti seorang budak. Hal ini mengakibatkan kaum Muslim
harus menarik diri ke lembah-lembah kecil tersembunyi di sekitar kota untuk melaksanakan shalat secara
rahasia. Reaksi kaum Quraisy memperlihatkan bila Islam menentang segala penyembahan
kepada berhala, batu, bulan, dan benda-benda yang lain dari agama
pagan.
Ayat-ayat
al Quran yang turun pada
periode Mekkah banyak yang berisi masalah-masalah ketauhidan. Sebagaimana firman
Allah dalam surat
an-Najm : 18-23.
'Adakah kamu perhatfkan Lat dan
'Uzza. Dan Martat yang
ketiga, yang terakhir. Adakah untuk kamu itu yang laki-laki dan untuk Dia yang
perempuan ? kalau begitu ini adalah pembagian yang tak seimbang Itu tidak lain
hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang kamu buat sendiri. Allah tidak
mernberikan suatu keteranganpun untuk nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
sangkaan-sarrgkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan
rnereka."
Ini adalah
ayat-ayat yang paling
radikal di antara semua ayat Al Quran yang mencela dewa-dewa pagan leluhur kaum
Quraisy. Setelah ayat ini, Rasulullah menjadi seorang monoteis yang keras, dan
syirk (secara harfiah berarti menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain)
menjadi dosa paling besar dalam pandangan Islam.
Kepercayaan
kepada satu Tuhan yang
dikenalkan oleh Rasulullah menuntut perubahan kesadaran yang menyakitkan. Sepem
halnya orang-orang Kristen awal, kaum Muslim generasi
pertama dituduh
sebagai penganut "ateisme" yang membahayakan masyarakat. Di
Makkah, di mana peradaban kota masih baru dan tentunya tampak sebagai
keberhasilan yang rentan bagi kaum Quraisy yang amat bangga akan kecukupan
dirinya, banyak yang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang sama seperti
dirasakan penduduk Roma yang pada awalnya menolak Kristen. Kaum Quraisy
tampaknya merasa keterputusan dengan dewa-dewa leluhur mereka sebagai ancaman
besar, dan tak lama kemudian nyawa Rasulullah sendiri pun terancam.
Pada tahun
622 komunitas muslim
yang mengalami penganiayaan, hanya memiliki satu alternatif yaitu meninggalkan
kota Makkah. Dengan
permintaan beberapa muallaf dari Yastrib mereka pindah ke kota itu, tempat
yang kemudian
mempertemukan mereka untuk bergabung dengan Nabi. Hijrah inilah yang mengubah
secara drastis nasib umat Islam. Sehingga para penerus Nabi memilih momen ini
sebagai awal kalender musim sebagai pengganti tahun kelahiran nabi.
Selain ajakan
untuk pasrah kepada Tuhan Yang Esa, kayakinan baru ini
diperkaya dengan sebuah hukum yang bersumber kepada Rasulullah. Di kota Yastrib itu, yang kemudian dikenal sebagai madinat
ar-Rasul, kota utusan
Allah, atau sering
disebut Madinah saja, suatu kota yang penting untuk menata kehidupan
bersama antara Muhajirin : emigran, dan Anshar : penolong. Islam selain
merupakan suatu keyakinan dengan pesan universal, juga mempunyai satu ruh yang
ditanamkan oleh Nabi, yaitu ukhuwwah Islamiyah untuk mempersatukan menjadi
sebuah komunitas dimana pertalian darah digantikan dengan persaudaraan keimanan.
Semua Muslim bersaudara dan sama di hadapan Allah, apa pun latar belakang
social, afiliasi kesukuan, atau tingkat ekonomi mereka. Dan dalam hal ini,
seluruh saudara satu sama lain saling membantu. Tak lama kemudian,
kebutuhan
akan suatu aturan umum sangat terasa
guna melengkapi budaya kesukuan, mentransformasikan dan menyatukan mereka ke dalam suatu
pandangan hidup yang baru. Syari'at, yaitu sesuatu yang dikembangkan secara
permanen yang di dalamnya memuat ritual dan praktek peribadatan yang betul-betul
mapan.
Karena Madinah
berlokasi di jalan yang
menghampar dari Makkah menuju Palestina, perang tidak dapat dielakkan antara dua
kota itu. Akhirnya
kemenangan di pihak Muslim setelah sembilan tahun
tepatnya pada tahun 630.
Setelah
Rasulullah mengambil alih Mekkah tanpa setetes darah pun yang tumpah. Dia menghancurkan
patung-patung di seputar Ka'bah, mempersembahkan tempat itu hanya untuk Allah,
Tuhan Yang Esa, dan mengubur upacara pemujaan berhala dan menggantinya dengan
ibadah haji sesuai ajaran Islam dan menghubungkannya dengan cerita Hajar, dan
Ismail. Kemenangan Rasulullah memberi keyakinan kepada para musuh besarnya,
Seperti Abu Sufyan, bahwa agama lama sudah gagal. Setelah Rasulullah wafat pada
tahun 632, hampir semua suku Arab telah bergabung dengan umat dalam konfederasi
atau telah masuk Islam. Karena anggota umat tidak boleh saling menyerang, maka
lingkaran mengerikan dari perang suku, dan saling balas dendam telah berakhir.
Seorang diri Rasulullah telah membawa perdamaian di Arab yang terpecah-belah
oleh perang.14
Walaupun
demikian tidak ada seorang pun suku Quraisy yang dipaksa masuk
Islam, demikian juga Rasulullah tidak pernah meminta orang Yahudi atau Kristen
untuk menganut agama Allah kecuali jika mereka sendiri yang betul-betul
menginginkannya, karena mereka telah memiliki kitab suci tersendiri yang juga
autentik. Al-Quran tidak memandang pewahyuan sebagai pembatalan pesan-pesan dan
pandanganpandangan dari nabi terdahulu, tetapi justru menekankan kesinambungan
pengalaman keagamaan umat manusia.15
Al Quran tidak mencela tradisi keagamaan lain sebagai hal yang keliru
atau tidak lengkap, tetapi menunjukkan bahwa setiap nabi baru selalu
meneguhkankan dan melanjutkan pandangan para pendahulunya. Al Quran mengajarkan
bahwa Tuhan telah mengirim para utusan kepada setiap umat manusia di muka bumi:
sebuah hadis menyebutkan adanya 124.000 nabi seperti itu, sebuah angka simbolik
yang menunjukkan ketakterbatasan. Al-Quran berulang-ulang menyatakan bahwa yang
disampaikannya bukanlah suatu risalah yang sama sekali baru clan bahwa kaum
Muslim harus menekankan keserumpunan mereka dengan agama-agama yang lebih tua.16
Kehidupan dan
jasa Rasulullah akan mempengaruhi pandangan spiritual, politik, dan etika umat
Islam untuk selamanya. Mereka mengekspresikan pengalaman
"keselamatan"
Islam yang tercapai
dengan prestasi masyarakat dalam melaksanakan perintah Tuhan. Ini tidak hanya
menyelamatkan umat Islam dari neraka politik dan sosial yang ada di Arab
pra-Islam, tetapi juga memberi mereka konteks yang membuat mereka lebih mudah
berserah diri sepenuh hati kepada Tuhan. Rasulullah menjadi contoh mendasar dari
penyerahan diri yang sempurna kepada Tuhan, dan Muslim berusaha menyesuaikan
kehidupan sosial dan spiritual mereka dengan standar tersebut.
Muhammad tidak
pernah dimuliakan sebagai figur Tuhan, tetapi dianggap sebagai Manusia Sempurna
dan sebagai utusan.
Penyerahan dirinya kepada Tuhan sangat menyeluruh sehingga dia bisa mengubah masyarakat dan
memungkinkan bangsa Arab
hidup berdampingan dengan damai. Dalam etimologi, kata Islam berhubungan dengan
salam (perdamaian), dan Islam memang menawarkan kesatuan dan
kerukunan.
Rasulullah
mencapai keberhasilan ini dengan menjadi penerima wahyu Tuhan. Lewat dirinya,
Tuhan mengirim firmanfirman yang membentuk al-Qur'an. Saat
menghadapi krisis atau
dilema
Rasulullah masuk ke dalam dirinya sendiri amat dalam dan mendengar jawaban dari
Tuhan. Kehidupannya menyajikan dialog teratur antara keberadaan
realitas dan kejadian-kejadian Yang diwarnai kekerasan, teka-teki, dan gangguan
dari keduniaan.17
Keberhasilan
Nabi Muhammad adalah sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632, dia telah
berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau
ummah. Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas
yang lain dari tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan
yang besar sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium
sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah
peradaban baru, peradaban Islam.18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar