MILLATU IBRAHIM
Menurut sejarah
biblical Ibrahim As.
lahir pada masa antara abad 20-19 SM di Ur-Kaldea.1
Lahir dari seorang ayah yang masih menyembah berhala, bahkan pembuat patung
berhala yang disembah oleh manusia. Pemuda Ibrahim yang merasa aneh dengan
penyembahan berhala, berusaha mencari Tuhan yang sebenarnya, yang dapat memberi
manfaat dan dan menghilangkan mudlarat tidak seperti patung. Ibrahim (Abraham)
oleh para peneliti diduga merupakan salah satu pemimpin kafilah yang membawa
rakyatnya dari Mesopotamia menuju Laut Tengah pada akhir milenium ke tiga
SM.2 Terlepas dari kebenaran dugaan tersebut,
namun berita tentang pengembaraan Ibrahim dari Kaldea menuju Kan'an agaknya
sudah umum diketahui pemeluk ketiga agama samawi. Oleh sebab itu kami hanya
menyorot pengembaraannya sebagai individu Ibrahim yang digambarkan oleh
al-Qur'an berusaha mencari hakekat Allah. Penelitian Ibrahim As. terhadap
kepercayaan masyarakat sekelilingnya, baik di tempat asalnya -Kaldea- maupun
negeri yang dilewatinya dalam pengembaraan, menghendaki dirinya untuk
menganalisa bentuk kepercayaan Yang berkembang.
Banyak pendapat
tentang asal mula kepercayaan manusia, ada yang berpendapat bahwa
kepercayaan itu dimulai dari rasa takut yang kemudian manusia menyandarkan
pada apa yang dapat membuatnya tenang, ada yang mendasarkan pada kepercayaan
terhadap roh hingga menimbulkan kepercayaan Totemisme, ada yang mendasarkan pada
kepentingan individu dan umum, serta macam-macam perkiraan lain yang bukan
dimaksudkan untuk dibahas disini. Apapun yang mendasarinya, kepercayaan terhadap
penyembahan berhala adalah termasuk kepercayaan kuno. Suatu kepercayaan yang
menurut penganutnya dapat mendekatkan dirinya dengan sesembahan yang
diyakininya.
Selain kepercayaan terhadap berhala,
kepercayaan lama yang
ada pada masa Ibrahim diwilayah timur tengah kuno, adalah kepercayaan terhadap
benda-benda luar angkasa, seperti bintang-bintang, bulan, dan matahari. Kaldea
yang masuk wilayah Mesopotamia-Babilonia mengenal penyembahan bintang-bintang
seperti dewa Marduk yang mereka anggap sebagai dewa perang, adalah planet Mars,
serta dewa-dewa lain hingga 12 dewa, yang nama-namanya dipakai dalam astronomi
hingga sekarang.3
Mesir kuno, mengenal penyembahan dewa
Matahari sebagai dewa Re, yang adalah Matahari itu sendiri.
Kepercayaan terhadap Re (dewa matahari) bertahan dari dinasti ke II (+-
3000 SM) raja-raja Mesir Kuno hingga dinasti Khofo (1400 SM). Hal dikuatkan
dengan ditemukannya tulisan di makam salah satu raja dinasti II, yang menyebut
dewa matahari dengan sebutan "Nabire".4 Kepercayaan ini
pada masa-masa selanjutnya berkembang menjadi banyak dewa seiring perkembang
perebutan kekuasaan yang menjadikan dewa sebagai alat propaganda paling mujarab,
maka tidak heran jika dewa-dewa kemudian didatangkan dari luar.
Kepercayaan-kepercayaan yang berkembang pada masa Ibrahim
ini, penyembahan berhala, bintang-bintang, bulan, dan matahari, diisyaratkan
oleh al-Qur'an dalam surat al-An'am ayat 76-80.
Tatkala gelap malam mencungkupnya, ia
(Ibrahim) pun dapat
melihat bintang-bintang. Maka katanya: "Ini adalah Tuhanku."Ketika bintang itu
hilang, ia berkata: Aku tidak suka kepada apa-apa yang hilang."
Tatkala ia melihat bulan muncul, ia
berkata: "Inilah Tuhanku." Ketika bulan itu terbenam, ia berkata: "Kalau Tuhanku
tidak menunjuki aku, tentulah aku termasuk orang yang sesat. "
Ketika ia melihat matahari terbit, ia
berkata: "Inilah Tuhanku, ini lebih besar."Tetapi setelah matahari terbenam, ia
berkata: " Wahai kaumku! Aku berlepas tangan dari apa yang kalian
sekutukan.
Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat
yang menciptakan langit
dan bumi, dengan kecenderungan kepada agama yang benardan aku bukanlah termasuk
orang-orang musyrik."
Kaumnya menyangkalnya, maka katanya:;
'Adakah kalian menyangkal aku tentang Tuhan, sedang Dia telah menunjuki aku dan
aku tidak takut terhadap apa yang kalian sekutukan, kecuali jika
Tuhanku menghendaki sesuatu. Tuhanku meliputi segala sesuatu dengan ilmuNya.
Adakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran?"
Jika dilihat
adanya upaya akal yang
kemudian dibarengi pengembaraan yang cukup jauh, agaknya Ibrahim juga
menggunakan media lain selain akal dalam upayanya, yaitu hati. Seperti yang
diceritakan oleh Qur'an bahwa beliau memiliki hati yang lembut dan santun.
Kriteria hati yang semacam ini hanya didapat dari olah batin yang serius. Dengan
upaya akal dan hati serta usaha yang sangat bersungguh-sungguh inilah maka Allah
memberikan petunjuk kepadanya. Penemuannya yang secara otodidak inilah yang
menjadikan Ibrahim menjadi orang yang sangat pasrah kepada Tuhannya. Sebab
beliau sudah membuktikan keberadaan Tuhan yang dicarinya itu melalui mata
batinnya. Pertemuannya
dengan Tuhan ini tentu saja dengan sarana hati, sebab otak hanya sebagai sarana
awal dari pencariannya. Kepasrahan inilah yang menjadi ajaran Ibrahim sehingga
ia menamakan dirinya muslim (orang yang pasrah).
Ajaran Ibrahim
pada masa itu tentu saja sangat bertentangan dengan pandangan manusia tentang
konsep ketuhanan. Di mana penyembahan berhala clan dewa dewi lebih dapat mereka
pahami dari pada pengesaan Allah. Adat kekeluargaan yang kuat menjadi sarana
untuk mempertahankan ajaran beliau. Itulah sebabnya maka Nabi-nabi yang datang
setelah nya kebanyakan dari keturunan beliau -khususnya para nabi dan rasul yang
diceritakan oleh Taurat, Injil clan al-Qur'an. Nabi Musa yang datang setelahnya
juga masih mempertahankan keluarga besar Bani Israel sebagai benteng ajaran
Tauhid, walaupun pada masa itu paham umat manusia secara umum belum mampu
menalar ajaran Tauhid. Maka tidak heran jika beliau harus berhadapan dengan
Fir'aun yang menuhankan dirinya. Bahkan sebagian umatnya pun pernah tergelincir
mengikuti penyembahan berhala. Hingga pada masa Uzair (Ezra) pun sistem
kekeluargaan masih sangat ketat, dimana bangsa Yahudi tidak boleh mengawini
orang pagan.
Ajaran ini
terus berlanjut hingga masa menjelang kenabian Isa. Pada masa itu ajaran
dipegang erat oleh kelompok Esenes, sementara kelompok bani Israel yang lain lebih memilih
bergabung dengan masyarakat pagan Romawi yang kala itu menguasai bangsa Yahudi.
Dari kelompok inilah (Esenes) muncul nabi Yahya (Yohanes pembabtis) yang
berjuang melawan Romawi hingga akhirnya tertangkap dan dibunuh akibat
pengkhiatan sekte Yahudi lain yaitu Farisi dan Saduki. Dua kelompok ini juga
dicela oleh Yesus dalam Injilnya. Nabi Isa As. yang melanjutkan perjuangan
pendahulunya ternyata mengalami hal yang sama. Pengkhiatan bangsanya yang
berkomplot dengan Romawi membuatnya hanya bertahan selama tiga tahun dalam masa
dakwahnya. Berkomplotnya sebagian bangsa Yahudi dengan Romawi inilah yang
mengakibatkan ajaran tauhid Yesus menjadi terasimilasi dengan kebudayaan Romawi
hingga menjadikan Tuhan yang Satu dipahami sebagai tiga, walaupun masih tetap
mengatakan "Esa". Pada masa nabi Isa paham `keluarga' masih sangat kental,
hingga beliau mengatakan : "...aku diutus hanya kepada dombadomba yang
hilang dari umat Israel" . Hal ini bukanlah tanpa alasan, sebab
pada masa itu bangsa lain masih belum mampu menalar paham
monoteisme. Apalagi bangsa Romawi yang menguasai bangsa Israel, mitos dewa-dewi
mereka masih sering diceritakan hingga saat ini.
Melihat
kesinambungan ini, mestinya ajaran Kristen yang mengaku pengikut Yesus
(Isa) adalah monoteisme. Yudaisme yang ada sekarangpun tetap berpaham
monoteisme, walaupun syariatnya menjadi syariat nasionalisme. Kenapa Yudaisme
tetap bertahan dengan monoteismenya? Hal ini mudah ditebak karena hingga saat
ini pun agama Yudaisme hanya milik bangsa Yahudi. Artinya faktor "keluarga yang
mampu mempertahankan tradisi" sangat berpengaruh sebagai benteng ajaran
Monoteisme. Hanya saja ketika tradisi keluarga itu terlalu diunggulkan maka
jadilah ajarannya nasionalisme buta yang menganggap bangsa lain sebagai
budak.
Doa Nabi
Ibrahim yang
menginginkan agar keturunannya menjadi para pemimpin agama terwujud melalui
kesinambungan peran keluarga dalam menjaga ajarannya. Keluarga dari keturunan
Nabi Ibrahim tidak saja yang dari Ishaq, tapi juga Isma'il yang kelak menurunkan
Muhammad.
Jika bangsa
Yahudi/Israel memiliki silsilah nasab hingga sampai kepada Nabi Ibrahim melalui
Nabi Ishaq, maka bangsa Arab khususnya keluarga nabi Muhammad
juga memiliki nasab hingga sampai kepada Nabi Ibrahim
melalui nabi Isma'il. Kita tidak perlu mengupas tentang nasab ini secara panjang
lebar, sebab jika ada yang mempertanyakan keotentikannya,
maka hal itu juga berlaku pada nasab nabi-nabi Israel (termasuk Yesus) kepada
Ibrahim As. Maka yang akan kita bahas adalah tradisi ajaran Ibrahim As, yang
berada di tanah Hejaz, lebih khususnya di tanah Makkah.
Pada masa
jahiliyah, jazirah Arab
-sebagaimana peradaban lainnya- masih dipenuhi dengan
paham-paham penyembahan berhala, pohon, hewan, fenomena alam, dan benda-benda angkasa seperti
bintang, matahari, dan bulan; seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Namun
demikian ada diantara mereka yang masih memegang tradisi Ibrahim. Mereka inilah
yang disebut kaum Ahnaf,(literal-orang-orang yang lurus).
Tradisi Ibrahim ada pada mereka karena memang mereka masih satu keturunan dengan
umat Israel yaitu bangsa Semit. Sebagian mereka menganut ajaran Yudaisme karena
bersinggunangan dengan bangsa Yahudi yang menempati daerah-daerah pertanian yang
subur seperti Yasrib (Madinah). Keturunan semit lainnya disekitar jazirah Arab
sudah mengenal ajaran Nasrani yang berkembang sejak abad 4 M. melalui Siria.
Paham yang mereka anut adalah monoteisme karena rata-rata mereka mengikuti
ajaran Ya'kubi (di Ghassan dan Syam), walaupun sebagian mengikuti paham
Nestorian yang menuhankan Yesus (di wilayah Hirah).5
Secara umum, di
Jazirah Arab, paham
monoteisme bukanlah hal sangat baru. Maka disini kita melihat bahwa faktor
`keluarga' masih berperan dominan dalam penjagaan ajaran tauhid. Tidak
mengherankan jika ajaran Nasrani yang mereka anut terdapat ajaran yang tidak
mengakui ketuhanan Yesus, yang dianggap gereja sebagai bid'ah.
Nabi Muhammad
dilahirkan dari keluarga ahnaf
yang memegang
tradisi Ibrahim. Kakek Nabi -Abdul Muntalibmisalnya pernah berujar mengorbankan
putranya -Abdullah ayah
Nabi Saw-, seperti yang
pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim. Keponakan Rasulullah Waraqah bin Noufal juga
seorang tokoh ajaran ahnaf yang kemudian masuk nasrani -sebelum kenabian
Muhammad-. Beberapa ajaran Ibrahim dengan tradisi Hanifiyah yang dicemooh oleh
masyarakat Makkah pagan, adalah: puasa Asyura, haji, menjauhi minum khamr
(seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar), menyambung tali persaudaraan, shadaqah,
memerdekakan budak (ketiga hal ini pernah dilakukan oleh sahabat Hakim bin Hizam
sebelum Islam),6 dan berkhalwat (menyepi-seperti yang
dilakukan oleh Nabi); keseluruh ajaran ini mereka sebut tahannuts atau tahannuf.7
Tahannuf dalam bentuk khalwat
adalah ibadah mengasingkan diri (`uzlah) dengan hitungan tertentu. Dan
ibadah semacam ini dilakukan oleh para nabi seperti yang termaktub dalam Bibel
(lihat bab Ibadah).
Satu hal
yang sangat penting dari
tradisi Ibrahim yang dipegang teguh oleh para Ahnaf, adalah penyembahan kepada Allah
saja, seperti yang pernah dinyatakan oleh Rasulullah pada masa sebelum kenabian,
saat ditanya oleh Khadijah, beliau menyatakan, "Aku tidak akan menyembah 'Uzza
selamanya". Satu pernyataan yang membedakan antara penyembahan kepada
Allah dan penyembahan lain dari kepercayaan Arab. Itulah sebabnya maka kata
Allah hanya menunjuk kepada Allah saja sebagai Tuhan yang tidak disekutukan oleh
para Ahnaf, Nazarean, dan Esenes. Masyarakat pagan Arab adalah masyarakat yang
terkontaminasi kepercayaan nenek moyang, hingga mereka menempatkan ilah-ilah
lain selain Allah, sepert Uzza, lata, dan Manat. Itulah sebabnya maka nama-nama
mereka pun mencerminkan kepercayaan mereka, ada Abd Syams
(hamba/penyembah matahari), ada Abdul
Uzza (hamba uzza), dan ada juga Abdullah (hamba Allah). Maka nama
Abdullah (ayah Nabi) merujuk pada nama Allah seperti yang disembah oleh para
Ahnaf pengikut ajaran Ibrahim.
Ajaran
monoteisme yang
diajarkan oleh Nabi Ibrahim yang sudah islam (pasrah kepada Allah saja) kini
dipertegas lagi oleh kenabian Muhammad, dengan menghancurkan seluruh
kepercayaan lama yang menyimpang dari ajaran
Ibrahim. Hal yang sama dilakukan oleh Yahya As. dan Isa As. yang ingin
membersihkan ajaran Musa As. dan Ibrahim As. serta nabi-nabi bani Israel
sebelumnya. Maka tidak mengherankan jika kedua nabi yang hidup sezaman mendapat
pertentangan dari Yahudi dari sekte Saduki dan Parisi, hingga menyebabkan
kematian YahYa dan penganiayaan terhadap Isa As. dan pengikut
keduanya.
Monoteisme
yang diajarankan oleh
Ibrahim dan dilestarikan oleh keturunannya hingga masa Yesus, ketika dipegang
oleh orang-orang Romawi -yang tentu saja bukan dari
keturunan
Ibrahim- ternyata melenceng dari tradisi yang sudah dipegang selama
berabad-abad oleh keturunan Ibrahim. Hal ini dapat dimaklumi bahwa masyarakat
Romawi yang tidak memiliki tradisi keluarga monoteis seperti bangsa Yahudi masih
dipenuhi pemikiran filsafat helenisme dan kepercayaan pagan.
Anggapan bahwa
Yesus adalah `anak' tuhan pada awalnya, ditambah Paulus dengan menempelkan
sifat-sifat ketuhanan pada Yesus untuk kemudian menjadi bentuk imajener
Kristus. Hal ini
tergambar dalam ajaran Gereje Paulus yang berbicara tentang "Tuhan Bapak" dan
"Anak Tuhan". Masyarakat Romawi dan Yunani yang empunya
Filsafat Helenisme segera saja menerima ajaran Paulus, karena pandangan mereka
tentang ketuhanan adalah Tripartite (tiga keberadaan). Mereka tinggal
menambahkan satu unsur saja yaitu Roh Qudus agar bisa selaras dengan pandangan
mereka tentang tuhan. Karen Armstrong (A History of God) yang mengutip
pernyataan tokoh pemikir Trinitas abad IV (Gregory of Nazianzus) menceritakan
bagaimana masalah masuknya Roh Kudus dalam jajaran Trinitas yang diperkenalkan
pada abad ke N telah menimbulkan banyak permasalahan.8
Kepercayaan
masyarakat Romawi terhadap dewa-dewi saat itu amatlah kental hingga 2 misionaris, Paulus dan Barnabas
dianggap sebagai dewa seperti yang tergambar dalam Perjanjian Baru
:
:"... Tatkala orang banyak nampak
perbuatan Paulus itu, mereka itupun mengangkat svaranya sambil berkata dengan
bahasa Likaonia: ..Dewa-dewa telah turun kepada kita menjelma menjadi manusia.
Lalu digelarkannya Barnabas itu Zius, tetapi Paulus Itu Hermes, sebab ialah
pemberita yang utama. "(Kisah
Rasul-Rasul 14:11-12).
Kini, sangat
disayangkan bahwa pada saat manusia modern melihat paganisme sebagai
hal yang dikesampingkan dan tahayyul, otoritas Gereja malah semakin getol
mempertahankan penodaan
monoteisme dengan kepercayaan peradaban kuno yang sering memandang dewa-dewa
sebagai "tiga keberadaan".9 Logika manapun tidak akan
sampai pada pernyataan bahwa tiga adalah satu, atau satu adalah tiga. Apalagi
salah satu dari ketiganya adalah dilahirkan oleh seorang wanita dan memakan
makanan. Memang agak rumit, umat Kristen percaya bahwa Tuhan itu satu, tapi pada
saat yang sama mereka percaya 100% bahwa Yesus adalah Tuhan, sama percayanya
bahwa Yesus juga 100% manusia.
Ajaran Ibrahim
(monoteisme) yang
dipertahankan oleh keturunannya dari keluarga Ya'kub bin Ishaq (bangsa Yahudi)
dan Ismail (bangsa Arab) adalah ajaran yang hak, sebab pada dasarnya manusia
akan mengatakan bahwa Tuhan itu satu. Terbukti masyarakat yang pada sekian abad
lalu tidak mampu menalar, masyarakat modern menganggap paham paganisme adalah
kemunduran akal. Namun demikian kenapa justru yang mengaku keturunan Ibrahim
mengatakan tentang Tuhan dengan hal-hal yang tidak selayaknya untuk dikatakan
terhadapNya. Padahal bangsa Yahudi hingga saat ini masih berpaham monoteisme,
walaupun mereka bersikap kejam terhadap Penganut ajaran Ibrahim lainnya yaitu
umat Islam. Allah terbebas dari segala apa yang mereka sekutukan.
Buku
The
Islamic Invasion dibuka
dengan "Sekapur sirih"10 Robert Morey menulis antara lain :
"Dunia penuh dengan kekusutan ruhani
dan kebenaran.
Ada banyak kondisi dan cara dimana kita
melenceng tanpa mengetahui betul-betul bahwa kita ini tersesat. Al - Kitab
mengungkapkan betapa canggihnya si penyesat ketimbang manusia yang disesatinya:
"Iblispun menyamar sebagai malaikat terang. "
Tetapi, 2000 tahun yang lalu, hal ini telah
diperingatkan oleh Yesus:
' .....akan datang saatnya bahwa
setiap orang yang
membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. " (Yohanes,16:
l)
Menyimak ayat
Bibel, Yohanes,16: 2
sebagaimana tersebut diatas, bagi orang yang paham tentang sejarah awal umat
Kristiani, bahwa ucapan Yesus tersebut justru ditujukan kepada Paulus dan
pengikutnya yang telah membunuh pengikutpengikut setia Yesus.
Umat Kristiani
menyangka bahwa ia (Paulus) berbuat bakti bagi Allah, sehingga dia diangkat sebagai
Bapak Gereja sedunia. Padahal dialah orang pertama yang menodai ajaran Yesus.
Robert Morey melanjutkan tulisannya.
"Itulah ciri-ciri dunia yang kehilangan tolok hakiki: alasan
aktual don nurani kejujuran. Yang ramai adalah kesemuan yang membonceng
kesejatian. Kembali ini diperingatkan oleh Yesus bahwa sijahat selalu menaburkan
benih lalang di fengah-tengah benih gandum. Keduanya lalu tumbuh bersama, sulit
dibedakan, sulit di cabufi satu terhadap yang lainnya." (Matius,13 :
24-30).
Maka
menjamurlah alasan, fakta clan keadilan "tandingan" antara
gandum clan lalang.
Siapakah
penabur benih lalang sebagaimana disinyalir oleh Yesus yang tercantum dalam Matius,l3
:24-30, itu? Tidak lain dia adalah Paulus, seorang pengkhianat yang menyusup
seolaholah menjadi murid Yesus. Kemudian mengadakan kudeta terhadap ajaran
Yesus, dan mendirikan agama yang dia beri nama Kristen, pada tahun 40 Masehi di
kota
Antiokhia.
Simaklah informasi Bibel dibawah
ini:
"Mereka tinggal bersama-sama dengan
jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah
murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen." (Kisah Para Rasul, 11
:26)
Secara jujur, marilah kita
perbandingkan:
1. Agama yang dibawa Yesus
(Nabi Isa a.s.), bernama agama Nasrani. Nasrani dari kata Nasaret, yaitu nama
sebuah desa tempat kelahiran Yesus.
Ajaran agama Nasrani antara
lain:
a. Yesus dikhitan pada umur 8 hari
b. Yesus meninggal dunia diberi kain
kafan.
c. Yesus tidak minum khamr (minuman keras).
d. Yesus tidak makan babi.
e. Yesus tidak makan darah.
f. Yesus adalah utusan Allah.
c. Yesus tidak minum khamr (minuman keras).
d. Yesus tidak makan babi.
e. Yesus tidak makan darah.
f. Yesus adalah utusan Allah.
Pengikut Yesus
disebut kaum Khawariyun yaitu yang kemudian disebut kaum Nazarean
(Nasrani) kemudian Unitarian dan habis dibantai oleh para pengikut Paulus dengan
penjagalan yang disebut "lembaga Inkuisisi".
2. Agama yang dikembangkan
oleh Paulus disebut agama Kristen, dilahirkan pada tahun 40 Masehi di
kota
Antiokia.
Diantara
ajarannya adalah:
a. Khitan tidak perlu.
b. Meningggal dunia berpakaian
pengantin.
c. Khamr (minuman keras)
halal.
d. Babi halal.
e. Darah halal.
f. Yesus adalah Tuhan (oknum ke-2
dalam doktrin Trinitas).
Pengikut Paulus
disebut kaum Kristiani. Dengan uraian tersebut di atas, hendaknya para pembaca
dengan cermat bisa membedakan antara agama Nasrani yang dibawa oleh Yesus (Nabi Isa
a.s.), dan agama Kristen yang dibawa oleh Paulus, orang yang membunuhi
pengikut-pengikut setia Yesus.
Maka jelas
sekali, yang dimaksud
oleh Yesus dalam ayat Bibel, Matius, 13: 24-30, tidak lain adalah
Paulus.
Selanjutnya
para pembaca juga harus cermat membedakan bahwa agama Nasrani yang dibawa Yesus (Nabi Isa a.s.)
disebut agama Samawi atau agama Langit, namun agama Kristen yang dibawa oleh
Paulus, tidak bisa disebut agama Samawi atau agama Langit. Kristen adalah agama
bumi karena hasil olahan Paulus yang ayahnya orang Romawi clan ibunya orang
Yahudi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar