I.
PENDAHULUANJangan
Berlebih-lebihan...!
ROBERT MOREY DAN
ORIENTALISME
Meskipun kajian tentang Islam telah dilaksanakan di dunia
Barat selama seribu tahun lebih, pada setiap periode kajian itu selalu
didistorsi dan dinodai oleh kesalahan dan penyimpangan.
Kajian Islam di barat dimulai dari abad kesepuluh dan
kesebelas. Karena pada saat itu, saat Eropa secara keseluruhan menganut
Kristiani, Islam dipandang sebatas sebagai sekte dari agama Kristen yang
menyimpang, dan pendirinya adalah seorang murtad. Segera saja, bahaya langsung
dari Islam bagi wilayah Kristen Barat mendorong banyak orang untuk menyebut Nabi
pembawa ajaran Islam sebagai anti-Kristus. Abad pertengahan telah ditandai
dengan penolakan religius yang kuat terhadap Islam. Bagaimanapun pada saat
inilah Barat menunj ukkan gairah keingintahuan pada pemikiran Islam, termasuk di
bidang filsafat dan sains, juga pendidikan Islam, seni dan teknologi mendapat
penghargaan yang tinggi. Terjemahan pertama berbahasa Latin dari karya-karya
pemikiran Islam, dari bidang filsafat dan bahkan teologi sampai astronomi,
matematika, dan kedokteran, berlangsung selama periode ini. Kajian tentang Islam
secara formal di Barat dapat dikatakan pada dasarnya dimulai pada Abad
Pertengahan.
Meskipun beberapa terjemahan baru literatur
yang menjadi
sumber informasi tentang Islam telah diketjakan dalam berbagai bahasa Eropa pada
saat itu dan tetap menjadi disiplin intelektual dan akademik, walaupun ada
sedikit kajian tentang Islam yang telah dilakukan untuk benar-benar memahami
ajaran-ajaran Islam dari sudut pandang Islam sendiri. Beberapa tokoh pemikir
terkemuka pada periode ini, sebenarnya, masih membawa-bawa kebencian Eropa lama
terhadap Islam. Kajian tentang Islam masih didistorsi oleh kebanggaan akan
superioritas Barat dan bahkan kepongahan yang kasar, bentukbentuk karakter yang
masih berlangsung sampai pada masa modern.
Setelah abad ke enambelas, semakin nampak jelas
tujuantujuan kaum orientalis. Tujuan tersebut dapat kita lihat dalam
sikapnya.
Pertama, yang bertendensi keagamaan, Islam
mereka lulciskan tidak bisa lebih utama daripada agama Kristen yang selalu
unggul segala-galanya. Dan kaum terpelajar pun mereka bangkitkan agar menghargai
agama Kristen. Maka kaum orientalis yang bertendend keagamaan ini biasanya
terdiri dari para pendeta, pastur dan paus, atau mereka bergandengan tangan
dengan kaum missionaries dan zending.
Kaum orientalis yang memalsukan kebenaran Islam ada
yang dengan terang-terangan tampak, mereka menyatakan permusuhannya terhadap
Islam. Tetapi ada juga yang di dalam memasukkan racun kebencian dan
permusuhannya itu amat hati-hati dan halus sehingga tampaknya tidak kentara,
namun kadar racun yang mereka bubuhkan itu telah mereka perhitungkan, agar para
pembaca tidak merasa kaget sehingga pembaca akan merasa curiga terhadap
orientalis tersebut.
Golongan kedua inilah yang lebih berbahaya daripada
golongan yang pertama. Orang yang pertama, mereka menyatakan terus terang rasa
permusuhannya terhadap Islam, mereka menulis dengan alasan dan analogi yang
salah, tampak jelas kelemahannya, isi tulisannya penuh kebodohan dan kepalsuan.
Orang yang tidak terlalu dungu bila membaca tulisan ini tidaklah terus saja
percaya dan melahap mentah-mentah isi buku tersebut. Dan orang yang sedikit
mengerti tentulah enggan meneruskan membaca buku tersebut sampai
selesai.
Bagaimana hasil analisa kaum orientalis tidak akan
menyesatkan ummat di segala bidang, padahal mereka menyelidiki dan menulis apa
saja tentang Islam? Tentang Kitab dan Sunnah,
tentang fikih dan tauhid, tasauf dan para syekhnya, para sahabat, tabi'in,
mujtahidin, ahli hadist, ahli hukum, tentang setiap jenis hukum, dan banyak lagi
yang meliputi segala aspek dan segala sudut Islam. Semuanya itu mereka tulis
sesuai dengan jalan dan kehendak mereka, menurut tendensi mereka
masingmasing.
Tentu saja akibatnya ialah banyak timbul kesalah-fahaman
dan salah terka atau kesalah-mengertian terhadap Islam, baik yang mereka sengaja
ataupun tidak, baik karena sadar atau karena kebodohan mereka terhadap ruh
Islam.
Pada abad kesembilan belas studi-studi orientalisme
diakui secara resmi, termasuk kajian-kajian keislaman di berbagai
universitas-universitas Barat, acapkali mendapat dukungan dari
pemerintah-pemerintah kolonial, seperti: Inggris Raya, Prancis, Belanda, dan
Rusia. Orientalisme, pada hakikatnya, berkembang sebagai alat untuk
melanggengkan cengkeraman kolonial, baik kebijakan ini diterapkan di kawasan
Asia Tengah oleh
kantor kolonial Rusia atau di sub-benua India bagi kepentingan pemerintah
kolonial Inggris Raya. Akan tetapi, ada juga di antara para orientalis pada abad
kesembilan belas belakangan dan paruh awal abad kedua puluh sejumlah
sarjana-sarjana yang tulus mengkaji Islam, baik secara objektif maupun secara
simpatik, seperti: Thomas Arnold, Sir Hamilton Gibb, Louis Corbin, dan Henry
Corbin. Orientalis Barat belakangan yang termasuk dalam lingkaran tradisi ini
adalah: Marshall Hodgson, Annemarie Schimmel, dan beberapa sarjana terkemuka
lainnya. Namun kebanyakan produk dari perilaku orientalis di bidang kajian Islam
tetap menyisakan bias yang serius tidak hanya sebagai suatu hasil karya pesanan
dari kekuasaan tempat mereka mengabdi, tetapi lebih disebabkan oleh absolutisasi
konsep-konsep Barat dan metodologi yang lebih maju yang mereka terapkan bagi
Islam dilatarbelakangi kebanggaan terhadap superioritas dan kecongkakan yang
kembali pada definisi Renaisans tentang "manusia Eropa".
Demikianlah yang telah terjadi, semangat Perang
Salib telah menimbulkan banyaic tindak lanjut dari mereka dengan tujuan yang
sama dengan Perang Salib itu sendiri, yaitu akan menghancurkan ummat
Islam.
Maka jelaslah bahwa usaha Barat untuk menghancurkan
Islam belum
pernah padam, dan penjajahan Barat atas dunia Islam yang bahu-membahu dengan
kaum missi dan zending tidak dapatdiingkari lagi, sebagai kelanjutan dari Perang
Salib yang semula didengungkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095
dahulu.
Salah satu usaha mereka adalah terbitnya Buku
yang kami bahas
disini dengan judul "The Islamic
Invasion - Confronting the World's Fastest Growing Religion" yang ditulis oleh Robert A. Morey. Buku ini edisi baru dari buku yang
berjudul Islam
Unveiled.
Diterbitkan oleh
Christian Scholars Press, Las Vegas, NV 88119. Dr. Morey adalah Direlctur
Eksekutif dari yayasan penelitian dan pendidikan, yang mengkaji topik tentang
pengaruh Budaya dan Nilai Barat dan mengarang beberapa buku yang telah
diterjemahkan dalam berbagai bahasa; Prancis, Jerman, Italia, Belanda dll. Buku
ini secara garis besar menyoroti berbagai hal penting mengenai hubungan antara
dua peradaban yang berlawanan semenjak abad-abad pertengahan hingga
sekarang.
SATU SUMBER AJARAN
Saat membaca
buku Islamic
Invasion karya
Robert Morey, terbersit sesuatu yang unik tapi
itulah kenyataan pergumulan tiga umat besar dari tiga rasul besar yang dibekali
oleh Allah tiga kitab besar; semuanya dari SATU sumber yang MAHA BESAR. Ajaran
yang bersumber dari SATU disikapi berbeda oleh masing-masing pengikutnya. Kakak
pertama merasa paling unggul tidak mall menerima adik kedua, adik kedua membela
diri, dan ketika datang adik ketiga mereka berdua segera menolak adik ketiga
dengan caranya masingmasing. Sementara adik bungsu yang tak berdaya berusaha
meluruskan tindakan "berlebih lebihan" dari kakaknya. Kenapa ketiga bersaudara
memaksakan kehendak masing-masing, sementara masing-masing memiliki akal untuk
menjalankan kehidupan pribadinya sendiri. Saat ini datang adik kedua untuk
menyatakan bahwa adik ketiga bukan saudara mereka. Alasannya karena adik bungsu
dianggap berbeda. Semua bukti dimanipulasi agar adik bungsu percaya. Haruskah
nasehat menasehati dengan cara menghasut, memanipulasi, menuduhkan hal-hal yang
tidak semestinya dilakukan. Jika ingin menasehati tidakkah akan lebih balk jika
dengan hikmah dan alasan yang tepat, tanpa harus memaksakan kehendak. Adik
bungsu yang bertanya-tanya mencoba meluruskan fakta-fakta yang didistorsi dan
dimanipulasi.
Tauhid adalah tema sentral dalam al-Qur'an, hampir semua
pembahasan selalu mengarah kepada tauhid-pengEsaan Allah, baik masalah ibadah
maupun masalah sosial. Masalah ini memang sangat crusial sebab tauhid-lah inti
dari semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul sejak Nabi Adam As.
hingga Nabi Muhammad Saw. Peran para rasul dalam mengemban amanat risalah
tersebut akan kami bahas berikut ini. Untuk menyingkat bahasan maka kami
memulainya dari Nabi Musa As kemudian Nabi Isa As. terakhir Nabi Muhammad
Saw.
Tugas setiap Rasul yang dikirim oleh Allah kepada umat
manusia, adalah menyeru kepada Tauhid atau meng Esakan Allah sebagai
satu-satunya sesembahan. Tugas kedua adalah memperbaiki kondisi umatnya agar
tidak terlena dengan kehidupan dunia hingga melupakan
Penciptanya.
Umat Yahudi
Nabi Musa menyeru umatnya -bangsa Israel- dan umat
manusia secara umum untuk menyembah Allah semata. Seruan tauhid kepada seluruh
umat manusia yang diemban Nabi Musa menjadikannya berhadapan dengan bangsa Mesir
yang menuhankan Fir'aun. Nabi Musa telah berhasil dengan misinya, lcitab Taurat
ditinggalkan kepada kaumnya. Tapi sayang bahwa risalah tauhid tersebut tidak
disebarkan oleh umatnya kepada manusia secara umum, karena menganggap diri
mereka `berbeda'. Al-Qur'an banyak memberitakan bahwa memang mereka dikarunia
akal yang tinggi. Karunia tersebut sangat disayangkan ketika disikapi sebagai
alasan untuk membedalcan dirinya dengan umat lain. Sikap `berbeda' inilah yang
membuat merelca bersikap melampaui batas. Banyak Nabi yang telah mereka bunuh,
ajaran Rasulpun mereka rubah, kini mereka lebih menyukai Talmud dari pada
menggunakan Taurat, Padahal Talmud sendiri ditulis berdasarkan dua komentar atas
Taurat yang terkenal, yaitu Mishnah dan Gemara.1
Ajaran Talmud berikut ini sangat memperkuat pernyataan di atas
:
"Wahai anakku, hendaklah engkau lebih
mengutamakan fatwa dari para ahli kitab (Talmud) dari pada ayat-ayat Taurat".
(Talmud kitab Erubin:
2b-edisi Soncino).2
Perasaan `berbeda' itu mereka tunjukkan dengan arogansi
dan hegemoni keduniaan atas umat lain, dengan tolak ukur materialisme. Mereka
lebih menonjolkan superioritas yang lebih menyerupai sikap nasionalisme-rasisme
dari pada penyebaran risalah tauhid yang bersifat universal. Ajaran Nabi Musa
As, akhirnya tergeser oleh kepentingan duniawi, dan risalah tauhid berhenti di
tengah jalan.
Umat
Kristen
Atas arogansi yang mereka lakukan, Allah mengirimkan
Rasul yang berikutnya yaitu Nabi Isa As. Umat Yahudi yang merasa lebih baik
tentu saja tidak akan mengakui kenabian Isa As. Seperti yang pernah mereka
lakukan lcepada nabi mereka sendiri, maka perlakuan merelca kepada Nabi Isa As.
(Jesus) juga sama bahkan mungkin lebih. Tema sentral penyudutan yang mereka
lancarkan adalah masalah kelahiran Nabi Isa As. yang tanpa ayah. Dengan kejam
umat Yahudi menuduh Nabi Isa As.sebagai anak haram. Perlakuan semacam ini tentu
saja mendapat reaksi pembelaan dari pengikut Nabi Isa As. -yang mengajarkan
"jika kau dipukul pipi yang kanan, maka berikanlah pipi yang kiri"-.
Sepeninggal Nabi Isa As. sikap yang bermula dari pembelaan menjadi
berlebihan ketika bercampur dengan kepentingan. Sikap berlebihan inilah yang
menjerumuskan umat ini hingga menganggap nabinya `bukan manusia' tapi lebih dari
itu diangkat ke derajat `tuhan'. Kultus individu yang sering dilakukan oleh
manusia terhadap siapapun yang mereka sayangi dan mereka hormati. Apalagi
setelah bercampur kepentingan agar dapat menolak anggapan Yahudi bahwa Nabi Isa
As. adalah anak haram.
Segala macam argumentasi dibangun hingga sampai pada
pernyataan bahwa nabi Isa (Jesus) adalah firman/kalam Allah yang qodim/abadi
setelah sebelumnya menyebut ‘anak' -satu derajat di atas nabi/rasul-. Istilah
kalam terpaksa dipakai untu menyatakan bahwa dia bukan manusia. Dilengkapi
dengan qodim/abadi untuk menghindari bahwa ia adalah makhluq. Tapi, mari kita
berpikir sejenak. Manusia adalah makhluk tertinggi - kecuali yang menyamakan dirinya dengan kera-
sedangkan nabi/rasul berada dipuncak mereka. Di atas derajat itu hanya ada satu
yaitu Pencipta. Selain Pencipta hanya ada makhluq. Jika manusia tertinggi
dinaikkan derajatnya satu tingkat oleh manusia, itu sama saja dengan menuhankan
manusia.
Robert Morey
dalam The Islamic Invasion-nya dengan lantang menolak pernyataan al-Qur'an bahwa
Jesus bukan putra Tuhan, dasarnya adalah bahwa Nabi Yesaya telah menubuatkan
adanya `putra tuhan', (Kitab Yesaya 9: 5-6). la juga menolak pernyataan
al-Qur'an bahwa Jesus bukan manusia sekaligus tuhan, melainkan hanya manusia
belaka. Dasarnya adalah Yesaya 9-5 yang menyatakan bahwa Jesus juga disebut
"allah yang perkasa". Pernyataan Robert Morey yang mengutip dua ayat dari Injil,
menegaskan bahwa umat kristen telah menuhankan Nabi Isa (Jesus). Sebutan "putra
tuhan" yang diikuti pengakuan keilahian, pada dasarnya bertentangan dengan
ajaran Yesus sendiri, yang mengatakan :
"Dan lagi diberinya
kuasa kepadanya akan melakukan hukuman, sebab ia itulah anak munusia
adanya".
(Yahya 5:27).
Kuasa yang dimaksud dalam ayat ini adalah
kuasa mengatur umatnya seperti yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, bukan
kuasa yang menyamai Allah.
Umat Kristen yang sejak awal sudah
bersinggungan dengan filsafat Yunani berupaya menyempurnakan argumentasi yang
mereka bangun. Bahwa secara logika manusia tidak akan bisa naik kederajat tuhan,
jika masih ada perantara antara manusia yang dituhankan dengan Tuhan itu
sendiri. Perantara yang kami maksud adalah Roh Qudus sebagai perantara wahyu
dari Allah kepada Nabi Isa As. Maka untuk memperkokoh argumentasi yang mereka
bangun, tepatnya untuk menghilangkan ‘antara', maka mau tidak mau Roh Qudus
harus masuk dalam jajaran yang sama dan jadilah `bangunan rumah laba-laba’ yang
disebut TRINITAS.
Pengkultusan yang sama juga dilakukan atas Ibunda
Nabi Isa As. Walaupun otoritas gereja tidalc menempatkannya pada posisi seperti
putranya-salah satu oknum trinitas-, namun secara praktis telah menempatkan pada
posisi yang sama. Dalam pandangan Kristen, sebagai manusia Yesus memiliki ibu
yaitu bunda Maria, oleh sebab itu berdoa kepada bunda Maria - menurut mereka-
adalah jalur cepat juga, karena tertuju kepada ibu Tuhan. Praktek berdoa memohon
keselamatan kepada bunda Maria telah menempatkan wanita suci ini pada posisi
dipertuhankan. Praktek tersebut dilakukan dalam ritual yang disebut : Salam
Maria, Doa Rosario, dan Novena.
Tiga upaya pengkultusan -Yesus, Roh Kudus, dan Maria
semacam inilah yang dilarang Allah karena
menempatkan Allah sang Pencipta sederajat dengan ketiga makhluqnya tersebut.
Menuhankan seorang rasul, sama saja dengan mengubah ajaran yang dibawa oleh sang
rasul. Dan atas dasar perlakuan umat terhadap risalah, para rasul
mempertanggungjawabkan hal itu dihadapan Allah yang telah mengutus mereka.
Seperti yang disampaikan Allah dalam al-Qur'an berikut ini -yang artinya-
:
(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para
rasul, Ialu Allah bertanya (kepada mereka): Apa jawaban kaummu terhadap
(seruan)mu". Para rasul menjawab:"Tidak
ada
pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara
yang ghaib". (QS. al-Maidah:
109)
Yang berikut ini adalah jawaban Nabi
Isa As. yang terekam di dalam Injil dan al-Qur'an:
Suatupun tiada aku dapat
berbuat menurut kehendakku sendiri, melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana
yang
aku dengar, dan hukumku itu adil adanya ; karena bukannya aku mencari kehendak
diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku. (Yahya
5:30).
Jikalau aku menyaksikan
dari hal diriku, maka kesaksianku itu tiada benar. (Yahya 5:31).
Ada yang lain yang menyaksikan dari hal
diriku, maka aku tahu bahwa benarlah kesaksian yang disaksikanNya dari halku
itu. (Yahya
5:32)
Maka kata Yesus:
"Hanyalah seketika lamanya lagi Aku bersama-sama dengan kamu, lalu aku pergi
kepada Dia yang
menyuruhkan aku. (Yahya 7:33).
Maka aku ini mendoakan
mereka itu; bukan seisi dunia kudoakan, melainkan se,gala orang
yang
Engkau serahkan kepadaku, karena mereka itu milikMu. (Yahya 17: 9).
Jawaban Jesus/Nabi Isa As. di atas disampaikan dalam alkitab
dengan setting hari akhir. Dalam jawaban tersebut Jesus tidak bisa bersaksi
tentang dirinya -menjelaskan keadaannya yang "dilahirkan tanpa ayah"-. Hal ini
sangat logis, dan karena itu ia mengatakan bahwa ada yang lain yang akan
bersaksi tentang dirinya. Siapa yang dimaksud tentu saja Allah melalui Nabi yang
selanjutnya. Nabi Yahya yang hidup di masa Nabi Isa tidak mampu memberikan
kesaksian atas perihal Nabi Isa As, seperti yang dikatakan oleh Nabi Isa sendiri
dalam dua ayat setelah ayat di atas,
Kamu ini memang
menyuruhkan orang kepada Yahya, maka iapun menyaksikan atas yang benar itu.
(Yahya 5:33)
Tetapi aku ini tiada
menerima kesaksian dari pada pihak manusia, hanya inilah aku katakan, supaya
kamu ini selamat kelak. (Yahya
5:34)
Siapa nabi setelahnya yang akan mengabarkan ?
tentu saja nabi yang diutus setelah kedua Nabi di atas, yaitu Nabi Muhammad Saw.
Kesaksian Allah tentang Nabi Isa Saw,
disampaikan melalui wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah
dalam al-Qur'an sebagai berikut :
Dan (ingatlah) ketika
Allah berfirman: "Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:
"'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah". 'Isa menjawab: "Maha
Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku
(mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengelahui apa yang ada pada
diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib ghaib".
(QS Al-Maidah :
116).
Aku tidak pernah
mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan
kepadaku (mengatakannya) yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu ", dan
adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku bersama mereka. Maka setelah
Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha
Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS.
Al-Maidah:117).
Jika engkau menyiksa
mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni
mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah:
118).
Jika kita bandingkan dengan jawaban Yesus
yang
ada di Injil, makna permakna hampir sama, bahkan yang menyangkut masalah
kematian serta doa beliau atas umatnya. Begitulah setiap Rasul akan mempertanggungjawabkan risalah
yang diamanatkan
kepadanya. Dan seperti tergambar dalam ayat di atas. para rasul telah
menyampaikan risalahnya dengan benar. Adapun pertanggungan-jawab atas kelanjutan
risalah ada pada masing-masing umat.
Nabi Isa yang welas asih telah mengembalikan
tanggungjawab pengawasan atas umatnya kepada Allah yang telah mengutusnya,
sekaligus menyerahkan kepada Allah atas apa yang telah diperbuat
umatnya.
Nabi Isa adalah nabi terakhir dari bani Israel.
Kesombongan bani Israel telah membuat mereka banyak melakukan sikap berlebihan,
baik dalam mengkultuskan seseorang, atau memusuhinya. Banyak nabi yang telah
mereka bunuh, padahal para nabi tersebut berasal dari mereka sendiri.
Penentangan mereka terhadap risalah para rasul membuat mereka berkomplot dengan
kaum musyrik. Lihat QS. Al-Maidah :77-81.
Umat
Islam
Allah yang Maha
bijaksana memberikan pelajaran kepada Bani Israel -yang selama ini diamanati
risalah Allah- dengan memindahkan tanggungjawab amanat kepada saudara serumpun
(Sam/Semit) yaitu bangsa Arab. Kesombongan Kaum
Israel yang merasa paling pinter diperingati oleh Allah dengan memindahkan
tanggung jawab tersebut kepada masyarakat yang memiliki peradaban `lebih rendah'
dari mereka.
‘Lebih rendah'
yang dimaksud jika dibandingkan dengan peradaban lain, seperti Romawi, Persia,
atau Cina. Tapi sebenarnya merekalah yang paling siap menerima amanat dengan
alasan seperti berikut :
-
Bangsa Arab pra-Islam adalah masyarakat yang hidup dalam lirigkup kesukuan, dimana kehidupan bersama ditentukan oleh adanya persekutuan yang dikenal sebagai Hilf. Kebijakan umum komunitas bangsa Arab diatur melalui persekutuan, sedang kehidupan individu diatur oleh masing-masing klan-desentralisasi yang merupakan ciri kehidupan demokratis-. Mereka tidak pernah terbebani kehidupan herarkis kerajaan yang sentralistik. Itulah sebabnya mereka lebih bisa bersikap egaliter.
-
Peradaban besar yang ada saat itu rata-rata berbentuk kerajaan, dimana hak individu sangat tergantung kepada penguasa. Herarki kemasyarakatan sangat kental dan tidak demokratis karena penguasa cenderung otoriter.
-
Sikap demokratis, egaliter, dan terbuka merupakan lahan yang matang bagi masuknya sebuah ajaran baru yang tidak mengandalkan kekuatan dlan kekuasaan dalam penyebarannya, tapi lebih kepada penggunaan logika.
Terlepas ketiga alasan di atas, semua orang maklum bahwa
pemikiran manusia selalu berkembang dari primitif hingga beradab, dan Islam
diturunkan sekian abad setelah agama terdahulu -satu tenggang waktu yang cukup
bagi umat manusia untuk berkembang-. Untuk itu agama baru yang diturunkan tentu
saja sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia.
Dengan diangkatnya seorang rasul dari bangsa Arab, bangsa
Israel -umat Kristen dan Yahudi- tentu saja tidak akan menerima begitu saja.
Seperti yang terjadi sebelumnya, umat Yahudi menolak kedatangan Nabi Isa
(Jesus). Kini tidak saja umat Yahudi tapi umat Kristen ikut menolak kedatangan
Nabi Muhammad Saw. Walaupun ternyata sebagian pendeta -ahli kitab- lah yang ikut
meyakinkan kepada Rasulullah bahwa dirinyalah yang terpilih. Bangsa Arab dan
Rasulullah tentu saja tidak pernah menyangka bahwa risalah tersebut diamanatkan
kepada mereka, itulah sebabnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk
bertanya kepada para ahli kitab, sebab pada dasarnya apa yang berkaitan dengan
Nabi dan umatnya bahkan ritual ibadahnya banyak ternubuatkan dalam kitab-kitab
mereka. Seperti ayat yang artinya berikut ini :
Maka jika kamu
(Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu,
maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.
Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah
sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS. Yunus:
94).
Seperti
pendahulunya Rasulullah Saw mengemban amanat yang sama yaitu risalah tauhid.
Adapun masalah hubungan antar manusia -perbaikan sosial-, tentu saja
masingmasing rasul memiliki syariat yang berbeda sesuai dengan masyarakat
masing-masing. Bekal mukjizat merekapun berbeda sesuai dengan kondisi
penentangan masyarakat yang dihadapi. Kesamaan risalah tersebut disampaikan aleh
al-Qur'an dalam surat al-Baqarah : 136 yang artinya sebagai berikut :
Katakanlah (hai orang-orang
mu'min): "Kami beriman kepada Allah dan
apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim,
Isma'il, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada
Musa dan 'Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-nya.
Kami tidak membeda-bedakan
seorangpun di antara mereka dan kami
hanya tunduk patuh kepada-Nya".
(al-Baqarah : 136).
Seruan
kepada peng-Esa-an Allah Swt. dilakukan sejak Nabi yang pertama hingga nabi yang
terakhir. Adapun tentang tugas memperbaiki kehidupan sosial tentulah tidak bisa
disamakan. Rasul yang datang lebih awal mengatur kehidupan umat sesuai dengan
kondisi saat itu. Dan Islam diturunkan saat manusia lebih bisa menggunakan akal
dan logika. Itulah sebabnya ajaran Islam sangat menghargai akal dari pada
klenik dan takhayul.
Hal ini
akan tampak jelas dalam penyikapan umat Islam terhadap hujatan umat
pendahulunya. Untuk menolak hujatan bahwa umat muslim bodoh -seperti keledai-,
Umat muslim, seperti ajaran al-Qur'an cukup menyebutkan bahwa
"orang yang diberi kitab Taurat tapi tidak dilaksanakan adalah seperti keledai
yang memanggul buku-buku". Memang sederhana tapi itulah kiasan yang pas dan
tajam, untuk mengembalikan hujatan mereka. Untuk menyatakan bahwa suatu hal yang
biasa bahwa seorang wanita melahirkan tanpa seorang ayah, al-Qur'an cukup
memberikan bukti keberadaan Nabi Adam As. yang tidak pernah dilahirkan oleh
seorang ibu dan ayah. Logika sederhana ini
sangat
efektif terbukti seluruh umat muslim mempercayainya dan tidak pernah menghujat
para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw -khususnya Nabi Isa As-. Satu logika
sederhana yang sesuai dengan kondisi umat manusia saat itu.
Dengan
keimanan seperti itu umat Islam meluruskan prasangka buruk yang dialamatkan
kepada Nabi yang dihormatinya tanpa membedakan dengan lainnya yaitu nabi Isa As.
Pelurusan itu termasuk penyelewengan ajaran tauhid yang pernah diajarkan Yesus.
Melalui al-Qur'an, dengan pemilihan kata yang sangat teliti dalam surat
al-Maidah ayat 72 hingga 75 secara berturut-turut, Allah mengecam tindakan
pengkultusan Yesus, Roh Kudus, dan Maria- oleh umat Kristen sebagaimana berikut
:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya
Allah ialah AI-Masih putra Maryam ", padahal Al-Masih berkata : "Hai Bani
Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan-mu" Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (manusia dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya
surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu
seorang penolongpun. (al-Maidah :
72).
|
Dalam ayat ini Allah mengecam siapapun yang
mensejajarkan diriNya dengan Isa As. Padahal Nabi Isa As. menyatakan bahwa
dirinya menyembah Allah yang mengutusnya. Dalam ayat ini maf'ul (objek) dari kata yusyrik (menyekutukan) adalah mahdzuf (tidak tercamtum) agar memberi
makna yang luas, artinya siapapun atau apapun yang disekutukan dengan Allah maka
haram baginya surga.
Dalam ayat di atas, seakan al-Qur'an mengulang dua
pernyataan yang sama, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda.
Pernyataan pertama menjadikan kata Allah sebagai maf'ul sedang dalam pernyataan kedua
maf'ul-nya tidak tercantum sehingga menjadi umum dan berarti segala sesuatu yang
berakal atau yang tidak berakal, itulah "ciptaan". Dengan pengungkapan
-gaya bahasa- seperti ini ayat di atas
secara cermat telah menutup upaya syirik sekaligus : pertama, menurunkan derajat
Tuhan ke derajat makhluq -menganggap Tuhan adalah Isa As.-; kedua, menaikan derajat makhluq
ke derajat Pencipta -menganggap Isa As. adalah Tuhan-.
Pengulangan tersebut juga menunjukkan hal
lain yaitu :
Pernyataan pertama dinisbatkan kepada Allah, sedang pernyataan kedua disampaikan
atas lisan Nabi Isa As. Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Allah
tidak rela dirinya disamakan dengan makhluq ciptaannya -pernyataan pertama-;
kedua, bahwa Nabi Isa As. melarang dirinya disekutukan dengan Tuhan, karena
beliau sendiri menyembah Allah dan mengajak umatnya menyembah Allah juga, beliau
bahkan mengingatkan jika ada umatnya yang berbuat itu maka tidak akan berada di
Surga bersamanya tapi di neraka.
Kami berpendapat bahwa ayat ini mengecam adanya oknum
kedua dalam TRINITAS, yaitu tuhan anak/Nabi Isa. Dengan pembenaran
yang
model apapun maknanya sama dengan yang dimaksud ayat di atas. Kalau umat Kristen
saat ini tidak meyakini kebenaran al-Qur'an dan hanya meyakini kebenaran Bibel
(Injil), mari kita lihat pernyataan Nabi Isa As. dalam Injil yang mereka yakini
kebenarannya. Ayat Injil yang kami maksudkan adalah sebagai berikut
Dari
Bibel edisi International, dua ayat ini masuk dalam judul : al- Washiyyah al-`Udzma / wasiat
terbesar. (inilah risalah dasar yaitu Tauhid- pen.).3
"The
most important one, " answered Jesus, "is this: O Israel, the Lord our God,
the Lord is one. Love the Lord your God with all your heart and with all your
soul and with all your mind and with all your strength.' (Mark, 12:
29,30).4
(tertulis judul di atas ayat 28 seperti berikut : The Greatest Commandment. Sama artinya
dengan yang berbahasa Arab, wasiat terbesar. Berikut ini edisi Indonesia
:
"Maka jawab Yesus kepadanya:
"Hukum yang terutama inilah : Dengarlah olehmu, hai Israel, adapun Allah Tuhan kita, Ialah Tuhan
yang Esa; "maka hendaklah engkau mengasihi Allah Tuhanmu dengan sebulat-bulat
hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan sepenuh akal budimu,dan dengan segala
kuatmu. (Markus;12:29).5
Ayat
tersebut berisi wasiat pertama - tauhid -, sedang wasiat kedua pada
ayat selanjutnya yang bermakna seruan mengasihi sesama. Setelah membaca ayat
dari bibel yang diakui secara internasional ini, silahkan kembali kepada ayat
al-Qur'an di atas, dimana letak perbedaan seruannya ?. Ayat
selanjutnya adalah :
Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah yang ketiga dari
tiga, padahal tidak ada tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti
dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka
akan ditimpa siksaan yang pedih. (al-Maidah
: 73).
|
Dalam menerjemahkan ayat di atas, kami mencoba
menerjemahkan secara literal kalimat (tsalitsu tsalatsah), hal ini
kami maksudkan untuk dikaji disini hingga mendapatkan makna yang sesuai.
Terjemahan yang sering dipakai adalah "salah satu dari yang tiga"6. Terjemahan seperti ini dijadikan dalil
oleh Dr. Robert M. untuk menyatakan bahwa al-Qur'an tidak pernah mengkritik
TRINITAS.
Sekarang mari kita telaah dua kalimat di atas. Bahasa
Arab sering
memakai kata -nakirah
(indefinit) yang menjadi ma'rifah (definit) karena dinisbatkan kepada kata
yang lainuntuk makna "yang ke tiga" seperti dalam ayat :
(al-Kahfi : 22). Ayat dalam surat al-Kahfi ini dalam "Al-Qur'an dan
Terjemahnya" -yang diterbitkan oleh
pemerintah Saudi dan ditandatangani oleh Depag RI.
(Munawir Sjadzali)- diterjemahkan "Nanti (ada orang yang akan) mengatakan
(jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya". Untuk ayat
yang kita bahas jika kita menerjemahkan sama seperti dalam surat Kahfi, maka artinya adalah "yang ketiga". Dengan terjemahan ini mari kita
melihat siapa saja Oknum dalam TRINITAS. Umat Kristen menempatkan ketiga oknum
secara berurutan seperti berikut : 1. Tuhan Allah/Bapak, 2. Tuhan Anak/Yesus, 3.
Roh Qudus. Berdasarkan terjemahan di atas maka siapa yang dimaksud dalam
surat al-Maidah : 73? Yang dimaksud adalah Roh Qudus,
oknum ketiga dari doktrin TRINITAS.
Ada satu hikmah di
balik pemakaian kata
(kata kedua) di mana disebutkan nakirah (indefinit) yang menunjukkan
makna umum, untuk menghindari adanya makna yang pasti/sudah diketahui yaitu
makrifah (definit). Dengan keumuman ini ayat tersebut menyatakan :
"dianggap kafir upaya penggabungan/pensejajaran/penyekutuan tiga macam dzat,
atau tiga macam sifat, atau makna apapun yang diingini mereka yang menetapkan
ajaran TRINITAS".
Kesimpulan kami, ayat tersebut mencela upaya umat
Kristen yang
meletakkan Roh Qudus sebagai salah satu oknum TRINITAS, yaitu yang ketiga
setelah Yesus. Allah yang maha Esa tidak akan rela jika disejajarkan dengan
makhluqnya seperti tergambar dalam banyak ayat Qur'an. Oknum pertama tidak
dibahas karena umat Kristen sendiri mengakui bahwa oknum Pertama adalah Allah.
Dengan menghilangkan kedua oknum selain Allah maka itulah ajaran Yesus. yang
benar. Dan Allah masih memberikan kesempatan memperbaiki seperti yang
difirmankan pada ayat selanjutnya yaitu :
apa mereka tidak bertaubat
kepada Allah dan rnemohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (al-Maidah
:74).
|
Pintu taubat masih
terbuka, kini terserah anda. Pemurnian tauhid masih terus berlanjut, untuk
membersihkan apa yang dinisbatkan kepada Ibunda Nabi
Isa, yaitu wanita suci Maria (Maryam) seperti ayat berikut ini :
Al-Masih putra
Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu
sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya
biasa rnemakan makanan. Perhatikan bagaimana kami akan menjelaskan kepada (ahli
kitab) tanda-tanda kekuasaan (karni), kemudian per°hatikanlah bagaimana mereka
akan berpaling. (al-Maidah:
75).
|
Dalam ayat ini
Allah menyatakan bahwa ibunya adalah seorang yang sangat benar. Bahwa
masalah-masalah kelahiran bayi dari seorang perempuan tidak perlu dikhawatirkan,
sampai menciptakan doktrin apologetik seperti TRINITAS untuk menghindari hujatan
umat Yahudi. Tidakkah terpikir bahwa keduanya adalah memakan makanan -satu
alasan yang sangat kuat- karena tidak mungkin mengatakan bahwa Tuhan makan. Soal
hujatan kaum Yahudi, Allah menyatakan kepada para ahli kitab untuk menyaksikan
bagaimana Allah akan menjelaskan hal itu di kemudian hari.
Pernyataan
terakhir pada ayat terakhir (al-maidah 75) di atas, - "...Perhatikan
bagaimana kami akan menjelaskan kepada (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan
(kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka akan berpaling' - seluruhnya
menggunakan kata mudlori' yang
memiliki pengertian tenses future (yang akan datang). Hikmah penggunaan
kata dalam bentuk mudlori' itu,
seakan Allah mengabarkan kepada para Ahli kitab bahwa Allah kelak akan
membuktilcan hal itu di hari kemudian nanti.
Jika dilihat
dari fase perltembangan pemikiran seperti pendapat August Comte -yang membagi
perkembangan pemikiran manusia menjadi tiga fase- maka keberadaan masyarakat
Bani Israel pada masa Nabi Isa As. adalah masa sebelum manusia menggunakan
logika sebagai dasar melihat fenomena alam yang terjadi dijaman merelca saat
itu. Sehingga apapun alasan yang dikemukakan oleh Nabi Isa As. akan ditentang.
Itulah sebabnya maka mukjizat fisik (supranatural) sangat dibutuhkan oleh bangsa
Israel saat itu.
Kalau diteliti
lagi jenis mukjizat yang
dibekalkan kepada Nabi Isa As. diantaranya adalah menyembuhkan orang sakit
(buta) dan menghidupkan orang mati. Jika saat itu bangsa Israel bisa menalar, maka sebetulnya
menghidupkan orang mati lebih heboh dari dari pada "dilahirkan tanpa ayah". Tapi
mereka tidak menerima itu karena memang mereka yang ingkar adalah orang yang
berlebih-lebihan, setelah tahu kebenaran malah menutupinya. Perihal Yesus yang
lahir tanpa ayah berikut mukjizat fisik berupa kekuatan supranatural yang
dibekalkan kepadanya ini sekaligus merupakan bukti-bukti logis alcan adanya hari
Akhir. Sebab jika Allah mampu menciptakan makhluq manusia tanpa Ibu, maka
menghidupkan yang mati seperti yang dilakukan melalui tangan Nabi Isa As. adalah
hal yang kecil, begitu juga urusan menghidupkan lagi seluruh manusia pada hari
akhir nanti.
Dalam
mengemukakan permasalahan nabi Isa As, yang mendapat penghinaan Bani
Israel atas masalah kelahirannya tersebut al-Qur'an memberikan
logika-logika sederhana yang sesuai dengan logika masyarakat saat itu. Yaitu
:
-
Nabi Isa dilahirkan oleh manusia, yang kedua-duanya makan dan minum.
-
Soal dilahirkan tanpa bapak masih ada yang lebih dari itu yaitu Nabi Adam As. tapi tidak disembah dan tidak dipertuhankan.
-
Tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan risalah, dengan tetap dikenai kewajiban menyembah Pencipta sekaligus Pemberi amanat.
-
Kemudian mereka diingatkan ; jika memang mereka membela Nabi Isa As, maka belalah nabi ini (Jesus) dalam mempertanggungjawabkan risalah tauhid yang dibawanya. Janganlah menisbatkan kepadanya sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.
Argumentasi
al-Qur'an tersebut di atas memang sangat sederhana dan mendasar. Tapi itulah
yang bisa dipahami oleh umat manusia pada saat itu. Tapi Allah tidak akan
membiarkan peringatannya diabaikan. Seperti janjiNya-sejak masa pewahyuan
al-Qur'an- Allah akan memperlihatkan ayatayatNya di masa datang. Masa di mana
pemikiran manusia tidak lagi menggunakan logika sederhana tapi logika yang
disertai bukti empiris dan nyata di depan mata. Lihat surat al-Maidah ayat 75
yang telah kita sebutkan di atas yaitu :
".. Perhatikan bagaimana kami akan
menjelaskan kepada (ahli
kitab) tanda-tanda kekuasaan (kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka
akan berpaling':
Kini kita yang
hidup di era ilmu dan tekhnologi saat semua fenomena dilandaskan pada
pengetahuan empiris dan meninggalkan cara berpikir sederhana, kita dapat
menyaksikan bagaimana ayat-ayat Allah tersebut telah diperlihatkan. Kalau dulu
umat muslim hanya menyampaikan logika yang sederhana kini umat muslim dapat
mengatakan dengan lantang : "Seorang wanita bisa melahirkan tanpa ayah".
Bukankah saat ini ilmu kedokteran telah menerapkan apa yang mereka sebut sebagat
"inseminasi buatan" di mana benih dapat ditempatkan pada rahim wanita. Yang
lebih mengejutkan lagi pengetahuan itu justru ditemukan oleh para penentang
ayat-ayat Allah yang lcita sebutkan tadi.
Disini kami
melihat adanya kerancuan berpikir dalam tradisi Kristen yang seringkali
menentang perkembangan Ilmu pengetahuan dengan alasan yang sangat tidak masuk
akal, yaitu bertentangan dengan prinsip ketuhanan. Padahal jika mereka ingin
menyampaikan kebenaran perihal Yesus (Nabi Isa As.) mestinya merekalah yang
paling membutuhkan bukti-bukti empiris untuk menolak tuduhan terhadap Nabinya.
Dengan bukti empiris itu mereka tidak perlu lagi membuat-buat alasan yang tidak
masuk akal seperti doktrin TRINITAS yang muncul setelah kematian Yesus. Boleh
saja Kristen awal merasa aman dengan argumentasi mereka karena pemikiran manusia
saat itu bahkan belum menyandarkan pada logika, tapi lebih kepada pendewaan yang
mereka hayalkan sendiri. Namun ketika manusia sudah menggunakan logika yang
walaupun sederhana -pada abad pertengahan- doktrin itu dipaksakan melalui
institusi lceagamaan yang melebihi kekuasaan kerajaan. Dan pada saat yang sama
umat muslim telah meletalckan dasar-dasar bagi perkembangan ilmu-ilmu modern
yang dikemudian hari disempurnakan oleh masyarakat Kristen Eropa walaupun
mendapat penentangan Gereja. Kini ketika pengetahuan modern telah menunjukkan
kebenaran Yesus institusi gereja masih menolaknya. Maha Benar Allah yang
menginginkan kita memperhatikan bagaimana para ahli kitab itu akan tetap
mengingkarinya. Disinilah Icami melihat hikmah kebesaran Allah yang menjadikan
pengetahuan tersebut muncul dari kalangan Kristen, seakan menginginkan agar umat
Kristen dapat membuktikan kebenaran Nabinya atas tuduhan yang sangat tidak
mendasar. Jika kemudian pihak yang merasa berwenang dalam tradisi Kristen
menolak hal-hal tersebut, kita patut mempertanyakan siapa mereka ? kenapa
menyesatkan umat Yesus yang mestinya membuktikan kebenaran Nabinya - seperti
yang dijanjikan Allah dalam al-Qur'an-. Allah Maha Tahu akan kebutuhan umatnya,
walaupun umat itu sendiri merasa tidak butuh bahkan menentang.
DISTORSI SEJARAH
Dalam upaya
menyudutkan Islam Dr. Robert M. mencoba membawa kepada setting pra Islam yang
digambarkan pagan, kemudian pembaca dibawa kepada seting Eropa modern yang
dianggap lebih religius. Untuk kemudian dikatakan umat Islam awal (Arab) bukan
saudara dua umat sebelumnya (Israel), dengan dua alasan :
Pertama :
Secara fisik bukan
keturunan bapak bangsabangsa besar Ibrahim
Kedua
:
Ajaran mereka
bukan berasal dari Ajaran Ibarahim tapi dari paganisme Arab. Untuk
mendukung pernyataan ini Dr. Robert Morey mencampur aduk antara budaya yang
diperangi oleh ajaran clan budaya yang dilestarikan. Psudoilmiah yang lebih
cocok dikatakan sebagai "tuduhan tanpa bukti".
-
Jika umat Kristen dihantam dengan tema besar "masalah kelahiran" yang kemudian mereka jawab dengan berlindung di dalam 'rumah laba-laba' TRINITAS, maka tema "bukan keturunan Ibrahim" inilah yang sering dilancarkan untuk menyerang Islam.
Sekarang mari kita melihat setting masa awal diturunkannya wahyu:
-
Umat Yahudi awal yang menerima taurat, dari bangsa apa? mereka hidup dimana secara geografis? berbahasa apa?
-
Umat Kristen awal yang menerima Injil/Alkitab, dari bangsa apa? hidup dimana? berbahasa apa?
Secara jujur orang
akan mengatakan kedua umat yang dimaksud di
atas adalah bangsa Israel dari keturunan
(Sam / Semit), yang secara geografis berada di tanah Arab, bahasa mereka adalah
bahasa Ibrani. Kiblat mereka (bait Allah) di Yerussalem- Palestina-Arab, bukan
Yerussalem-Amerika.
Umat muslim awal
adalah bangsa Arab, yang semua
juga maklum bahwa bangsa Arab adalah bangsa Semit. Secara geografis mereka ada
di tanah Arab. Bahasa mereka adalah satu rumpun dengan bahasa Ibrani, Aram,
Suryani, dan semua masuk keluarga besar bahasa Semit. Tidakkah kata IsmaEL
clan
IsraEL merujukkan pada satu nama "EL' yang sering dipakai manusia - saat itu-
dalam memahami konsep "TUHAN".
Ketiga umat awal
ini tidak bisa dilihat seakan muncul bersamaan, atau satu masa generasi. Jarak
antara masing-masing + 700 tahun. Tapi
yang bisa dilihat tetap clan tidak berubah adalah tempat dari ketiganya. Untuk
menyatakan kebenaran suatu sejarah seseorang mestinya mengungkapkan data-data
sejarah yang berasal dari peninggalan arkeologis dan riwayat (yang mungkin bisa
dilihat dari ajaran/tradisi, bahasa). Namun sayang Dr. Robert Morey hanya
melemparkan tuduhan dengan menutupi seluruh bukti yang ada didepan
mata.
Setiap bangsa
rata-rata memiliki benda-benda peninggalan yang dapat
menjelaskan pada generasi-generasi mendatang. Bahkan para rasul yang membawa
risalah tauhid inipun
meninggalkan tanda-tanda keberadaan mereka di masa lalu. Tanda-tanda itu berupa
ajaran, budaya, dan benda-benda arkeologis.
Secara geografis
tiga ajaran besar tersebut diturunkan di Jazirah Arab kuno.
Kenyataan itu seakan tertutup jika dilihat dari setting modern, setelah peta
jazirah Arab terkoyak-koyak oleh paham
nasionalisme. Tapi jika kita melihat peta maka letak masing-masing wahyu
diturunkan adalah di daerah yang sangat
berdekatan, yang tidak terpisah oleh laut.
Ibrahim sebagai
bapak agama, - dalam sejarah - diberitakan berasal dari Haran yang
kini menjadi wilayah timur Turki, dan bermigrasi ke wilayah Kan'an di dekat laut
tengah yang kini menjadi wilayah Israel modern.7
Umat Kristen lebih suka cerita itu sampai di sini, padahal jejak kaki Nabi
Ibrahim hingga zaman modern ini masih ada -bukti arkeologis yang tidak boleh
begitu saja dihilangkan-. Dalam masalah silsilah keturunan Ibrahim-pun mereka
lebih suka hanya ada Iskak padahal masih ada IsmaEl, yang namanya menunjukkan
kesamaan dengan saudaranya IsraEl, di mana "EL' adalah sebutan untuk tuhan
masyarakat kan'an. Nabi Daud dalam nubuatnya di alkitab menyebut -secara
literal- kata "Bakka" di mana kata Bakka itu sendiri adalah nama lain dari Makka
-al-Qur'an juga memakai kata yang sama. Penyebutan kata itu juga dibarengi
ciri-ciri Makka yang kita lihat saat ini, seperti mata air (zam-zam), bahkan
ziarah haji dan ritual seperti sa'i, pahala shalat di Masjid Haram, maqam
mustajabah (depan pintu bait Allah).
Jika umat
Kristen ketika diserang isu `anak haram' berlindung dibalik TRINITAS, maka umat
muslim yang diserang dengan tema `bukan keturunan Ibrahim' cukup menunjukkan
ritual Ibrahim (Ziarah haji) dan bukti Arkeologis berupa batu tempat Nabi
Ibrahim berdiri (ketika membangun Ka'bah). Bukti yang memenuhi syarat sebagai
bukti sejarah menurut kaca mata ilmu pengetahuan Modern. Maka umat muslim tidak
perlu lari dan mencari perlindungan semacam doktrin Trinitas. Maha benar Allah
yang mengabadikan Ka'bah dan maqam Ibrahim tersebut, bahkan tertulis di dalam
al-Qur'an.
Kedua, tentang
paganisme Arab yang dianggap sebagai asal-usul ajaran Islam. Psudoilmia yang
dilakukan Dr. Robert Morey adalah ketika menulis sejarah agama, sosok para
pembawa ajaran diidentikkan dengan umat yang mereka dakwahi. Padahal paham umat
yang didakwahi seringkali berlawanan dengan ajaran yang dibawanya, dan karena
dakwah itulah paham masyarakat itu berubah mengikuti ajaran sang rasul. Bangsa
Israel yang pernah diberitakan melawan bangsa' Kan'an, memakai nama "EL' yang
adalah Tuhan masyarakat Kan'an. Orang mungkin saja bingung kenapa peperangan
yang dikatakan atas nama agama itu dilakukan oleh bangsa yang memakai nama Tuhan
dari masyarakat yang diserangnya.
El, Eloy, Eloh,
Allah, Yahweh, Ya Hua, Elohem ,Allahumma; adalah kata-kata yang dipakai oleh
masing-masing bangsa - saat itu - untuk menyebut Tuhan. Permasalahannnya bukan
pada kata-kata itu saja kemudian kita menilai paham suatu masyarakat. Tapi
mestinya kepada cara penyikapan kepada "Tuhan" yang mereka sebut menurut bahasa
mereka sendirisendiri. Bangsa Israel yang menggunakan kata Yahweh untuk
merefleksikan pemahaman mereka tentang konsep "Tuhan" dibimbing oleh rasul dan
nabi mereka untuk meluruskan pemahaman dan penyikapan terhadap Tuhan yang mereka
sebut Yahweh. Begitu juga masyarakat Arab yang pada masa jahiliyah memakai kata
Allah untuk menyebut Tuhan dibimbing oleh Rasulullah Saw. untuk menyikapi dan
memahami apa yang mereka sebut Allah itu. Cara penyikapan inilah yang diajarkan
oleh masing-masing rasul dan nabi kepada umatnya, yaitu mengESA-kan. Kalau
ukurannya hanya pada tataran kata saja untuk menilai paham suatu umat, maka
Yahudi dan Kristen juga pagan, karena nama "EL' yang dipakai IsraEL adalah Tuhan
dari bangsa Kan'an yang menurut mereka pagan.
Dengan
menggunakan parameter penyikapan, maka yang seharusnya berkaca adalah umat
Kristen sekarang ini. Bukankah tindakan menyekutukan Tuhan adalah ciri utama
masyarakat pagan yang memiliki banyak tuhan (berhala) yang bisa mereka bawa atau
mereka taruh disudut rumah atau mereka tempel di dinding ruang tamu dan
kantor.
Bangsa Arab pra-Islam, sebagaimana bangsa-bangsa lain
Juga selalu diwarnai dengan pencarian konsep-konsep ketuhanan yang karena
ketidaktahuan mereka wujudkan pada "penyekutuan' tidak mungkin melakukan
kesalahan fatal menyembah berhala" seperti yang dituduhkan Dr. Robert
Morey.
YANG LAMA MENCOCOKKAN YANG BARU
Kini mari kita menuju studionya
Robert Morey yang lain. Dalam upaya
menyudutkan semua ajaran yang terkandung di dalam al-Qur'an Robert Morey ingin
memotong kompas dengan menggunakan prinsip "Yang lama mencocokkan yang baru".
Maksudnya yang datang terakhir harus mengikuti yang datang pertama. Prinsip
status Quo yang tidak suka orang baru, seperti yang telah kita gambarkan di
atas, di mana umat Yahudi tidak mengakui yang datang selanjutnya -umat kristen-
Dan dua umat terdahulu juga tidak mengakui umat yang kemudian -umat Islam-
padahal risalahnya sama yaitu Tauhid. Payahnya Robert Morey malah menyitir dua
ayat di atas, yaitu surat Yvnus :
94. dan surat al-Baqarah: 136.8
Prinsip yang secanggih apapun tetap harus diletakkan pada
tempatnya. Kalau semua dipukul rata itu namanya luguMari kita berpikir lebih
sehat. Jika prinsip itu diterapkan apa adanya, maka :
"Ajaran Kristen tidak boleh
menyalahi ajaran Yahudi karena mereka lebih dulu ada. Kitab yang paling diakui
oleh Yahudi saat ini adalah Talmud dan bukan Taurat karena kitab Yahudi yang
lain (Talmud) mengatakan seperti berikut :
"Wahai anakku, hendaklah
engkau lebih mengutamakan fatwa dari para ahli kitab (Talmud) dari pada ayat-ayat Taurat". (Talmud
kitab Erubin: 2b-edisi Soncino).9
"Berdasarkan prinsip
Robert Morey di atas, maka Bibel harus
dites dulu kebenarannya berdasarkan kebenaran Talmud. Ajaran Talmud yang
berikutnya :
"Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya.
Tuhanpun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut". (Talmud kitab
Baba Mezia: 59 b). 10
"Berdasarkan ajaran
Talmud di atas, maka seluruh ajaran baik
Talmud, Bibel harus dikoreksi dulu oleh Rabbi yang derajatnya lebih pandai dari
Tuhan ( Ternyata masih ada pengkultusan yang melebihi pengkultusan Gereja
terhadap Nabi Isa) -maha Suci Allah Swt.-. Konsekwensinya adalah tidak boleh ada
satu ajaranpun yang menyalahi atau bertentangan dengan kehendak
Rabbi.
"Berikutnya, seorang Rabbi yang
bahkan adalah begawan mereka yang sangat dihormati yaitu Moses Maimonides,
mengajarkan dengan tanpa tedeng aling-aling, bahwa "kaum kristen wajib
dihabisi ".11
"Terakhir, apakah perlu ajaran
begawan tersebut dilaksanakan?
Begitulah kalau prinsip
diterapkan mentah-mentah tanpa menempatkan pada porsi yang sebenarnya. Lantas bagaimana porsi yang
semestinya?.
Penerapan prinsip "Yang lama mencocokkan yang baru" dalam masalah
ajaran agama -atau mungkin juga hukum adalah untuk hal-hal yang bersifat
permanen, mendasar, dan tidak berubah
dalam keadaan apapun. Dalam masalah hukum misalnya, hal-hal yang sifatnya mendasar ditetapkan lebih dulu dalam
Undang-undang Dasar (UUD); maka semua peraturan dan perundang-undangan -yang tentu saja datang setelahnya
harus sesuai dengan UUD. UUD sifatnya mendasar sedang peraturan pemerintah atau
undang-undang lebih sering berubah mengikuti kondisi masyarakat. Jika ada
perselisihan antara Perda dan UUD tentu saja Perda dibuang. Tapi jika ada perda
tahun 2000 -misalnya- kemudian karena perkembangan situasi masyarakat ditetapkan
lagi perda baru tahun 2003, maka tentu saja perda yang baru akan menghapus yang
lama, sebab kalau dibalik itu sama saja tidak membuat Perda baru dan masyarakat
akan stagnan.
Sedang dalam
masalah ajaran agama maka yang paling mendasar dan tidak boleh
berubah adalah Tauhid, pengEsaan Tuhan sebagai pencipta semua makhluq serta
ajaran yang sifatnya universal seperti wasiat terbesar kedua Nabi Isa yaitu
ajaran berbuat baik kepada sesama, serta prinsip keadilan masyarakat yang
tergambar dalam hukum Qishas yang tersurat di Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Sejak
agama diturunkan oleh Allah hingga akhir zaman tauhid sebagai risalah pokok
harus tetap ada, tanpa tauhid agama hanya sebatas aturan layaknya "Perda".
Sedang untuk perbaikan masyarakat adalah dengan menggunakan kasih sayang sesama
dan keadilan; kedua prinsip inilah yang dipakai oleh para Rasul dalam mengemban
tugas perbaikan sosial.
Untuk kedua
prinsip. universal
-ajaran tauhid dan kemanusiaan- ini ajaran baru tentu saja mengacu kepada yang
lama, karena datang dari sumber yang sama. Seluruh ajaran baik yang berasal dari
nash maupun ijtihad tidak boleh menyalahi prinsip tauhid, jika terjadi perbedaan
antara yang lama dengan yang baru maka yang baru harus mengikuti yang lama.
Misalnya ajaran yang mengajarkan hidup hedonis harus diganti karena hedonisme
menjadikan manusia lupa akan Tuhannya, dan itu bertentangan dengan yang lama
-mendasaryaitu ajaran tauhid.
Adapun syariat
yang mengatur kehidupan
manusia yang selalu berubah berkembang sesuai kodratnya, maka ajarannya harus
mengarah kepada perbaikan kondisi mereka, dan bukan sesuai kemauan mereka. Kalau
yang dipakai adalah "sesuai kemauan" maka aturan akan hancur dan prinsip tauhid
akan tergeser. Aturan hidup yang dipakai pada zaman Nabi Musa tidak mungkin
dipakai pada masa Nabi Isa As. begitu selanjurnya. Nah untuk yang bersifat
berubah maka prinsip yang dipakai adalah "Yang baru menggantikan yang lama"
inilah yang kita kenal dengan nasakh. Ajaran yang menentang Ilmu
pengetahuan, harus digantikan dengan ajaran yang mendukung Ilmu pengetahuan.
Karena pembodohan adalah hal yang merugikan dan merusak aturan hidup yang pada
gilirannya membuat manusia lupa akan Penciptanya.
Catatan :
Secara umum,
hampir seluruh hujatan dalam buku the Islamic Invasion bermuara pada
tiga pokok hujatan : 1. Bukan keturunan Ibrahim, 2. distorsi sejarah pra Islam,
dan 3. prinsip "yang lama mencocokkan yang baru". Kita sudah menjawabnya dalam
bab ini, sedangkan bab-bab selanjutnya akan kami bahas lebih terperinci lagi
berdasarkan masalah pokok yang dihujat. Seperti yang tampak dalam ketiga jawaban
kita di atas, hujatan Dr. Robert Morey adalah tidak berdasar sama sekali, hal
ini akan semakin jelas dalam hujatan secara rinci yang lebih menampakkan
ungkapan kebencian ketimbang perdebatan perbandingan agama. Dasar yang dipakai
pun sangat tidak berdasar dan mengada-ada bahkan lebih menjurus kepada
manipulasi, seperti memalsukan hadits dan memanipulasi pernyataan para tokoh
penulis keislaman.
YANG LAMA MENCOCOKKAN YANG BARU
Kini mari kita menuju studionya
Robert Morey yang lain. Dalam upaya
menyudutkan semua ajaran yang terkandung di dalam al-Qur'an Robert Morey ingin
memotong kompas dengan menggunakan prinsip "Yang lama mencocokkan yang baru".
Maksudnya yang datang terakhir harus mengikuti yang datang pertama. Prinsip
status Quo yang tidak suka orang baru, seperti yang telah kita gambarkan di
atas, di mana umat Yahudi tidak mengakui yang datang selanjutnya -umat kristen-
Dan dua umat terdahulu juga tidak mengakui umat yang kemudian -umat Islam-
padahal risalahnya sama yaitu Tauhid. Payahnya Robert Morey malah menyitir dua
ayat di atas, yaitu surat Yvnus :
94. dan surat al-Baqarah: 136.8
Prinsip yang secanggih apapun tetap harus diletakkan pada
tempatnya. Kalau semua dipukul rata itu namanya luguMari kita berpikir lebih
sehat. Jika prinsip itu diterapkan apa adanya, maka :
"Ajaran Kristen tidak boleh
menyalahi ajaran Yahudi karena mereka lebih dulu ada. Kitab yang paling diakui
oleh Yahudi saat ini adalah Talmud dan bukan Taurat karena kitab Yahudi yang
lain (Talmud) mengatakan seperti berikut :
"Wahai anakku, hendaklah
engkau lebih mengutamakan fatwa dari para ahli kitab (Talmud) dari pada ayat-ayat Taurat". (Talmud
kitab Erubin: 2b-edisi Soncino).9
"Berdasarkan prinsip
Robert Morey di atas, maka Bibel harus
dites dulu kebenarannya berdasarkan kebenaran Talmud. Ajaran Talmud yang
berikutnya :
"Seorang rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya.
Tuhanpun mengakui bahwa rabbi itu memenangkan debat tersebut". (Talmud kitab
Baba Mezia: 59 b). 10
"Berdasarkan ajaran
Talmud di atas, maka seluruh ajaran baik
Talmud, Bibel harus dikoreksi dulu oleh Rabbi yang derajatnya lebih pandai dari
Tuhan ( Ternyata masih ada pengkultusan yang melebihi pengkultusan Gereja
terhadap Nabi Isa) -maha Suci Allah Swt.-. Konsekwensinya adalah tidak boleh ada
satu ajaranpun yang menyalahi atau bertentangan dengan kehendak
Rabbi.
"Berikutnya, seorang Rabbi yang
bahkan adalah begawan mereka yang sangat dihormati yaitu Moses Maimonides,
mengajarkan dengan tanpa tedeng aling-aling, bahwa "kaum kristen wajib
dihabisi ".11
"Terakhir, apakah perlu ajaran
begawan tersebut dilaksanakan?
Begitulah kalau prinsip
diterapkan mentah-mentah tanpa menempatkan pada porsi yang sebenarnya. Lantas bagaimana porsi yang
semestinya?.
Penerapan prinsip "Yang lama mencocokkan yang baru" dalam masalah
ajaran agama -atau mungkin juga hukum adalah untuk hal-hal yang bersifat
permanen, mendasar, dan tidak berubah
dalam keadaan apapun. Dalam masalah hukum misalnya, hal-hal yang sifatnya mendasar ditetapkan lebih dulu dalam
Undang-undang Dasar (UUD); maka semua peraturan dan perundang-undangan -yang tentu saja datang setelahnya
harus sesuai dengan UUD. UUD sifatnya mendasar sedang peraturan pemerintah atau
undang-undang lebih sering berubah mengikuti kondisi masyarakat. Jika ada
perselisihan antara Perda dan UUD tentu saja Perda dibuang. Tapi jika ada perda
tahun 2000 -misalnya- kemudian karena perkembangan situasi masyarakat ditetapkan
lagi perda baru tahun 2003, maka tentu saja perda yang baru akan menghapus yang
lama, sebab kalau dibalik itu sama saja tidak membuat Perda baru dan masyarakat
akan stagnan.
Sedang dalam
masalah ajaran agama maka yang paling mendasar dan tidak boleh
berubah adalah Tauhid, pengEsaan Tuhan sebagai pencipta semua makhluq serta
ajaran yang sifatnya universal seperti wasiat terbesar kedua Nabi Isa yaitu
ajaran berbuat baik kepada sesama, serta prinsip keadilan masyarakat yang
tergambar dalam hukum Qishas yang tersurat di Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Sejak
agama diturunkan oleh Allah hingga akhir zaman tauhid sebagai risalah pokok
harus tetap ada, tanpa tauhid agama hanya sebatas aturan layaknya "Perda".
Sedang untuk perbaikan masyarakat adalah dengan menggunakan kasih sayang sesama
dan keadilan; kedua prinsip inilah yang dipakai oleh para Rasul dalam mengemban
tugas perbaikan sosial.
Untuk kedua
prinsip. universal
-ajaran tauhid dan kemanusiaan- ini ajaran baru tentu saja mengacu kepada yang
lama, karena datang dari sumber yang sama. Seluruh ajaran baik yang berasal dari
nash maupun ijtihad tidak boleh menyalahi prinsip tauhid, jika terjadi perbedaan
antara yang lama dengan yang baru maka yang baru harus mengikuti yang lama.
Misalnya ajaran yang mengajarkan hidup hedonis harus diganti karena hedonisme
menjadikan manusia lupa akan Tuhannya, dan itu bertentangan dengan yang lama
-mendasaryaitu ajaran tauhid.
Adapun syariat
yang mengatur kehidupan
manusia yang selalu berubah berkembang sesuai kodratnya, maka ajarannya harus
mengarah kepada perbaikan kondisi mereka, dan bukan sesuai kemauan mereka. Kalau
yang dipakai adalah "sesuai kemauan" maka aturan akan hancur dan prinsip tauhid
akan tergeser. Aturan hidup yang dipakai pada zaman Nabi Musa tidak mungkin
dipakai pada masa Nabi Isa As. begitu selanjurnya. Nah untuk yang bersifat
berubah maka prinsip yang dipakai adalah "Yang baru menggantikan yang lama"
inilah yang kita kenal dengan nasakh. Ajaran yang menentang Ilmu
pengetahuan, harus digantikan dengan ajaran yang mendukung Ilmu pengetahuan.
Karena pembodohan adalah hal yang merugikan dan merusak aturan hidup yang pada
gilirannya membuat manusia lupa akan Penciptanya.
Catatan :
Secara umum,
hampir seluruh hujatan dalam buku the Islamic Invasion bermuara pada
tiga pokok hujatan : 1. Bukan keturunan Ibrahim, 2. distorsi sejarah pra Islam,
dan 3. prinsip "yang lama mencocokkan yang baru". Kita sudah menjawabnya dalam
bab ini, sedangkan bab-bab selanjutnya akan kami bahas lebih terperinci lagi
berdasarkan masalah pokok yang dihujat. Seperti yang tampak dalam ketiga jawaban
kita di atas, hujatan Dr. Robert Morey adalah tidak berdasar sama sekali, hal
ini akan semakin jelas dalam hujatan secara rinci yang lebih menampakkan
ungkapan kebencian ketimbang perdebatan perbandingan agama. Dasar yang dipakai
pun sangat tidak berdasar dan mengada-ada bahkan lebih menjurus kepada
manipulasi, seperti memalsukan hadits dan memanipulasi pernyataan para tokoh
penulis keislaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar